Seperti Ini
Jika seseorang bertanya
"Seperti apakah keindahan yang sempurna itu?"
Tunjukkan wajahmu padanya, lalu ucapkan
Seperti ini
Jika seseorang bertanya
"Seperti apakah bentuk bulan purnama?"
Panjatlah atap tertinggi, lalu berteriaklah lantang
Seperti ini
Jika seseorang bertanya
"Seperti apakah sayap bidadari itu?"
tersenyumlah kepadanya
Jika ia bertanya tentang aroma surga
Peluklah ia rapat-rapat, biarkan wajahnya
membusai rambutmu,
Seperti ini
Jika seseorang bertanya
"Bagaimana Isa menghidupkan orang mati?"
Jangan ucapkan apa-apa kepadanya walau
hanya sepatah kata–
Ciumlah pipinya dengan lembut,
Seperti ini
Jika seseorang bertanya
"Bagaimana rasanya terbunuh cinta?"
Pejamkan matamu, lalu sobeklah bajumu
Katakan padanya,
Seperti ini
Jika seseorang bertanya tentang rupaku
Tengadahkan wajahmu, lalu pandanglah
angkasa dengan matamu lebar terbuka
Seperti ini
Sesungguhnya jiwa memasuki satu jiwa lalu
jiwa lainnya
jika ia masih meragukannya pula
Masuklah dirimu ke rumahku
lalu ucapkan selamat tinggal kepadanya
Seperti ini
Kapan pun seorang pencinta mengisakkan tangisannya
Ia kisahkan kembali cerita kita
Dan Tuhan menekurkan kepala-Nya
mendengarkan
Seperti ini
Aku seperti gudang penyimpan harta berharga
Aku serupa dengan kepedihan pengingkaran pada diri
Agar kau bisa melihatku, arahkan
pandangmu lebih rendah, ke tanah
Lalu pandanglah surga
Seperti ini
Hanya angin sepoi saja yang mengetahui
rahasia penyatuan
Dengarkanlah suara lembutnya
membisikkan satu lagu bagi setiap hati
Seperti ini
Jika seseorang bertanya
"Bagaimana seorang pelayan akan dapat
meraih rahmat Tuhan?
menjadi lilin yang bersinar hingga terlihat setiap orang?"
Seperti ini
Aku juga ditanya tentang aroma tubuh Yusuf
yang memperjalankannya dari satu kota ke kota lainnya
Itulah aroma tubuhmu
yang ditiupkan Tuhan dari dunia-Nya yang sempurna
Seperti ini
Aku ditanya lagi tentang aroma tubuh Yusuf
yang membuka mata dan penglihatan yang buta
Itulah tiupan-mu
yang menyapu kegelapan dan menjernihkan
pandangan mataku
Seperti ini
Mungkin Syams akan lebih dermawan
Mengisi relung-relung hati kita dengan cinta
Mungkin ia akan menaikkan satu lengkung alisnya
dan melempar kita dengan satu lirikannya
Seperti ini
Jangan lagi kita percakapkan malam!
Pada lintasan hari-hari kita malam tak pernah singgah
Pada agama Cinta kita
tak ada agama dan tak ada cinta
Cinta ialah lautan Tuhan yang tak bertepi
Namun, alangkah mengherankan,
Ribuan jiwa tenggelam dalam lautan itu dan
berteriak lantang
"Tuhan tidak ada!"
Wahai mata, gosokkan kemejamu dalam darah
Wahai jiwa, gantungkan baju-bajumu pada
roda kehidupan dan kematian
Wahai lidah, biarkan Pencinta menyanyi
Wahai telinga, mabuklah oleh nyanyian-Nya
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Jalan Menuju Cinta (Terompah, 2000) oleh Asih Ratnawati yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari buku In the Arms of the Beloved (Tarcher, 1997) oleh Jonathan Star.
Analisis Puisi:
Puisi “Seperti Ini” merupakan salah satu karya Jalaluddin Rumi yang menampilkan kekhasan puisi-puisi sufistiknya: bahasa sederhana, repetitif, namun mengandung lapisan makna yang sangat dalam. Dalam terjemahan bahasa Indonesia yang dihimpun oleh Asih Ratnawati, puisi ini terasa seperti dialog batin antara pencinta dan Yang Dicintai, antara manusia dan Tuhan, antara kata dan pengalaman spiritual yang melampaui kata.
Sejak baris pertama, Rumi mengajak pembaca untuk meninggalkan penjelasan rasional dan beralih pada gestur, tindakan, dan pengalaman langsung. Setiap pertanyaan dijawab bukan dengan definisi, melainkan dengan tindakan simbolik yang diakhiri dengan frasa yang berulang: “Seperti ini.” Repetisi ini bukan sekadar gaya bahasa, melainkan penegasan bahwa hakikat cinta dan keindahan tak bisa dijelaskan, hanya bisa dialami.
Tema Puisi
Tema utama dalam puisi ini adalah cinta ilahiah dan penyatuan jiwa dengan Tuhan. Cinta di sini tidak dipahami sebagai emosi romantis semata, melainkan sebagai daya kosmik yang menggerakkan seluruh keberadaan. Rumi memandang cinta sebagai jalan spiritual, bahkan sebagai “agama” itu sendiri—sebuah jalan yang melampaui simbol, aturan, dan dogma formal.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketakterucapkan, yakni keterbatasan bahasa manusia dalam menjelaskan pengalaman spiritual. Karena itu, Rumi memilih isyarat tubuh, sentuhan, tangisan, keheningan, dan pengorbanan sebagai media penyampaian makna.
Puisi ini bercerita tentang upaya manusia menjawab pertanyaan-pertanyaan terdalam mengenai keindahan, surga, mukjizat, cinta, dan Tuhan. Namun, alih-alih memberi jawaban konseptual, penyair justru mengarahkan pembaca pada pengalaman langsung: menunjukkan wajah, memeluk, mencium, menangis, bahkan merobek baju.
Rumi menggambarkan bahwa hakikat cinta dan kehadiran Tuhan tidak bisa dijelaskan kepada orang yang masih berada di ranah logika semata. Hanya mereka yang berani “masuk ke rumahku” — metafora untuk pengalaman batin dan penyerahan diri — yang akan benar-benar memahami. Bahkan ketika seseorang masih meragukan penyatuan jiwa, Rumi menyarankan satu hal radikal: tinggalkan keraguan itu, dan masuklah sepenuhnya ke dalam pengalaman cinta.
Puisi ini juga memuat kisah-kisah simbolik dari tradisi Islam, seperti mukjizat Nabi Isa dan kisah Nabi Yusuf, yang semuanya ditafsirkan sebagai metafora cinta dan kehadiran ilahi yang menghidupkan, menyembuhkan, dan menerangi kegelapan batin.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini sangat kuat: Tuhan tidak ditemukan melalui perdebatan, melainkan melalui cinta yang total. Ketika Rumi berkata bahwa ribuan jiwa tenggelam dalam lautan Tuhan namun berteriak “Tuhan tidak ada”, ia sedang mengkritik cara manusia yang terlalu sibuk berpikir, menilai, dan menamai, sehingga gagal mengalami kehadiran Tuhan itu sendiri.
Frasa “Seperti ini” berfungsi sebagai penutup setiap pengalaman spiritual yang tak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa biasa. Ia menandai titik di mana kata-kata berhenti dan pengalaman dimulai. Dengan kata lain, puisi ini menyiratkan bahwa kebenaran tertinggi hanya bisa dirasakan, bukan didefinisikan.
Selain itu, terdapat makna kerendahan hati: untuk melihat Rumi—atau Tuhan—seseorang justru diminta mengarahkan pandangannya ke tanah, lalu melihat surga. Ini menyiratkan bahwa jalan menuju yang ilahi justru melalui kerendahan diri dan kesadaran akan kefanaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menjalani cinta secara total dan otentik, tanpa takut kehilangan diri, reputasi, atau logika. Rumi mengingatkan bahwa cinta sejati menuntut keberanian untuk “terbunuh cinta”, yakni meleburkan ego dan identitas lama demi mengalami kebenaran yang lebih tinggi.
Puisi ini juga menyampaikan pesan agar manusia berhenti terlalu banyak berbicara tentang Tuhan, malam, atau cinta, dan mulai mengalami kehadiran-Nya. Ketika lidah berhenti mendominasi dan telinga mulai “mabuk oleh nyanyian-Nya”, di situlah pengalaman spiritual sejati terjadi.
Puisi ini bukanlah puisi yang meminta pembaca untuk memahami, melainkan untuk merasakan. Ia bekerja bukan di tingkat nalar, tetapi di tingkat jiwa. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat simbol, Jalaluddin Rumi menunjukkan bahwa cinta, Tuhan, dan kebenaran tertinggi hanya bisa dijawab dengan satu cara: pengalaman langsung yang sunyi, intim, dan penuh penyerahan.
Dan ketika semua pertanyaan telah diajukan, semua definisi runtuh, dan semua keraguan luruh, yang tersisa hanyalah satu jawaban yang sama, berulang, dan abadi: Seperti ini.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.