Sumber: Dalam Rimba Bayang-Bayang (2003)
Analisis Puisi:
Puisi “Waktu” menghadirkan perenungan filosofis tentang relasi manusia dengan waktu. Penyair menggunakan metafora berlapis untuk menggambarkan perubahan cara pandang terhadap waktu—dari sesuatu yang menekan dan penuh kecemasan menjadi lanskap luas yang justru membebani manusia dengan tugas menatanya. Puisi ini bernuansa reflektif dan eksistensial.
Tema
Tema utama puisi ini adalah relasi manusia dengan waktu dan kejenuhan eksistensial dalam menjalani kehidupan. Puisi menyoroti perubahan persepsi manusia terhadap waktu: dari ancaman dan tekanan menjadi ruang panjang yang harus diisi, tetapi justru melahirkan kebosanan.
Puisi ini bercerita tentang perubahan pandangan manusia terhadap waktu. Dahulu waktu dipandang sebagai sesuatu yang menekan, mencemaskan, dan memaksa manusia bergerak. Kini waktu digambarkan sebagai lanskap luas seperti gurun yang harus terus ditata manusia, meskipun manusia telah lama merasa bosan menjalaninya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan modern membuat manusia kehilangan makna waktu. Waktu tidak lagi menjadi misteri atau dorongan, melainkan ruang kosong yang monoton dan melelahkan. Manusia tidak lagi dikejar waktu, tetapi justru terjebak dalam keluasannya sendiri.
Puisi ini juga menyiratkan kondisi eksistensial: manusia dipaksa menjalani hidup berulang dan rutin tanpa makna baru, sehingga muncul kejenuhan mendalam.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa kontemplatif, kering, dan jenuh. Citra gurun, terik matahari, dan lanskap luas menghadirkan kesan kehampaan dan kelelahan batin. Ada nuansa refleksi panjang tentang hidup yang terasa datar dan melelahkan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini dapat dipahami sebagai peringatan bahwa manusia perlu menemukan kembali makna dalam waktu hidupnya. Jika tidak, waktu hanya menjadi ruang kosong yang membosankan. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa cara manusia memaknai waktu menentukan kualitas hidupnya.
Selain itu, puisi menegaskan bahwa kejenuhan hidup bukan karena waktu itu sendiri, melainkan karena kehilangan makna dalam menjalani waktu.
Puisi “Waktu” karya Mochtar Pabottingi merupakan refleksi filosofis tentang kejenuhan eksistensial manusia modern. Melalui metafora sais dan lanskap gurun, penyair menunjukkan perubahan relasi manusia dengan waktu—dari tekanan menjadi kehampaan yang membosankan. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan kembali makna waktu dalam kehidupan agar tidak terjebak dalam rutinitas yang kehilangan arti.
Karya: Mochtar Pabottingi
Biodata Mochtar Pabottingi:
- Mochtar Pabottingi lahir pada tanggal 17 Juli 1945 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
