Puisi: Larik Suluk Kembara (Karya Sultan Musa)

Puisi "Larik Suluk Kembara" karya Sultan Musa mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup mereka sendiri, menyadari hubungan antara waktu, ...
Larik Suluk Kembara

Dari sini...
Dari waktu....
Bentangkan amanah kembara
Mengungkapkan ingar-bingar kata
Pengembaraan mengepung berputar
pada kata yang terus mekar
Selalu dengan harapan tersirat
dan selalu bersama hasrat

"kita hanyalah jiwa yang diberi akal
tak terhenti namun harus kembali kelak"

2022

Analisis Puisi:

Puisi "Larik Suluk Kembara" karya Sultan Musa menampilkan refleksi spiritual dan eksistensial melalui bahasa yang meditatif dan simbolik. Dengan diksi yang tersusun ringkas namun padat makna, penyair mengeksplorasi pengalaman pengembaraan manusia—baik fisik maupun batin—dalam konteks kehidupan, waktu, dan kesadaran diri.

Puisi ini menekankan bahwa pengembaraan manusia bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga pencarian makna, harapan, dan pemahaman akan hakikat diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengembaraan spiritual dan pencarian makna hidup. Selain itu, puisi ini menyentuh tema tentang waktu, harapan, dan kesadaran eksistensial, serta perjalanan batin manusia yang selalu kembali pada refleksi diri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini antara lain:
  • Pengembaraan hidup sebagai proses belajar: Manusia selalu bergerak, mencari, dan mengeksplorasi dunia dan diri sendiri melalui pengalaman.
  • Keterbatasan eksistensi: Manusia diberi akal, namun perjalanan hidup tidak abadi; pada akhirnya, semua akan kembali ke asal atau tujuan akhir.
  • Harapan dan hasrat sebagai pendorong: Keinginan dan motivasi internal menjadi energi yang menjaga manusia tetap bergerak dalam pengembaraan batin.
  • Kebijaksanaan tersirat: Proses pengembaraan itu sendiri sarat dengan pembelajaran, refleksi, dan pemahaman, bukan sekadar pencapaian fisik.
Puisi "Larik Suluk Kembara" karya Sultan Musa menampilkan refleksi tentang pengembaraan hidup, perjalanan batin, dan kesadaran eksistensial manusia. Dengan imaji alam dan konsep, serta majas yang meditatif, penyair menekankan bahwa hidup adalah proses pencarian, pembelajaran, dan refleksi, yang selalu dipandu oleh harapan, hasrat, dan akal, meski pada akhirnya manusia akan kembali ke asal atau tujuan akhir.

Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup mereka sendiri, menyadari hubungan antara waktu, pengalaman, dan hakikat eksistensi, sambil menghargai proses refleksi dan pembelajaran yang terus berlangsung.

Sultan Musa
Puisi: Larik Suluk Kembara
Karya: Sultan Musa

Biodata Sultan Musa:

Sultan Musa berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Tulisan-tulisannya tersiar di berbagai platform media daring dan luring. Karya-karyanya juga masuk dalam beberapa antologi bersama penyair Nasional dan Internasional, seperti Wangian Kembang (2018)Negeri Serumpun (2020)La Antologia de Poesia Cultural Argentina-Indonesia (2021) dan Cakerawala Islam (2022).

Karya tunggalnya bertajuk Titik Koma (2021) masuk nominasi Buku Puisi Unggulan versi Penghargaan Sastra 2021 Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.

Nama Sultan Musa tercatat di dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017).
© Sepenuhnya. All rights reserved.