Puisi: Sisa-Sisa Senja (Karya Alizar Tanjung)

Puisi “Sisa-Sisa Senja” karya Alizar Tanjung bercerita tentang seseorang yang telah menjelajahi banyak tempat dan pengalaman, digambarkan melalui ...
Sisa-Sisa Senja

sudah cukup luas
kuaruungi lautan, memetik samudera,
memilih pulau di antara pulau,
singgah dan berlalu. asin laut begitu pula
dalam basah dan kering bersatu dalam
lidahku. rasa tak pernah menipu.

alam telah terlebih dahulu bersyair
di dermaga keberangkatan, di tunggul
ikab nesi
tapi halaman begitu kosong.

aku lupa telah membawa
pena tak berdawat. ujungnya tumpul
dalam helaian. aku sudah hampir tutup halaman terakhir.
di sini hanya ada goresan batu yang karang, warna
arang tungku perapian.

kini dermaga
cahaya bewarna merah saga. senja yang mulai menggulung
benang hitam. burung-burung meninggalkan jejak
di abu kapal. Jiwa bersiazan masa lalu. Di jendela
pujangga tinggal melepas gagang. dan di halaman,
yang terbaca suara-suara kosong. Jejak, beku. Gerak mengaji
angka kematian.

di pintu aku berjalan bungkuk
menuju kamar tidur.

di waktu ini aku ingin kembali
membaca laut, pulau, samudera
sampai tidurku.

Padang, 13 Mei 2009

Analisis Puisi:

Puisi “Sisa-Sisa Senja” karya Alizar Tanjung merupakan puisi perenungan yang panjang, berlapis, dan sarat simbol. Penyair menghadirkan perjalanan fisik sekaligus batin seseorang yang telah menempuh banyak ruang—laut, pulau, samudera—namun justru sampai pada kesadaran akan kekosongan, kelelahan, dan sisa-sisa hidup yang mendekati senja.

Puisi ini bergerak perlahan, seperti gelombang yang terus datang, tetapi semakin melemah. Bahasa yang digunakan padat, fragmentaris, dan cenderung reflektif, menandai pergulatan antara pengalaman, ingatan, dan keterbatasan bahasa itu sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup, kelelahan eksistensial, dan kesadaran akan kefanaan. Puisi ini juga mengandung tema pencarian makna, keterbatasan bahasa dan karya, serta hubungan manusia dengan waktu yang terus menuju akhir.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah menjelajahi banyak tempat dan pengalaman, digambarkan melalui metafora laut, samudera, dan pulau. Ia singgah dan berlalu, mencicipi rasa asin kehidupan yang dianggap jujur dan tak menipu.

Namun, ketika sampai pada ruang penciptaan—halaman dan pena—penyair justru mendapati kekosongan. Pena tumpul, halaman hampir habis, dan yang tersisa hanyalah goresan kasar seperti batu karang dan arang tungku. Di bagian akhir, senja menggulung gelap, burung-burung pergi, dermaga menjadi sunyi, dan penyair berjalan bungkuk menuju kamar tidur, memilih kembali “membaca” laut hingga tertidur.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan kegelisahan seorang subjek yang merasa pengalaman hidupnya sangat luas, tetapi tak seluruhnya bisa diungkapkan atau dituliskan. Bahasa menjadi terbatas, karya menjadi tertunda, dan waktu semakin mendesak.

Senja melambangkan fase akhir kehidupan atau masa kelelahan batin, sementara halaman yang kosong menyiratkan ketakmampuan manusia meninggalkan jejak makna yang utuh. Keinginan untuk kembali “membaca laut” hingga tidur menunjukkan sikap pasrah, menerima hidup sebagai pengalaman yang cukup dirasakan, bukan lagi harus dijelaskan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, lirih, dan kontemplatif. Ada nuansa lelah, sunyi, dan kesendirian yang kuat, terutama ketika senja mulai menggulung gelap dan gerak hidup mengarah pada kematian. Suasana ini tidak meledak-ledak, melainkan mengendap perlahan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa perjalanan hidup yang panjang tidak selalu berujung pada kejelasan atau kepenuhan makna. Manusia perlu menerima keterbatasan dirinya—baik dalam berkarya, mengingat, maupun memahami hidup. Dalam penerimaan itulah muncul ketenangan, meski hanya berupa sisa-sisa senja.

Puisi “Sisa-Sisa Senja” karya Alizar Tanjung merupakan puisi reflektif yang matang dan sunyi. Puisi ini tidak menawarkan jawaban, melainkan menghadirkan kesadaran akan sisa-sisa hidup, keterbatasan bahasa, dan keindahan yang tetap tinggal meski hari perlahan menuju malam.

Alizar Tanjung
Puisi: Sisa-Sisa Senja
Karya: Alizar Tanjung

Biodata Alizar Tanjung:
  • Alizar Tanjung lahir pada tanggal 10 April 1987 di Solok.
© Sepenuhnya. All rights reserved.