Puisi: Wajah Mereka (Karya Leon Agusta)

Puisi “Wajah Mereka” karya Leon Agusta bercerita tentang sekelompok orang yang hidup dalam ketakutan dan penghinaan, sehingga wajah mereka tampak ...
Wajah Mereka

Wajah mereka yang selalu takut memang tak indah
Wajah mereka yang selalu cemas memang tak bergairah
Tapi mereka bisa nekad tiba-tiba. Hukla
Wajah mereka yang selalu teraniaya memang tak bersemangat
Wajah mereka yang selalu terhina memang tak bercahaya
Tapi mereka bisa sangat ganas tiba-tiba. Hukla
Bila rampung segala doanya

1979

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Wajah Mereka” menampilkan potret manusia tertindas melalui repetisi frasa “wajah mereka”. Penyair menggambarkan kelompok sosial yang hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan penghinaan. Namun, di balik kondisi teraniaya itu tersimpan potensi perlawanan yang dapat meledak sewaktu-waktu. Dengan bahasa sederhana tetapi menghentak, puisi ini menyoroti psikologi massa yang lama ditekan.

Puisi ini bercerita tentang sekelompok orang yang hidup dalam ketakutan dan penghinaan, sehingga wajah mereka tampak tidak menarik, tidak bercahaya, dan tidak bersemangat. Mereka adalah korban kekuasaan atau struktur sosial yang menindas.

Namun penyair menekankan bahwa:
  • Mereka bisa “nekad tiba-tiba”
  • Mereka bisa “sangat ganas tiba-tiba”
Artinya, kelompok yang selama ini tampak lemah sebenarnya menyimpan potensi ledakan perlawanan.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dalam puisi ini:
  • Ketertindasan mengubah wajah manusia. Rasa takut dan hina membuat manusia kehilangan ekspresi hidup dan martabat.
  • Penindasan tidak pernah stabil. Orang yang terus-menerus ditekan bisa berubah menjadi pemberontak.
  • Doa sebagai ambang batas. Baris terakhir “Bila rampung segala doanya” menyiratkan bahwa kesabaran mereka ada batasnya; setelah harapan spiritual habis, aksi nyata bisa terjadi.
  • Kritik terhadap kekuasaan. Puisi ini secara implisit memperingatkan bahwa rezim atau struktur yang menindas sedang memupuk bahaya sosial.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Pesan yang dapat ditangkap:
  • Jangan meremehkan orang tertindas.
  • Ketidakadilan yang terus-menerus akan melahirkan kekerasan.
  • Martabat manusia harus dijaga agar tidak berubah menjadi kemarahan destruktif.
  • Kekuasaan perlu mawas diri terhadap penderitaan rakyat.
Puisi “Wajah Mereka” karya Leon Agusta merupakan potret tajam tentang manusia yang lama hidup dalam ketakutan dan penghinaan. Melalui repetisi dan kontras, penyair menunjukkan bahwa kaum tertindas bukan sekadar korban pasif, melainkan kekuatan laten yang dapat berubah menjadi ganas ketika batas kesabaran telah terlampaui.

Puisi ini menjadi peringatan sosial: wajah-wajah yang tampak lemah sering kali menyimpan sejarah luka—dan luka yang terlalu lama ditekan dapat menjelma menjadi ledakan.

Leon Agusta
Puisi: Wajah Mereka
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.