Puisi: Sukmaku (Karya F. Rahardi)

Puisi “Sukmaku” karya F. Rahardi bercerita tentang seseorang yang merasa sukmanya “kena flu.” Penyakit ini disebut berbahaya dan gawat, sehingga ia ..
Sukmaku

sukmaku kena flu
berbahaya
berbahaya sekali
tatkala aku datang
pada seorang polisi
guna menanyakan hal itu
dia membentak
sukmaku pingsan
dan ini gawat
aku memanggil pastor

tatkala pastor itu kupanggil
dan segera mau kusembelih
dia melotot
padahal demi sukma
demi sukma
sukma
aduh

sukmaku yang flu
akhirnya kuserahkan pada seorang
lonte
terserah
pokoknya dapat beres
sukmaku.

1975

Sumber: Horison (November-Desember, 1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Sukmaku” karya F. Rahardi adalah sajak pendek yang satir, absurd, dan mengguncang. Dengan gaya yang lugas dan repetitif, penyair menghadirkan “sukma” (jiwa) sebagai sesuatu yang sakit, rapuh, dan diperlakukan secara ironis oleh berbagai institusi sosial. Puisi ini tampak sederhana, tetapi sarat kritik dan humor gelap.

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis spiritual dan kegagalan otoritas sosial dalam menyembuhkan kegelisahan batin manusia. Penyair mengangkat kondisi “sukma” yang sakit sebagai simbol kegelisahan eksistensial.

Tema lain yang kuat adalah satir terhadap institusi—polisi, pastor, bahkan moralitas sosial—yang justru tampak absurd dalam menghadapi persoalan jiwa.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa sukmanya “kena flu.” Penyakit ini disebut berbahaya dan gawat, sehingga ia mencoba mencari pertolongan.

Ia mendatangi seorang polisi untuk menanyakan hal itu, tetapi justru dibentak hingga sukmanya “pingsan.” Kemudian ia memanggil pastor, tetapi dalam absurditas yang ekstrem, pastor itu hendak “kusembelih”—yang tentu saja menghadirkan kejutan satir.

Pada akhirnya, sukmanya diserahkan kepada “seorang lonte” dengan sikap pasrah: “terserah / pokoknya dapat beres / sukmaku.”

Alur ini bergerak dari otoritas hukum, ke otoritas agama, hingga ke wilayah yang dianggap amoral—semuanya dalam nada ironi.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap pencarian solusi instan bagi persoalan batin. “Sukmaku kena flu” adalah metafora tentang jiwa yang sakit—mungkin karena tekanan sosial, moral, atau spiritual.

Ketika mendatangi polisi, responsnya adalah bentakan. Ini menyiratkan bahwa kekuasaan hukum tidak mampu menyembuhkan krisis batin. Pastor pun tidak menjadi solusi yang tulus; bahkan adegan “mau kusembelih” menghadirkan ironi tentang kekerasan atas nama spiritualitas.

Penyerahan sukma pada “lonte” bisa dibaca sebagai sindiran: ketika institusi formal gagal, manusia bisa saja mencari pelarian pada kenikmatan instan atau hal-hal yang dianggap tabu.

Puisi ini menyoroti absurditas masyarakat dalam menangani problem spiritual.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung satir, ironis, dan absurd. Ada humor gelap yang muncul dari repetisi “berbahaya / berbahaya sekali” serta pengulangan kata “sukma.”

Namun di balik humor itu, terasa kegelisahan yang nyata—jiwa yang sakit dan tidak menemukan tempat berobat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai peringatan bahwa krisis batin tidak bisa diselesaikan hanya dengan otoritas eksternal. Hukum, agama, atau pelarian instan tidak otomatis menyembuhkan jiwa yang sakit.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk menyadari bahwa masyarakat sering kali tidak siap menangani persoalan spiritual secara serius.

Puisi “Sukmaku” karya F. Rahardi memperlihatkan kekuatan puisi pendek dalam menyampaikan kritik sosial dan spiritual. Dengan gaya yang ringan namun menggigit, penyair menampilkan jiwa yang sakit di tengah masyarakat yang tidak tahu cara merawatnya.

Puisi ini mungkin membuat pembaca tersenyum karena absurditasnya, tetapi sekaligus merenung: ketika sukma benar-benar “flu”, kepada siapa sebenarnya kita harus pergi?

Floribertus Rahardi
Puisi: Sukmaku
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.