Analisis Puisi:
Puisi “Sisa-Sisa Senja” karya Alizar Tanjung merupakan puisi perenungan yang panjang, berlapis, dan sarat simbol. Penyair menghadirkan perjalanan fisik sekaligus batin seseorang yang telah menempuh banyak ruang—laut, pulau, samudera—namun justru sampai pada kesadaran akan kekosongan, kelelahan, dan sisa-sisa hidup yang mendekati senja.
Puisi ini bergerak perlahan, seperti gelombang yang terus datang, tetapi semakin melemah. Bahasa yang digunakan padat, fragmentaris, dan cenderung reflektif, menandai pergulatan antara pengalaman, ingatan, dan keterbatasan bahasa itu sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup, kelelahan eksistensial, dan kesadaran akan kefanaan. Puisi ini juga mengandung tema pencarian makna, keterbatasan bahasa dan karya, serta hubungan manusia dengan waktu yang terus menuju akhir.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah menjelajahi banyak tempat dan pengalaman, digambarkan melalui metafora laut, samudera, dan pulau. Ia singgah dan berlalu, mencicipi rasa asin kehidupan yang dianggap jujur dan tak menipu.
Namun, ketika sampai pada ruang penciptaan—halaman dan pena—penyair justru mendapati kekosongan. Pena tumpul, halaman hampir habis, dan yang tersisa hanyalah goresan kasar seperti batu karang dan arang tungku. Di bagian akhir, senja menggulung gelap, burung-burung pergi, dermaga menjadi sunyi, dan penyair berjalan bungkuk menuju kamar tidur, memilih kembali “membaca” laut hingga tertidur.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan kegelisahan seorang subjek yang merasa pengalaman hidupnya sangat luas, tetapi tak seluruhnya bisa diungkapkan atau dituliskan. Bahasa menjadi terbatas, karya menjadi tertunda, dan waktu semakin mendesak.
Senja melambangkan fase akhir kehidupan atau masa kelelahan batin, sementara halaman yang kosong menyiratkan ketakmampuan manusia meninggalkan jejak makna yang utuh. Keinginan untuk kembali “membaca laut” hingga tidur menunjukkan sikap pasrah, menerima hidup sebagai pengalaman yang cukup dirasakan, bukan lagi harus dijelaskan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, lirih, dan kontemplatif. Ada nuansa lelah, sunyi, dan kesendirian yang kuat, terutama ketika senja mulai menggulung gelap dan gerak hidup mengarah pada kematian. Suasana ini tidak meledak-ledak, melainkan mengendap perlahan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa perjalanan hidup yang panjang tidak selalu berujung pada kejelasan atau kepenuhan makna. Manusia perlu menerima keterbatasan dirinya—baik dalam berkarya, mengingat, maupun memahami hidup. Dalam penerimaan itulah muncul ketenangan, meski hanya berupa sisa-sisa senja.
Puisi “Sisa-Sisa Senja” karya Alizar Tanjung merupakan puisi reflektif yang matang dan sunyi. Puisi ini tidak menawarkan jawaban, melainkan menghadirkan kesadaran akan sisa-sisa hidup, keterbatasan bahasa, dan keindahan yang tetap tinggal meski hari perlahan menuju malam.
Karya: Alizar Tanjung
Biodata Alizar Tanjung:
- Alizar Tanjung lahir pada tanggal 10 April 1987 di Solok.