Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai
Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti
setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang memalukan
di hadapan-Nya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit
dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari
Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi
demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah
dan betapa menderitanya Keterpisahan dengan-Nya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan
Lihatlah pepohonan ini! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan
Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam
kepedihan?
Sang lili berbisik pada kuncup: "Matamu yang menguncup
akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan
bagaimana Nikmatnya Kebaikan."
Di manapun, jalan mencapai Kesucian Hati
adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban "YA" dalam
pertanyaan:
"Bukankah Aku ini Rabbmu?"
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Nyanyian Seruling dan Jalan Tasawuf (Sega Arsy, 2014) yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari puisi-puisi Sufistik karya Jalaluddin Rumi.
Analisis Puisi:
Puisi
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.