Puisi: Catatan Terakhir oleh Raffles (Karya Taufik Ikram Jamil)

Puisi "Catatan Terakhir karya Raffles" karya Taufik Ikram Jamil menggambarkan kompleksitas hubungan antara kolonialisme, identitas, dan ...
Catatan Terakhir oleh Raffles

kembali teringat singapura dari suatu tempat
pada suatu ruang yang malahan tak terjangkau sunyi
aku merasa ingin pergi
sebab masa laluku alih-alih dipulaukan
terbentang pelabuhan-pelabuhan jauh
menyaksikan bahasa riang berenang
menatap pendawatan kitab di setiap tanjung
bersapa dengan teluk yang memeluk pantun
atau ombak berjanji sampai
dihantar mimpi laut tentang keabadian
cakrawala yang penuh bertatah marwah

di selat philip yang memecah ombak
telah kulabuhkan keteguhan british
karena harus kubayar bengkulu dengan lunas
seribu cina asal pinang musti disuap
tipu daya adalah modal meranggaskan yang hak
pecah belah menjadi senjata tak bingkas
setelah kematian megat sri rama yang tangkas

abdullah munsyi cergas menaburkan sakit
pada otak dan hati setiap pesinggah
bahkan bagi dirinya sendiri yang kupagari ini
selebihnya kutukar sedu-sedan dengan judi
membiarkan kampung dikungkung malang
bumi putera bahkan harus dipasung
sebaliknya pendatang musti dijunjung
kedua pihak bagaimanapun harus bertembung
memang perjuangan adalah persoalan sampai hati
dan aku menerjemahkannya sebagai godam bakti

dan begitulah di badannya seribu untung mengotot
jari-jemarinya penuh gedung pencakar ketinggian
kapal-kapal datang dan pergi dari perutnya
meninggalkan lemak berlapis seluruh
dialasi nafsu-nafsu dunia di uratnya mengalir
akal hanya mengarah pada bagaimana mengeruk laba
sedangkan jantung adalah kecurigaan yang dipompa takut
sebab hidup adalah satu-satunya pilihan
tak ada yang lain

rafles dari british aku bukan lanun bukan bajak
makanya coba kugali tasik rindu di dadanya yang petak
sehingga orang bisa kembali saat hari berdetak
tapi apa dayaku setelah engku hamidah menemplak
regalia penobatan sultan dicekak
di pulau penyengat sirih emas tetap tercagak
tak dapat kupujuk dengan 50.000 perak
sampai belanda merenggutnya dalam rompak
sultan hussein dari riau juga terpaksa ditetak
traktat london 1824 dicetak pembuat jarak
apalagi setelah tengku abdurrahman merajuk
membuat lee kuan yew menyentak terbahak-bahak

tak juga riau risau apalagi tersilau
malah mengepuk diri dengan buku-buku
membuat pelabuhan-pelabuhan sampai jauh
merenangkan bahasa dengan riang
mendawati kitab-kitab di setiap tanjung
teluk yang memeluk kearifan pantun
atau ombak bersumpah tiba
menghantar niat laut tentang keabadian
marwah yang senantiasa mencakrawala

oh umur yang sial berbalut geram
inikah padah semuanya hingga aku terlempar
peristiwa selat menyalinkan dirinya pada nasibku
justeru di negeri sendiri peruntungan tercuri
sekeping roti yang kuminta tak pernah hampir
seteguk anggur malah memuaikan dahaga
dingin tak bisa kulerai panas tak dapat kuusai
rumah adalah sorga yang tak terbayangkan
di depan maut aku terlonta-lonta

maka hari-hariku yang tak lagi terbilang waktu
di tempat yang malahan tak terjangkau sunyi
adalah sesal adalah pilu adalah hampa
yang ujung dan pangkalnya dibelenggu siksa

Sumber: Tersebab Aku Melayu (Buku Sajak Penggal Kedua, 2010)

Analisis Puisi:

Puisi "Catatan Terakhir karya Raffles" karya Taufik Ikram Jamil adalah sebuah karya yang menggambarkan kompleksitas hubungan antara kolonialisme, identitas, dan perjuangan di bawah kekuasaan Inggris di Nusantara.

Nostalgia dan Rasa Rindu: Puisi ini menciptakan nuansa nostalgia dan rasa rindu terhadap masa lalu, terutama terkait dengan Singapura dan berbagai tempat yang memiliki kenangan. Ada kesan bahwa penulis merindukan masa-masa kejayaan dan kebebasan yang kini sudah tiada.

Kritik terhadap Kolonialisme: Puisi ini secara tersirat mengkritik praktik kolonialisme yang dilakukan oleh Raffles dan pemerintah Inggris pada masa itu. Ada nuansa penderitaan dan penindasan yang dirasakan oleh masyarakat setempat akibat kebijakan kolonial.

Identitas dan Konflik: Penyair menyelipkan konflik identitas dalam puisi ini. Ada perasaan tidak nyaman terkait dengan kedudukan seseorang yang tidak sepenuhnya menerima identitasnya sebagai bagian dari kekuasaan kolonial, seperti yang tercermin dalam ungkapan "bukan bajak, bukan lanun".

Perjuangan dan Kehilangan: Puisi ini juga menggambarkan perjuangan dan kehilangan yang dialami oleh masyarakat setempat, terutama yang berada di bawah kekuasaan Inggris. Ada rasa sakit, kekecewaan, dan penderitaan yang dirasakan oleh banyak orang akibat dominasi kolonial.

Ketidakpastian dan Kehampaan: Puisi ini menciptakan atmosfer ketidakpastian dan kehampaan yang dirasakan oleh banyak orang di bawah kekuasaan kolonial. Meskipun ada harapan dan impian, namun kenyataan pahit dari penindasan dan eksploitasi menghadirkan rasa putus asa dan kekosongan.

Pertanyaan atas Nasib dan Takdir: Penyair mengeksplorasi pertanyaan atas nasib dan takdir dalam puisi ini. Ada rasa kebingungan dan keputusasaan dalam mencari jawaban atas penderitaan dan ketidakadilan yang dialami.

Dengan demikian, puisi "Catatan Terakhir oleh Raffles" adalah sebuah puisi yang menghadirkan gambaran kompleks tentang masa lalu yang kelam, konflik identitas, perjuangan, dan kehampaan di bawah cengkraman kolonialisme Inggris di Nusantara.

Taufik Ikram Jamil
Puisi: Catatan Terakhir oleh Raffles
Karya: Taufik Ikram Jamil

Biodata Taufik Ikram Jamil:
  • Taufik Ikram Jamil lahir pada tanggal 19 September 1963 di Bengkalis, Riau, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.