Tamu Tak Tahu Diri
Bermuara asa
Berlayar arungi Andaman
Wajah sendu
Kain kumal bau
Syair pilu
Ketuk pintu nurani
Hangat uluran tangan tuan rumah
Buat bahtera tertambat
Menepi usai terombang-ambing gelombang bingung
Tetapi
Tendangan bola tamak tamu menohok derma
Tuntut jamuan dan hunian tanpa cela
Luas kasih tuan rumah susut
Sisa segaris gondok di tenggorok
Bisiki muson barat agar tak ada lagi perahu mendarat
Tamu-tamu tak tahu diri
Cikarang, 11 Desember 2023
Analisis Puisi:
Puisi "Tamu Tak Tahu Diri" karya Reinma menggambarkan perbandingan antara tamu yang sopan dan penuh asa dengan tamu yang tamak dan tidak tahu diri. Melalui imaji perjalanan di laut, puisi ini mengajak pembaca merenungkan konsep keramahan, penghargaan, dan kepatutan.
Metafora Laut sebagai Perjalanan Hidup: Puisi dimulai dengan gambaran tentang perjalanan di laut Andaman, yang dapat diartikan sebagai perjalanan hidup. Laut digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan liku-liku perjalanan, tantangan, dan ketidakpastian yang dihadapi oleh setiap individu.
Wajah Sendu dan Kain Kumal: Ekspresi "wajah sendu" dan gambaran "kain kumal bau" memberikan nuansa kesedihan dan kehidupan yang sulit. Ini dapat mencerminkan perjuangan dan pengorbanan yang mungkin dihadapi oleh tamu selama perjalanannya.
Syair Pilu dan Ketuk Pintu Nurani: Penggunaan syair pilu dan ketukan pintu nurani menyiratkan bahwa tamu ini membawa beban emosional dan mencari penghiburan atau pertimbangan moral. Hal ini menciptakan perasaan kerentanan dan kebutuhan untuk diakui secara emosional.
Uluran Tangan Tuan Rumah: Gambaran uluran tangan tuan rumah menggambarkan kebaikan hati dan keramahan. Tuan rumah menyambut tamu dengan hangat dan memberikan tempat berlabuh bagi "bahtera" yang telah terombang-ambing.
Tendangan Bola Tamak Tamu: Tendangan bola tamak tamu menjadi simbol tindakan kasar dan tamak yang merusak suasana kebaikan hati dan keramahan. Ini menunjukkan perilaku tidak pantas dan kurangnya apresiasi terhadap penerimaan.
Tuntutan Jamuan dan Hunian: Tamak tamu menuntut jamuan dan hunian tanpa cela, menyoroti perilaku egois yang tidak menghargai keterbatasan tuan rumah. Ini menciptakan konflik antara harapan yang tidak realistis dan kenyataan.
Penurunan Kasih Tuan Rumah: Kasih tuan rumah yang semula luas mulai menyusut akibat tindakan tamu yang tidak tahu diri. Sisa segaris gondok di tenggorok menciptakan gambaran kesedihan dan kecewa tuan rumah.
Bisikan Muson Barat: Puisi diakhiri dengan gambaran bisikan muson barat agar tidak ada lagi perahu yang mendarat. Ini dapat diartikan sebagai harapan agar tamu-tamu yang tidak tahu diri tidak lagi mengganggu kedamaian dan keramahan.
Puisi "Tamu Tak Tahu Diri" membawa pembaca melalui perjalanan perasaan, dari asa dan harapan menjadi kekecewaan dan ketidakpuasan. Melalui penggunaan gambaran laut dan metafora lainnya, Reinma menggambarkan dinamika hubungan antara tamu dan tuan rumah, menyoroti pentingnya sikap hormat dan penghargaan dalam interaksi sosial.
Karya: Reinma
Biodata Reinma:
- Reinma, seorang ibu rumah tangga kelahiran Cilacap 7 Maret 1989 ini tinggal di Cikarang. Ia senang belajar merangkai kata, pernah belajar di kelas online ATS, HWC, KMO Indonesia, AIS 37-38, dan merupakan peserta anugerah Competer Indonesia 2024.
