Kolik
kolik kolik kolik penghuni kesepian malam
kolik kolik kolik penjelajah sawang kelam
apakah kau bermimpi
siang-siang datang kemari
kembalilah mendengkur di atas carang
bangun di tengah malam datang
rondalah di setebah bumi dengan senyaring bunyi
di musim paceklik di desa banyak pencuri
waktu petani lelap berlepas lelah
mungkin pencuri mbabah rumah
dengan suaramu menggores angkasa
bangunkan kami untuk menjaga desa
Sumber: Horison (November, 1971)
Catatan:
- Carang = cabang bambu.
- Mbabah = melubangi bawah dinding.
Analisis Puisi:
Puisi “Kolik” menghadirkan suasana malam pedesaan dengan nuansa khas yang sederhana namun sarat makna. Melalui bunyi berulang dan penggunaan istilah lokal seperti carang (cabang bambu) dan mbabah (melubangi bawah dinding), penyair menampilkan kehidupan masyarakat desa yang akrab dengan alam sekaligus waspada terhadap ancaman.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kewaspadaan dan kehidupan masyarakat desa di tengah ancaman. Selain itu, terdapat tema tentang peran alam sebagai bagian dari sistem kehidupan manusia.
Puisi ini bercerita tentang suara “kolik” (kemungkinan burung malam) yang hadir di tengah kesunyian malam desa. Suara tersebut tidak hanya menjadi bagian dari alam, tetapi juga berfungsi sebagai “penjaga” yang membangunkan warga. Dalam situasi paceklik, ketika pencurian marak terjadi, suara burung ini diharapkan mampu mengingatkan dan membangunkan masyarakat agar tetap waspada menjaga desa.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- “Kolik” melambangkan tanda alam yang memiliki fungsi sosial bagi manusia.
- Kehidupan desa yang sederhana tetap memiliki sistem perlindungan, baik melalui manusia maupun alam.
- Ada hubungan erat antara manusia dan alam, di mana alam turut membantu menjaga keseimbangan hidup.
- Masa paceklik menggambarkan kondisi sulit yang dapat memicu tindakan kriminal.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, sedikit mencekam, namun juga penuh kewaspadaan. Bunyi “kolik” menciptakan nuansa malam yang hidup sekaligus waspada.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik:
- Manusia harus tetap waspada, terutama dalam situasi sulit.
- Alam dapat menjadi sahabat sekaligus penanda bagi kehidupan manusia.
- Kebersamaan dan kesadaran kolektif penting dalam menjaga keamanan lingkungan.
Imaji
Puisi ini memiliki imaji yang cukup kuat:
- Imaji auditif: bunyi “kolik kolik kolik” yang berulang dan nyaring.
- Imaji visual: “malam”, “desa”, “carang”, “rumah”, “angkasa”.
- Imaji suasana: kesunyian malam yang dipenuhi kewaspadaan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan:
- Onomatope: “kolik kolik kolik” sebagai tiruan bunyi.
- Repetisi: pengulangan kata “kolik” untuk menegaskan suasana dan fungsi bunyi.
- Personifikasi: burung seolah memiliki peran sebagai penjaga dan pemberi peringatan.
- Simbolisme: kolik sebagai simbol kewaspadaan dan tanda bahaya.
Puisi “Kolik” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menggambarkan kehidupan desa yang sederhana namun penuh makna. Dengan memanfaatkan bunyi dan simbol alam, puisi ini menunjukkan bahwa dalam kesunyian malam pun terdapat sistem kewaspadaan yang hidup, sekaligus menegaskan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.