Tameng Sari Kuserahkan Kembali
sumpah itu tak akan pernah terlupakan
makanya keris tameng sari ini sempat lama kusimpan
jadi semerbak kuntum-kuntum bunga
berucap pada negeri-negeri jauh
dengan kefasihan mantera tanpah keluh
tapi aku memang bukan yang dulu
sementara engkau begitu lembut untuk diri sendiri
hingga aku menduda dari catatan-catatan laku
yang tak panjangkan sua kita
pada tali persaudaraan yang kian pendek
lalu kuserahkan kembali keris tameng sari ini
bersama kisah pilu di hulunya
tempat kita sama-sama pernah bergenggam
ketika berbagai mimpi diandam
di tengah jaga yang menjelang
tetapi dalam tidur pun tiada bertemu
nasib baik terpuruk ke dalam angan-angan
tiada siapa-siapa yang kupersalahkan
tetapi ketika engkau sibuk dengan diri sendiri
adakah engkau juga mengenang aku
sementara kita lahir dari perbedaan
terus tiada serupa
walau di dalam bayang-bayang
tapi juga tak mungkin aku hapuskan
wajahmu di temasik di natuna di indragiri
seperti wajahku yang tak akan sirna
pada patok-patok hati sebelum kediri
ketika purnama menggonggong sudut hati
dalam ceria malam
yang menyinsingkan lengannya
untuk pesta bintang-gemintang
tahu aku bahwa engkau masih ingin padaku
sementara mauku pun tak kurang untukmu
tapi kita telah salah menafsirkan kasih
percintaan hanya singgah ketika lelah
ketika hari-hari terbelah
malam yang memalingkan muka kepada siang
kepada bulan yang mencari terang
sungguh bukan mudah untuk meninggalkanmu
tapi kita tidak punya pilihan
setelah persatuan kehabisan tapak
tinggal perpisahan
yang memahkotai dirinya pada setiap simpang
menyanyikan lagu-lagu musim
hanya sehasta dari kenyataan
kita pasti akan saling teringat
sampai keringat kita masing-masing
melulurkan butir-butir kepastian
yang tak mau berbagi dengan kehampaan
karena itu kita akan saling menghormati
sadar bahwa kita menuju jalan berbeda
kuserahkan kembali keris tameng sari ini
sebelum tikamnya menjadi makin runcing
di tanganku kehilangan kendali
karena jarak yang kian tersarung
untuk kesalahan yang terus terasah
dalam catatan-catatan berbatu
yang telah mencalarkan dirinya sendiri
demi marwah yang makin basah oleh air mata
Sumber: Tersebab Aku Melayu (Buku Sajak Penggal Kedua, 2010)
Analisis Puisi:
Puisi "Tameng Sari Kuserahkan Kembali" karya Taufik Ikram Jamil adalah sebuah karya yang menggambarkan perjalanan emosional dan spiritual seorang individu dalam menghadapi perubahan hubungan dan penerimaan terhadap takdir.
Simbolisme Keris Tameng Sari: Keris Tameng Sari dalam puisi ini menjadi simbol kekuatan, kehormatan, dan perjalanan yang telah dilalui. Keris tersebut juga melambangkan hubungan antara dua individu dan keterikatan emosional di antara mereka.
Penerimaan Akan Perubahan: Penyair mengeksplorasi tema penerimaan akan perubahan dalam hubungan. Meskipun ada keinginan untuk mempertahankan hubungan, namun realitas perubahan dan jarak yang terbentang membuatnya sulit untuk dipertahankan.
Kesadaran akan Keterbatasan: Dalam puisi ini, tergambar kesadaran akan keterbatasan manusia dalam mengendalikan takdir dan arah hubungan. Meskipun terdapat kesediaan untuk tetap terhubung, namun ada pengakuan akan ketidakmungkinan untuk mempertahankan hubungan yang telah berubah.
Kesedihan dan Kehilangan: Terdapat nuansa kesedihan dan kehilangan dalam puisi ini karena pengakuan akan perpisahan yang tak terelakkan. Meskipun ada harapan untuk saling mengingat, namun kesedihan atas kehilangan dan perpisahan tetap menghantui.
Penghormatan dan Penghargaan: Puisi ini menunjukkan sikap penghormatan dan penghargaan terhadap hubungan yang telah berakhir. Meskipun ada perpisahan, namun terdapat pengakuan akan nilai dan makna yang pernah dimiliki oleh hubungan tersebut.
Proses Penerimaan: Penyair menggambarkan proses penerimaan dan pelepasan dalam menghadapi perubahan hubungan. Meskipun sulit, namun ada kesadaran bahwa penerimaan akan perubahan merupakan langkah yang diperlukan untuk melanjutkan kehidupan.
Dengan demikian, puisi "Tameng Sari Kuserahkan Kembali" adalah sebuah puisi yang menggambarkan kompleksitas emosi, penerimaan akan perubahan, kesedihan atas kehilangan, dan sikap penghormatan terhadap hubungan yang telah berakhir. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti dari penerimaan dan penghargaan terhadap perubahan dalam kehidupan manusia.
Karya: Taufik Ikram Jamil
Biodata Taufik Ikram Jamil:
- Taufik Ikram Jamil lahir pada tanggal 19 September 1963 di Bengkalis, Riau, Indonesia.
