Sucikan Tubuh dengan Gaya Berpakaian
Wahai kaum hawa
dengar seruan ini
pusar terbuka, belahan dada
menganga lebar
Di layar sosmed, tubuh jadi
pajangan
Kesucian pudar, harga diri
tercerai-berai
Tren datang bagai angin kencang menerpa
Gaun tipis menari, godaan merajalela
Pusar telanjang, belahan dada mengintip
Jiwa terluka, martabat pun tercecer
Dunia nyata pun ikut terjerumus
Langkah bergaya, tapi aurat terbuka lebar
Layar ponsel jadi panggung dosa
Tubuh suci kini jadi barang dagang
Mengapa tak kendalikan nafsu tren itu?
pakaian ringan bagaikan ular licin
Menelan harga diri
meninggalkan noda
Wanita mulia, bangun dari mimpi buruk
Sucikan tubuhmu dengan
kain penutup teguh
Pusar lindungi, dada rapatkan rapat
bukan ikut arus, tapi jadi benteng diri
kesucian kembali, harga diri menjulang
Teguran ini keras
seperti petir menyambar
jangan biarkan tren
rusak jiwa indah
berpakaian sopan, itulah
gaya sejati
tubuh suci berseri, hati pun tenang
kaum hawa bangkit
pegang kendali nafsu
sucikan tubuh, jaga aurat dengan tegar
tren boleh datang, tapi iman lebih kuat
harga diri abadi, kesucian selamanya
2026
Analisis Puisi:
Puisi “Sucikan Tubuh dengan Gaya Berpakaian” karya Aprianus Gregorian Bahtera menyuarakan teguran moral kepada kaum wanita mengenai pentingnya menjaga kesucian dan harga diri melalui cara berpakaian. Penyair menyoroti pengaruh tren sosial dan media digital yang membuat tubuh wanita menjadi sorotan, sekaligus membahayakan martabat dan keutuhan diri. Puisi ini memiliki nada ajakan sekaligus peringatan yang tegas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesadaran dan perlindungan diri melalui cara berpakaian yang sopan, dengan fokus pada nilai kesucian, harga diri, dan kendali diri dalam menghadapi tren sosial. Puisi juga menyinggung dampak media sosial terhadap perilaku dan persepsi masyarakat.
Puisi ini bercerita tentang pengaruh tren pakaian dan media sosial terhadap kaum wanita, di mana tubuh sering dijadikan sorotan atau “pajangan”, sehingga kesucian dan harga diri terancam. Penyair mengajak wanita untuk kembali menegakkan kendali diri, menjaga aurat, dan memilih berpakaian sopan sebagai bentuk perlindungan diri dan martabat.
Makna Tersirat
Beberapa makna tersirat dalam puisi:
- Media sosial dan tren bisa merusak nilai diri – tubuh yang dipamerkan secara bebas dapat mengikis kesucian dan martabat.
- Kendali diri sebagai kekuatan – wanita diharapkan bisa menahan godaan tren dan menjaga diri.
- Pakaian sebagai simbol kesucian dan harga diri – cara berpakaian yang sopan menjadi “benteng diri” dari kerusakan moral.
- Kesucian bersifat abadi jika dijaga – iman dan kendali diri lebih penting daripada mengikuti arus sosial.
Puisi menyiratkan pentingnya kesadaran pribadi dalam menghadapi tekanan sosial dan budaya populer.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa tegas, waspada, dan penuh peringatan. Nada ajakan dan teguran menciptakan kesan urgensi, seolah penyair menegur sekaligus membimbing pembaca agar sadar akan bahaya tren yang menipu.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa kaum wanita harus menjaga kesucian dan harga diri melalui berpakaian sopan, mengendalikan nafsu, dan tidak terjebak tren yang merusak martabat. Puisi menekankan bahwa iman dan kendali diri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti mode.
Puisi “Sucikan Tubuh dengan Gaya Berpakaian” menekankan pentingnya kendali diri, kesucian, dan martabat wanita di tengah arus tren sosial dan media digital. Aprianus Gregorian Bahtera menyampaikan pesan moral dengan nada tegas dan imaji yang kuat, mengingatkan bahwa pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga benteng harga diri. Puisi ini mengajak wanita untuk bijak memilih gaya berpakaian, menjaga kesucian, dan menegakkan martabat di era modern yang sarat godaan.
