Puisi: Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal (Karya Sides Sudyarto D. S.)

Puisi “Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal” karya Sides Sudyarto D. S. adalah alegori tragis tentang kekuasaan, pengorbanan, dan legitimasi moral.
Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal

Di lapangan kerajaan Hastina telah menyala
Lautan api yang menjulang tinggi
Hingga ke langit lapis tujuh
Jonggring Salaka juga hampir runtuh
Oleh jilatan api duniawi itu.

Telah keluar seluruh rakyat dalam berjuta
Menghantar para gustinya yang siap gantung diri massal
Di sebelah timur lautan api, tiang gantungan haus menanti

Sami aji terdepan menuju tali
Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa mengiring lanjut
Setelah tekuk lutut menghormat dewa-dewi
Mereka tafakur dalam diri.

Pandawa pun lampus
Para kawula mengusung jenazah mereka
Menuju perabuan panas dan bisu.

Dalam khotbah penguburan Sri Kresna bicara:
Semuanya dihitung tidak hanya dalam angka
Semuanya berpahala, karena berani melangkahi jangka.

Sumber: Sajak-Sajak Tiang Gantungan (2002)

Analisis Puisi:

Puisi “Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal” karya Sides Sudyarto D. S. menghadirkan adegan dramatik dengan latar dunia pewayangan—Hastina, Pandawa, Sri Kresna, Jonggring Salaka. Dengan memanfaatkan tokoh-tokoh epik Mahabharata, penyair membangun alegori tentang kekuasaan, pengorbanan, dan tragedi kolektif. Puisi ini bekerja sebagai simbol sosial-politik yang kuat, bukan sekadar kisah mitologis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tragedi kekuasaan dan pengorbanan kolektif. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema legitimasi moral terhadap tindakan ekstrem yang dilakukan atas nama keyakinan atau kekuasaan.

Puisi ini bercerita tentang peristiwa dramatis di kerajaan Hastina. Sebuah “lautan api” menjulang hingga “langit lapis tujuh”, menandakan kekacauan besar. Rakyat berbondong-bondong menghantar para gusti—para pemimpin atau bangsawan—yang bersiap melakukan gantung diri massal.

Pandawa—Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa—turut hadir dalam ritual itu. Setelah memberi hormat kepada dewa-dewi dan bertafakur, mereka “lampus”. Rakyat kemudian mengusung jenazah mereka menuju perabuan.

Dalam khotbah penguburan, Sri Kresna menyatakan bahwa semuanya berpahala karena “berani melangkahi jangka”. Pernyataan ini menjadi titik reflektif sekaligus ironis dalam puisi.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik terhadap fanatisme dan tindakan kolektif yang dibungkus legitimasi religius atau moral. Gantung diri massal dapat dimaknai sebagai simbol kehancuran sistem kekuasaan atau ideologi yang memilih kematian daripada menghadapi kenyataan.

“Lautan api” melambangkan krisis besar—bisa berupa perang, revolusi, atau keruntuhan moral. Penghormatan kepada dewa-dewi sebelum gantung diri menyiratkan bagaimana tindakan ekstrem sering dibingkai sebagai tindakan suci.

Ucapan Sri Kresna tentang pahala dan “melangkahi jangka” dapat dibaca sebagai ironi: tindakan destruktif diberi makna heroik atau spiritual, padahal menyimpan tragedi kemanusiaan.

Puisi ini dapat dimaknai sebagai alegori tentang sejarah yang mencatat tindakan kolektif tanpa selalu mempertanyakan moralitasnya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini epik, tragis, dan penuh ketegangan. Ada nuansa sakral bercampur dengan kehancuran. Gambaran api, tiang gantungan, dan perabuan menciptakan atmosfer kelam dan monumental.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah perlunya kewaspadaan terhadap legitimasi moral atas tindakan ekstrem. Puisi ini mengingatkan bahwa keberanian dan pengorbanan tidak selalu identik dengan kebenaran. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan pentingnya mempertanyakan narasi resmi yang memuliakan tragedi tanpa mengurai akar masalahnya.

Puisi “Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal” karya Sides Sudyarto D. S. adalah alegori tragis tentang kekuasaan, pengorbanan, dan legitimasi moral. Dengan memanfaatkan tokoh-tokoh pewayangan, penyair menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap tindakan kolektif yang dibingkai sebagai heroik atau suci. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna keberanian, pengorbanan, dan tanggung jawab dalam sejarah manusia.

Puisi: Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal
Puisi: Hari Itu, Mereka Gantung Diri Massal
Karya: Sides Sudyarto D. S.

Biodata Sides Sudyarto D. S.:
  • Sudiharto lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 14 Juli 1942.
  • Sudiharto meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 14 Oktober 2012.
  • Sudiharto menggunakan nama pena Sides Sudyarto D. S. (Sides = Seniman Desa. huruf D = nama ibu, yaitu Djaiyah. huruf S = nama ayah, yaitu Soedarno).
© Sepenuhnya. All rights reserved.