Buah Apel
Buah apel di tangan
Ranum tergenggam hangat
Merah memanjakan untuk diraba
Masih tergenggam dalam birahi
Aku lihat buah apel di tangan
Kucium aroma wanginya
Memancarkan peluh yang terus menetes
Melahap sampai semua tak tersisa
Saat jari-jari ini terus mengelus
Meremas mencari dalam hasrat
Aroma itu khas merebak
Dalam penciuman panjang yang terus dan terus
Pada akhirnya aku tertegun sadar
Kupandang apa yang kupegang
Buah apel atau entah apa yang kulihat ini
Tapi yang pasti, aku menikmatinya
Analisis Puisi:
Puisi “Buah Apel” karya Abraham Dali Darto menghadirkan gambaran sensual yang simbolik melalui objek sederhana: buah apel. Dengan bahasa yang sugestif dan penuh sentuhan indrawi, puisi ini tidak hanya menggambarkan kenikmatan fisik, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang persepsi, hasrat, dan kesadaran diri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hasrat dan kenikmatan yang dibungkus dalam simbol benda sederhana. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema:
- Godaan dan keinginan manusia.
- Sensualitas dalam pengalaman indrawi.
- Kesadaran reflektif setelah menikmati sesuatu.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memegang buah apel. Ia menggambarkan apel itu sebagai ranum, merah, hangat, dan menggoda. Ia mencium aromanya, meraba permukaannya, bahkan “melahap sampai semua tak tersisa.”
Namun di akhir puisi, muncul kesadaran reflektif: “Buah apel atau entah apa yang kulihat ini.” Ada ambiguitas yang sengaja dibiarkan terbuka. Apakah apel itu sekadar buah, atau simbol dari sesuatu yang lain—hasrat, cinta, atau pengalaman sensual?
Puisi ini bergerak dari pengalaman fisik menuju pertanyaan batin.
Makna Tersirat
Makna Tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Apel sebagai simbol godaan. Buah apel sering dikaitkan dengan simbol keinginan dan godaan (baik dalam mitologi maupun simbol budaya). Dalam puisi ini, apel menjadi lambang hasrat yang menggoda.
- Pengalaman indrawi sebagai pintu masuk kesadaran. Sentuhan, aroma, dan rasa menjadi sarana eksplorasi diri.
- Ambiguitas objek hasrat. Keraguan di akhir puisi menunjukkan bahwa kenikmatan sering kali lebih tentang persepsi daripada objek itu sendiri.
- Kenikmatan dan refleksi. Setelah hasrat dipenuhi, muncul kesadaran—sebuah jarak antara pengalaman dan pemahaman.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa:
- Sensual.
- Intens.
- Intim.
- Reflektif di bagian akhir.
Perpaduan antara kenikmatan dan perenungan menciptakan dinamika emosional yang menarik.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Hasrat adalah bagian alami dari manusia.
- Kenikmatan indrawi dapat membawa kesadaran baru.
- Tidak semua yang dinikmati sepenuhnya dipahami.
- Manusia sering terpesona oleh simbol tanpa menyadari makna terdalamnya.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan antara hasrat, persepsi, dan kesadaran.
Puisi “Buah Apel” karya Abraham Dali Darto adalah sajak yang memanfaatkan simbol sederhana untuk mengeksplorasi hasrat dan kesadaran. Puisi ini memperlihatkan bagaimana pengalaman indrawi dapat membawa pembaca pada refleksi yang lebih dalam.
Puisi ini tidak hanya tentang apel, tetapi tentang bagaimana manusia menikmati, merasakan, dan kemudian mempertanyakan apa yang sebenarnya ia genggam dalam hidupnya.
Karya: Abraham Dali Darto
Biodata Abraham Dali Darto:
Abraham Dali Darto lahir pada tanggal 26 Agustus 1973.
