Tidur terhadap Dunia
Setiap malam Kau bebaskan ruh kami dari jerat tubuh
dan Kau hapus seluruh kenangan dari ingatan.
Setiap malam ruh kami bebas dari sangkar ini, selesailah
sudah segala pertemuan, bincang-bincang dan kisah.
Di malam hari para tahanan melupakan penjaranya, di
malam hari para pembesar pun melupakan
kekuasaannya.
Tiada duka, pertimbangan untung maupun rugi, gagasan
orang ini ataupun orang lain.
Demikianlah keadaan orang Sufi, sekalipun dia tak lagi
tidur: Tuhan berfirman, "(Kau tentu mengira mereka itu
bangun) padahal mereka itu tidur."
Dia tertidur, siang dan malam, terhadap urusan-urusan
dunia ini, bagai sebuah pena di tangan Tuhan.
Tuhan telah memperlihatkan sebagian keadaanya,
sedangkan orang yang kasar pun oleh tidur dapat
terbuai:
Ruh mereka masuk ke Hutan Belantara yang kata tak
sanggup mengucap, kata-kata, jiwa dan tubuh mereka
istirahat.
Hingga dengan sebuah siulan Kau panggil mereka kembali
ke jeratnya, membawa mereka kembali ke keadilan dan
pengadilan.
Di saat fajar, seperti Israfil, Dia memanggil mereka
kembali dari Sana ke dunia rupa.
Ruh-ruh yang tak berbentuk Dia tawan sekali lagi dan
menjadikan setiap tubuh sarat (dengan amal baik dan
buruk).
Catatan:
Puisi ini berasal dari buku Nyanyian Seruling dan Jalan Tasawuf (Sega Arsy, 2014) yang merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari puisi-puisi Sufistik karya Jalaluddin Rumi.
Analisis Puisi:
Puisi “Tidur terhadap Dunia” merupakan salah satu karya sufistik Jalaluddin Rumi yang menyingkap relasi antara manusia, ruh, dan Tuhan melalui pengalaman sehari-hari yang tampak sederhana: tidur. Namun, sebagaimana lazim dalam puisi-puisi Rumi, makna tidur di sini tidak berhenti pada aktivitas biologis, melainkan menjadi metafora spiritual tentang keterlepasan manusia dari dunia dan penyerahan total kepada kehendak Ilahi.
Puisi ini menghadirkan pandangan tasawuf yang khas: dunia dipahami sebagai “penjara” sementara bagi ruh, dan tidur menjadi momen ketika ikatan tersebut dilonggarkan oleh Tuhan. Dengan bahasa yang tenang, reflektif, dan penuh simbol, Rumi mengajak pembaca menengok kembali cara memandang hidup, kesadaran, dan tujuan keberadaan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterlepasan ruh dari dunia materi dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Rumi menempatkan tidur sebagai simbol pengalaman spiritual, yakni keadaan ketika manusia—sadar atau tidak—dibebaskan sementara dari beban ego, kuasa, duka, dan kepentingan duniawi.
Di dalam tema ini juga tersirat konsep tasawuf tentang fana (lenyapnya diri dalam kehendak Tuhan) dan baqa (kembali ke dunia dengan kesadaran Ilahi). Tidur bukanlah akhir, melainkan jeda yang menyingkap hakikat hidup yang lebih dalam.
Puisi ini bercerita tentang keadaan ruh manusia ketika malam tiba. Rumi menggambarkan bahwa setiap malam Tuhan membebaskan ruh dari “jerat tubuh”, menghapus ingatan, dan menghentikan seluruh pertemuan serta urusan duniawi. Pada saat itu, baik orang biasa maupun para pembesar sama-sama kehilangan kuasa dan identitas sosialnya.
Rumi kemudian mengaitkan kondisi ini dengan keadaan orang Sufi: mereka disebut “tidur terhadap dunia”, meskipun secara lahiriah tampak terjaga. Orang Sufi hidup dalam kepasrahan total, seperti pena di tangan Tuhan, bergerak sepenuhnya sesuai kehendak-Nya.
Puisi berlanjut dengan gambaran ruh yang memasuki “Hutan Belantara yang kata tak sanggup mengucap”, sebuah wilayah spiritual yang tak terjangkau bahasa dan logika. Pada akhirnya, ketika fajar tiba, Tuhan memanggil ruh-ruh itu kembali ke dunia rupa, mengikatnya kembali dengan tubuh dan amal perbuatannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini terletak pada pemahaman bahwa kesadaran sejati bukanlah kesibukan dunia, melainkan keterjagaan ruh terhadap Tuhan. Dunia, dengan segala hiruk-pikuknya, justru dapat membuat manusia “terjaga secara fisik tetapi tertidur secara spiritual”.
Rumi menyiratkan bahwa tidur mengajarkan kesetaraan dan kefanaan: pembesar dan tahanan sama-sama kehilangan kuasa saat tidur. Ini menjadi kritik halus terhadap kesombongan duniawi dan ilusi kekuasaan. Selain itu, puisi ini juga menegaskan bahwa hidup manusia sepenuhnya berada dalam genggaman Tuhan—ruh dibebaskan, dipanggil, dan dikembalikan sesuai kehendak-Nya.
Metafora Israfil yang meniup sangkakala saat fajar memperkuat makna eskatologis puisi ini: tidur menyerupai kematian kecil, sementara bangun menyerupai kebangkitan, pengadilan, dan penilaian amal.
Puisi ini menunjukkan kedalaman pemikiran Jalaluddin Rumi dalam memaknai pengalaman manusia yang paling sehari-hari sebagai jalan menuju kesadaran Ilahi. Melalui simbol tidur, ruh, dan panggilan Tuhan, Rumi mengajak pembaca untuk merenungkan ulang apa arti terjaga dan apa arti hidup.
Puisi ini tidak sekadar menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga membuka ruang kontemplasi: sejauh mana manusia benar-benar hidup, dan sejauh mana ia justru tertidur oleh dunia. Dalam konteks tasawuf, tidur terhadap dunia bukanlah kelalaian, melainkan bentuk kesadaran tertinggi—kesadaran bahwa segala sesuatu kembali dan berasal dari Tuhan.
Karya: Jalaluddin Rumi
Biodata Jalaluddin Rumi:
- Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair, ahli hukum, cendekiawan Islam, teolog, dan mistikus Sufi.
- Jalaluddin Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.
- Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 December 1273.