Puisi: Bisikan Bisma (Karya Fitri Yani)

Puisi “Bisikan Bisma” karya Fitri Yani menjadi renungan puitis tentang harga yang harus dibayar demi sebuah sumpah dan makna percaya.
Bisikan Bisma

demi sumpahku kepada cahaya 
dari utara

telah kuciptakan kekosongan 
di kedalaman mataku
kubuang segala pikat asmara
dari kekasih paling memabukkan sekalipun

maka pulangkanlah semua tabib
dan tinggalkan aku sendiri di Kurusetra

dalam hening akan kulepas diriku 
dari segala prasangka
dalam dingin akan kubiarkan waktu
mengambang di cakrawala

semoga kelak kau paham
mengapa cinta selalu menuntut kata percaya.

Juli, 2010

Sumber: Kompas (5 September 2010)

Analisis Puisi:

Puisi “Bisikan Bisma” karya Fitri Yani memanfaatkan figur Bisma dari epos Mahabharata sebagai suara liris yang reflektif. Tokoh Bisma dikenal sebagai ksatria yang bersumpah setia dan menanggung konsekuensi dari ikrar tersebut hingga akhir hayatnya di medan Kurusetra. Dalam puisi ini, sumpah, kesetiaan, dan pengorbanan menjadi pusat perenungan batin.

Puisi bergerak dari deklarasi sumpah menuju kesunyian eksistensial, lalu berujung pada perenungan tentang cinta dan kepercayaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesetiaan dan pengorbanan yang lahir dari sumpah dan keyakinan.

Puisi ini bercerita tentang sosok liris yang bersumpah “kepada cahaya dari utara”, menciptakan kekosongan dalam dirinya, serta membuang segala pikat asmara. Ia meminta semua tabib dipulangkan dan memilih ditinggalkan sendiri di Kurusetra—simbol medan perang batin dan takdir. Dalam keheningan dan dingin waktu, ia melepaskan prasangka dan menunggu pemahaman tentang makna cinta dan kepercayaan.

Makna Tersirat

Puisi ini memuat beberapa makna tersirat, antara lain:
  • Sumpah sebagai komitmen absolut. “Demi sumpahku kepada cahaya” menyiratkan pengabdian pada nilai luhur atau kebenaran.
  • Kurusetra sebagai metafora konflik batin. Bukan sekadar medan perang fisik, melainkan ruang pergulatan moral dan emosional.
  • Kekosongan sebagai bentuk pengendalian diri. “Kuciptakan kekosongan di kedalaman mataku” menggambarkan pelepasan hasrat dan keterikatan duniawi.
  • Cinta dan kepercayaan sebagai inti relasi. Larik penutup menegaskan bahwa cinta tanpa kepercayaan akan kehilangan makna.
Puisi ini menyiratkan bahwa pengorbanan sejati menuntut keteguhan hati dan kejernihan batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, khidmat, dan kontemplatif. Ada nuansa dingin dan sunyi yang mendalam, terutama ketika tokoh liris memilih ditinggalkan sendiri di Kurusetra. Atmosfernya reflektif dan penuh kesadaran eksistensial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai:
  • Kesetiaan dan sumpah memerlukan pengorbanan besar.
  • Cinta sejati tidak terlepas dari kepercayaan.
  • Dalam menghadapi konflik batin, manusia perlu keberanian untuk melepaskan prasangka dan ego.
Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami makna komitmen dan integritas dalam relasi maupun kehidupan.

Puisi “Bisikan Bisma” karya Fitri Yani menghadirkan refleksi mendalam tentang sumpah, kesetiaan, dan pengorbanan. Puisi ini menjadi renungan puitis tentang harga yang harus dibayar demi sebuah sumpah dan makna percaya.

Fitri Yani
Puisi: Bisikan Bisma
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.