Puisi: Pelabuhan Buleleng (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Pelabuhan Buleleng" adalah perenungan yang indah tentang kehidupan manusia dalam konteks alam dan realitas sehari-hari. Dengan menggunakan ...
Pelabuhan Buleleng

saat mengulum pasir
laut tertegun di bibirmu

muncul jenuh yang indah
membenamkan diri
menghayati
matahari yang memerah
di belahan bukit mungilmu
hingga ombak pasang surut
dalam diri

pada batas tatap mata
tak pernah kita pahami
sampai di mana jiwa letih ini
memeram doa
menuntun mata hati

tubuh kita menyala
terbasuh warna keemasan senja
ombak memerciki wajah
sekali waktu kita
seperti tak terpahami

tengadah ke langit silam
mata pucat menganga
sepasang burung laut
telah menemukan
malam pengantinnya
namun sayap sayap itu
menjadi letih
dalam sangkar keramat
sang waktu

nelayan mengemas jala
perahu perahu mengandaskan diri
aku ombak kau laut
kita terhempas dari pelabuhan
ke pelabuhan
setandas tandas waktu.

1997

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Pelabuhan Buleleng" karya Wayan Jengki Sunarta merangkum pengalaman manusia dalam konteks pelabuhan, dengan menggunakan gambaran alam dan peristiwa sehari-hari.

Keindahan Alam dan Kehidupan: Puisi ini dimulai dengan gambaran alam yang indah, dengan kata-kata yang menggambarkan keajaiban matahari terbenam, ombak yang memerciki wajah, dan keemasan senja. Penyair mengekspresikan pengalaman keindahan alam yang menyentuh jiwa dan menghadirkan perasaan jenuh yang indah.

Kontemplasi Kehidupan: Melalui gambaran pelabuhan, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan dan perjalanan manusia. Pelabuhan menjadi metafora bagi perjalanan hidup, di mana manusia terus berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya, mencari arti dan makna dalam kehidupan.

Kontras dan Konflik: Puisi ini juga menggambarkan kontras antara keindahan alam dan realitas kehidupan sehari-hari, yang terlihat dari aktivitas nelayan yang mengemas jala dan perahu-perahu yang mengandaskan diri. Konflik antara keindahan alam dan kerasnya kehidupan manusia tercermin dalam metafora ini.

Perenungan dan Pencarian Makna: Penyair menutup puisi dengan perenungan tentang kehidupan, di mana manusia terhempas dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya, mencari arti dan makna dalam setiap perjalanan. Ada pencarian yang abadi terhadap kebenaran dan kehidupan yang lebih dalam, yang tercermin dalam simbolisasi "sang waktu" dan "sangkar keramat".

Bahasa dan Imajinasi: Penggunaan bahasa yang metaforis dan imajinatif memberikan kedalaman dan kekayaan makna pada puisi ini. Kata-kata yang dipilih dengan cermat membentuk gambaran yang kuat dan menggugah pemikiran, memungkinkan pembaca untuk merasakan pengalaman yang digambarkan.

Puisi "Pelabuhan Buleleng" adalah perenungan yang indah tentang kehidupan manusia dalam konteks alam dan realitas sehari-hari. Dengan menggunakan gambaran alam dan aktivitas pelabuhan, penyair menggambarkan perjalanan manusia yang penuh dengan keindahan, kontras, dan perenungan. Puisi ini mengundang pembaca untuk merenungkan arti dan makna kehidupan yang abadi, serta perjalanan yang tak pernah berakhir dalam pencarian akan kebenaran dan kebijaksanaan.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Pelabuhan Buleleng
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.