Puisi: Gunung-Gunung (Karya N. A. Hadian)

Puisi “Gunung-Gunung” karya N. A. Hadian menegaskan bahwa bahkan yang paling kokoh pun dapat roboh ketika kesadaran melemah.
Gunung-Gunung

Gunung-gunung kita telah roboh
gunung dalam tidur gunung dalam igau
kemana kau kemana aku

Geramku kumasukkan dalam perutmu.

Sumber: Hutan Kelam (1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Gunung-Gunung” merupakan sajak singkat dengan daya simbolik yang kuat. Dalam beberapa larik yang padat, penyair menghadirkan gambaran runtuhnya gunung sebagai metafora keruntuhan nilai, kekuatan, atau fondasi bersama. Bahasa yang minimalis justru mempertegas tekanan emosional yang terkandung di dalamnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keruntuhan dan kehilangan fondasi bersama. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • Kegelisahan kolektif.
  • Amarah yang terpendam.
  • Kerapuhan kekuatan yang tampak kokoh.

Makna Tersirat

Puisi ini dapat ditafsirkan dalam beberapa lapisan:
  • Gunung sebagai simbol kekuatan atau nilai luhur. Ketika gunung roboh, itu berarti fondasi moral, sosial, atau spiritual ikut runtuh.
  • Tidur dan igau sebagai simbol ketidaksadaran kolektif. Kehancuran terjadi karena kelengahan atau ketidakpekaan.
  • Geram sebagai simbol konflik terpendam. Amarah yang dimasukkan ke “perutmu” menyiratkan ketegangan yang tidak terselesaikan.
Puisi ini menyiratkan krisis identitas dan relasi dalam situasi kehancuran.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Suram.
  • Gelisah.
  • Tegang.
  • Penuh tekanan batin.
Nada puisinya padat dan emosional, tanpa penjelasan panjang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya kesadaran dan tanggung jawab bersama agar fondasi kehidupan tidak runtuh. Puisi ini mengingatkan bahwa:
  • Kekuatan yang tampak kokoh bisa roboh jika diabaikan.
  • Krisis dapat merusak relasi manusia.
  • Amarah yang dipendam hanya memperdalam konflik.
Puisi “Gunung-Gunung” karya N. A. Hadian adalah sajak singkat yang sarat simbol tentang keruntuhan nilai dan krisis relasi. Dengan bahasa minimal dan metafora kuat, penyair menegaskan bahwa bahkan yang paling kokoh pun dapat roboh ketika kesadaran melemah.

Puisi ini menjadi refleksi tajam tentang kehancuran bersama dan konflik batin yang tersembunyi di baliknya.

N. A. Hadian
Puisi: Gunung-Gunung
Karya: N. A. Hadian

Biodata N. A. Hadian:
  • N. A. Hadian lahir pada tanggal 21 September 1932 di Medan.
  • N. A. Hadian meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 2007.
© Sepenuhnya. All rights reserved.