Puisi: Tanah Lot (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Tanah Lot” karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang berada di Tanah Lot, menyaksikan ombak, camar, ....
Tanah Lot

ombak yang meludah
meniti gigir cadas
camar yang sendiri
penyap pada warna pagi
sepasang turis
sepasang bibir
di muka gapura candi
seekor anjing kumal
melintas

tak lagi kutemukan Kau
hanya warna pagi
muram

dengan lutut gemetar aku bertamu
ke sebuah kafe tepi pantai
seorang ibu menyeduhkan kopi untukku
aku terkenang si penyair tua itu
yang menulis puisi pada sebongkah cadas
di laut lepas
yang merasa jantungnya tertanam
dan tumbuh diantara bunga pandan

sepasang turis
dengan raut kusut
perlahan masuk
ke mulut ombak
waktu merambat
liat dan lambat

2000

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Tanah Lot” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan lanskap Bali bukan sebagai objek wisata yang riuh, melainkan sebagai ruang kontemplasi yang sunyi dan muram. Tanah Lot, yang selama ini dikenal sebagai ikon pariwisata dan spiritualitas, dihadirkan dalam puisi ini melalui potongan-potongan adegan sederhana, lirih, dan penuh perasaan kehilangan. Penyair seperti menempatkan dirinya di antara alam, manusia, dan ingatan—tanpa kepastian, tanpa jawaban tegas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan rasa kehilangan di tengah lanskap alam yang sakral namun terasing. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kesunyian, keterasingan, dan ketegangan antara spiritualitas dengan realitas pariwisata.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang berada di Tanah Lot, menyaksikan ombak, camar, turis, dan kehidupan sekitar, sambil merasakan kegamangan spiritual. Kehadiran “sepasang turis”, kafe tepi pantai, dan anjing kumal disandingkan dengan pencarian akan “Kau” yang tak lagi ditemukan, menandakan pergeseran makna tempat sakral dalam dunia modern.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap hilangnya kedalaman spiritual di ruang-ruang yang telah dikuasai rutinitas dan pariwisata. Tanah Lot tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat perjumpaan dengan Yang Ilahi, melainkan lokasi yang menyisakan kehampaan batin. “Tak lagi kutemukan Kau” menegaskan jarak antara manusia dan yang disucikannya, meskipun berada di tempat yang dianggap keramat.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung sunyi, muram, dan reflektif. Warna pagi yang muram, waktu yang “liat dan lambat”, serta gerak yang perlahan menciptakan nuansa keheningan yang berat, seolah waktu sendiri enggan bergerak maju.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan amanat agar manusia tidak kehilangan kepekaan batin terhadap makna spiritual suatu tempat, meskipun ruang tersebut telah berubah oleh zaman. Kesakralan tidak otomatis hadir karena lokasi, melainkan karena kesadaran dan keheningan dalam diri.

Puisi “Tanah Lot” karya Wayan Jengki Sunarta tidak merayakan keindahan Tanah Lot secara gemerlap, melainkan mengajaknya menjadi ruang perenungan. Di tengah ombak, turis, dan waktu yang lambat, puisi ini menyimpan kegelisahan tentang hilangnya perjumpaan batin dengan yang sakral. Sebuah puisi yang sunyi, jujur, dan mengajak pembaca berhenti sejenak untuk mendengar suara yang kerap terabaikan.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Tanah Lot
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.