Puisi: Sang Waktu (Karya Sujarwanto)

Puisi “Sang Waktu” karya Sujarwanto mengingatkan bahwa hari-hari yang tersia dapat menjadi luka ketika senja tiba-tiba mencegat. Dalam kesadaran ...
Sang Waktu

Di depan kita ada dia, tapak-tapak yang melangkah
Di samping kita ada dia, detik-detik yang mendesah
Di belakang kita ada dia, bisik-bisik yang mengusik
Di mana-mana ada dia,
melangkah,
mendesah,
mengusik
memburu kita,
menikam dengan garang hari-hari yang tersia,
hari-hari tanpa kasih,
hari-hari teriak gelombang
Dan senja pun tiba-tiba mencegat di depan kita,
saat kita lengah dan tertidur
panjang.

Kartindah, Oktober 1987

Sumber: Astana Kastawa 2 (2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Sang Waktu” karya Sujarwanto adalah sajak reflektif yang menempatkan waktu sebagai sosok yang hidup, hadir, dan tak pernah berhenti membayangi manusia. Dalam larik-larik yang repetitif dan ritmis, waktu digambarkan bukan sekadar ukuran detik dan hari, melainkan kekuatan yang memburu, mengusik, bahkan “menikam” kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kefanaan hidup dan kekuasaan waktu atas manusia. Tema pendukungnya meliputi:
  • Ketidakmampuan manusia menghentikan waktu.
  • Penyesalan atas hari-hari yang terbuang.
  • Kesadaran akan akhir (senja).
  • Kehidupan yang sering dijalani tanpa makna.
Puisi ini bercerita tentang keberadaan waktu yang selalu menyertai manusia—di depan, di samping, di belakang, dan di mana-mana. Waktu tidak pernah diam; ia melangkah, mendesah, mengusik.

Seiring perjalanan hidup, waktu “memburu” manusia dan “menikam” dengan hari-hari yang tersia. Hari-hari tanpa kasih dan hari-hari penuh teriakan gelombang menjadi gambaran hidup yang mungkin dijalani tanpa kesadaran atau cinta.

Pada bagian akhir, senja tiba-tiba mencegat ketika manusia lengah dan tertidur panjang. Senja di sini menjadi simbol akhir kehidupan yang datang tanpa bisa ditunda.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini cukup jelas dan mendalam:
  • Waktu sebagai sosok hidup. Waktu diperlakukan seperti makhluk yang memiliki kehendak dan kekuatan.
  • Hari-hari yang tersia. Ini menyiratkan penyesalan atas kehidupan yang tidak dijalani dengan penuh makna.
  • Senja yang mencegat. Senja melambangkan akhir kehidupan atau masa tua yang datang tiba-tiba.
  • Tertidur panjang. Bisa dimaknai sebagai kematian atau ketidaksadaran manusia terhadap pentingnya waktu.
Puisi ini menyiratkan bahwa waktu tidak pernah berhenti, dan manusia sering kali terlambat menyadari nilainya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Tegang.
  • Mendesak.
  • Reflektif.
  • Sedikit mencekam.
  • Penuh kesadaran eksistensial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat ditangkap:
  • Gunakan waktu dengan bijak sebelum terlambat.
  • Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa kasih dan makna.
  • Sadari bahwa akhir kehidupan bisa datang saat kita lengah.
  • Hidup perlu dijalani dengan kesadaran penuh akan keterbatasan waktu.
Puisi “Sang Waktu” karya Sujarwanto adalah refleksi kuat tentang kekuasaan waktu atas kehidupan manusia. Dengan personifikasi yang dominan, waktu tampil sebagai sosok yang tak kenal lelah, selalu melangkah dan memburu.

Puisi ini mengingatkan bahwa hari-hari yang tersia dapat menjadi luka ketika senja tiba-tiba mencegat. Dalam kesadaran akan kefanaan, sajak ini mengajak pembaca untuk menjalani hidup dengan penuh makna sebelum waktu benar-benar “menikam” tanpa ampun.

Sepenuhnya Puisi
Puisi: Sang Waktu
Karya: Sujarwanto

Biodata Sujarwanto:
  • Sujarwanto lahir pada tanggal 28 Februari 1955 di Bantul, Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.