Puisi: Buka Sedikit Jendela (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Buka Sedikit Jendela” karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang seseorang yang mengajak membuka sedikit jendela agar cahaya masuk dan ...
Buka Sedikit Jendela

buka sedikit jendela
agar cahaya
merambat leluasa
pada mata kita

aku lupa
siapa yang memajang potret kita
bersandingan di dinding tua itu

tubuhmu memasuki tubuhku
pengembara tua yang terlunta
ribuan tahun memburu sumur cahaya

aku terkenang kartu
bergambar mawar putih
saat waktu leleh
dalam genggaman malam

kutemukan sumur itu
tubuhmu melunaskan hausku
sejauh perjalanan
dari kubur ke kubur.

2001

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Buka Sedikit Jendela” karya Wayan Jengki Sunarta adalah sajak reflektif yang memadukan simbol cahaya, tubuh, dan perjalanan waktu. Dengan larik-larik pendek dan metaforis, penyair menghadirkan pengalaman cinta yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan eksistensial. Puisi ini bergerak dari ajakan sederhana—membuka jendela—menuju perenungan tentang ingatan, hasrat, dan perjalanan hidup manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna dan pemenuhan dalam cinta. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ingatan, waktu, serta kerinduan akan “cahaya” sebagai simbol pencerahan atau harapan.

Ada pula tema perjalanan eksistensial—manusia sebagai pengembara yang terus mencari sumber kehidupan dan makna.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengajak membuka sedikit jendela agar cahaya masuk dan menyentuh mata. Ajakan ini tampak sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi refleksi tentang hubungan dua insan.

Penyair mengingat potret mereka yang tergantung di dinding tua—simbol kenangan masa lalu. Hubungan itu digambarkan dengan metafora “tubuhmu memasuki tubuhku”, menghadirkan kesan penyatuan yang mendalam.

Penyair menyebut dirinya sebagai “pengembara tua yang terlunta ribuan tahun memburu sumur cahaya”. Pencarian itu akhirnya menemukan jawaban pada diri sang kekasih: “kutemukan sumur itu, tubuhmu melunaskan hausku”.

Puisi ditutup dengan gambaran perjalanan “dari kubur ke kubur”, seolah cinta dan pencarian makna berlangsung sepanjang siklus hidup manusia.

Makna Tersirat

Puisi ini dapat dipahami sebagai perjalanan spiritual manusia yang mencari cahaya—kebenaran, cinta, atau pencerahan. “Sumur cahaya” bukanlah sumur secara harfiah, melainkan simbol sumber kehidupan batin.

“Waktu leleh dalam genggaman malam” menyiratkan kefanaan waktu. Segala yang dialami—kenangan, cinta, bahkan tubuh—akan larut dalam perjalanan waktu.

Perjalanan “dari kubur ke kubur” dapat dimaknai sebagai simbol siklus kehidupan manusia yang fana. Cinta menjadi satu-satunya pengalaman yang memberi makna dalam rentang hidup tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung hening, kontemplatif, dan intim. Ada nuansa kehangatan sekaligus kesunyian yang dalam. Cahaya dan malam saling berhadapan, menciptakan atmosfer reflektif yang kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya membuka diri—“membuka jendela”—agar cahaya dan makna bisa masuk ke dalam hidup. Keterbukaan menjadi kunci untuk menemukan pemenuhan batin.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta bukan sekadar pertemuan fisik, tetapi perjalanan panjang yang mengisi kekosongan eksistensial manusia.

Puisi “Buka Sedikit Jendela” karya Wayan Jengki Sunarta adalah sajak tentang keterbukaan dan pencarian makna dalam cinta. Dari ajakan membuka jendela hingga perjalanan metaforis dari kubur ke kubur, puisi ini menghadirkan refleksi mendalam tentang cahaya sebagai simbol kehidupan.

Dengan bahasa yang padat dan simbolik, penyair menunjukkan bahwa manusia adalah pengembara yang selalu haus akan cahaya. Dan dalam cinta, ia mungkin menemukan sumur yang selama ini dicarinya.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Buka Sedikit Jendela
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.