Puisi: Permata Zamrud di Khatulistiwa (Karya Sitor Situmorang)

Puisi "Permata Zamrud di Khatulistiwa" karya Sitor Situmorang menggambarkan perubahan dan dampak industrialisasi terhadap alam dan masyarakat di ...
Permata Zamrud di Khatulistiwa

Sejam berlayar dari Ternate sini
di seberang sana di Sidangoli
terdapat kilang plywood
kebanggaan kecamatan

Dalam kompteksnya bekerja ratusan buruh wanita
yang didatangkan dari Jawa. Di dalam kompteks
terdapat asrama mereka, semuanya dikelilingi
pagar kawat berduri
Di gerbang kawat berduri itu
selalu ada jaga bersenjata mencegah
gangguan si hidung belang demi keamanan
jalannya proses produksi di hari siang.

Malam hari lain ceritanya.
Para buruh wanita leluasa ke pantai
melepas lelah, mencari cinta,
berdendang dengan dongeng kuno,

terlebih di malam berbulan, sembari
pohon-pohon raksasa di hutan di lereng gunung,
tempat pengambilan kayu gelondongan,
mendendangkan kisahnya dalam sepi:

Bagaimana besok pagi mesin-mesin penebang
akan muncul merubuhkan pohon demi pohon,
dan traktor-traktor menyeretnya ke pantai,
masuk kilang dan dalam beberapa menit saja

mengolah kayu umur ratusan tahun jadi serbuk,
dengan gigi-gigi baja yang tajam,
kemudian diolah jadi plywood
bakal penghias rumah kaum berada di mancanegara

Cerita amsal abad ke-20
Cerita hutan Amazone, Kalimantan, Sumatra
Cerita pohon-pohon raksasa tergeletak,
telanjang di sisinya, seperti ikan paus terdampar

Cerita hutan yang bukan hutan lagi,
gunung yang segera gundul
dibakar terik matahari
Cerita margasatwa
dan tumbuh-tumbuhan yang bakat tumpas

dan lahan yang akan digusur air hujan
jadi lumpur di dasar laut Nusantara,
dan kilang? Nanti ia pindah, mencari mangsa baru
dan buruh wanita angkatan baru

dari Pulau Jawa,
permata zamrud
di khatulistiwa
lama sudah dirambah.

Sumber: Rindu Kelana (Gramedia Widiasarana Indonesia, 1994)

Analisis Puisi:

Puisi "Permata Zamrud di Khatulistiwa" karya Sitor Situmorang menggambarkan perubahan dan dampak industrialisasi terhadap alam dan masyarakat di Indonesia. Melalui penggambaran yang kuat dan imajinatif, puisi ini menghadirkan kontras antara kehidupan sehari-hari buruh wanita dengan destruksi lingkungan yang terjadi di sekitar mereka.

Penggambaran Kilang dan Kehidupan Buruh

Puisi ini dimulai dengan gambaran sebuah kilang plywood di Sidangoli, yang merupakan kebanggaan kecamatan. Kilang ini menjadi pusat kerja bagi ratusan buruh wanita yang sebagian besar didatangkan dari Jawa. Mereka tinggal dalam asrama yang dikelilingi oleh pagar kawat berduri, yang mencerminkan suasana keamanan yang ketat untuk melindungi jalannya proses produksi.

Kontras antara Siang dan Malam Hari

Pada siang hari, buruh wanita sibuk dengan proses produksi di dalam kilang yang modern dan terorganisir. Namun, pada malam hari, suasana berubah menjadi lebih santai. Para buruh wanita memanfaatkan waktu luang mereka dengan pergi ke pantai, melepas lelah, mencari cinta, dan bercerita dengan dongeng kuno. Suasana malam ini menciptakan kontras yang menarik dengan rutinitas kerja keras mereka di siang hari.

Dampak Lingkungan dan Perubahan Sosial

Puisi ini juga menggambarkan dampak besar yang ditimbulkan oleh industri kayu terhadap lingkungan. Gambaran pohon-pohon raksasa di hutan yang tergeletak seperti ikan paus terdampar mencerminkan kehancuran lingkungan akibat penebangan hutan yang besar-besaran. Sitor Situmorang dengan lugas menyampaikan bagaimana hutan-hutan menjadi semakin tergerus, gunung-gundul dibakar, dan habitat margasatwa terancam punah.

Refleksi atas Perubahan Sosial dan Ekologis

Puisi ini tidak hanya menggambarkan destruksi alam, tetapi juga menyoroti dampak sosial dari industrialisasi ini. Perpindahan kilang untuk mencari lahan baru menggambarkan siklus eksploitasi yang terus berlanjut, serta dampaknya terhadap komunitas buruh wanita yang terus berpindah dari Pulau Jawa ke daerah lain.

Tema dan Pesan Puisi

Puisi "Permata Zamrud di Khatulistiwa" mengajak pembaca untuk merenungkan tentang kompleksitas hubungan antara manusia dan alam, serta dampak dari aktivitas industri terhadap kedua entitas tersebut. Puisi ini juga menyoroti pertanyaan moral tentang pembangunan versus pelestarian lingkungan, serta pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Secara keseluruhan, puisi "Permata Zamrud di Khatulistiwa" karya Sitor Situmorang bukan hanya sekadar sebuah puisi, tetapi juga sebuah refleksi yang mendalam tentang perubahan ekologis dan sosial yang terjadi di Indonesia. Melalui gambaran yang kuat dan bahasa yang padat, puisi ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan dampak dari industrialisasi terhadap alam dan masyarakat, serta perlunya kesadaran akan pelestarian lingkungan untuk masa depan yang berkelanjutan.

"Puisi Sitor Situmorang"
Puisi: Permata Zamrud di Khatulistiwa
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.