Puisi: Memintal Awan (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Memintal Awan” karya Oka Rusmini menyampaikan pesan bahwa hubungan yang dibangun tanpa fondasi nilai yang kuat akan mudah rapuh.
Memintal Awan

sayap yang tumbuh pada tubuhku
kaurenggut
aku melepasnya satu-satu
kauwarnai setiap perjalananku
dengan bayang-bayang
yang tak kupahami
di mana para dewa menyembunyikan
senjata dan wangi bunga
kau lahir dari dunia asing
dewa-dewa yang kusembah
tidak mengenalmu
percintaan apa yang dikeratkan
pada urat tangan
terbuang dari bumiku
tanpa kausadari kunilanati setiap ombak
yang kauhamburkan di tubuhku
kita mulai pandai memintal awan
melilitkannya pada percintaan asing ini
menitiskan tanah dan ladang penuh semak

1990

Sumber: Warna Kita (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Memintal Awan” karya Oka Rusmini menghadirkan pergulatan batin yang intens dalam relasi cinta dan identitas. Dengan bahasa simbolik yang khas, penyair meramu pengalaman personal dengan latar spiritual dan kultural. Sajak ini terasa puitis sekaligus getir, menghadirkan konflik antara dunia lama dan dunia baru.

Tema

Tema utama puisi ini adalah konflik identitas dalam percintaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keterasingan, perbedaan nilai, serta pergulatan perempuan dalam relasi yang tidak sepenuhnya setara.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa sayapnya—simbol kebebasan atau kekuatan dirinya—direnggut. Ia melepaskan sayap itu satu per satu, sementara pasangannya mewarnai perjalanannya dengan bayang-bayang yang tak dipahami.

Ada perbedaan dunia yang tajam: “dewa-dewa yang kusembah / tidak mengenalmu”. Ini menunjukkan benturan keyakinan atau latar budaya. Percintaan digambarkan sebagai sesuatu yang “dikeratkan pada urat tangan”—sebuah hubungan yang menyakitkan dan memaksa.

Pada bagian akhir, muncul metafora “memintal awan” dan “melilitkannya pada percintaan asing ini”. Relasi tersebut tampak rapuh dan tak berakar, hingga akhirnya “menitiskan tanah dan ladang penuh semak”.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah tentang hilangnya identitas dan kebebasan dalam hubungan yang tidak seimbang. Sayap yang direnggut melambangkan kemandirian yang terkorbankan.

“Dewa-dewa yang kusembah tidak mengenalmu” menyiratkan keterputusan spiritual dan budaya. Hubungan itu terasa asing, tidak memiliki legitimasi dalam dunia nilai yang dianut sang penyair.

“Memintal awan” menjadi simbol membangun sesuatu dari yang tak berwujud—cinta yang rapuh, tidak membumi, dan mudah tercerai. Tanah dan ladang penuh semak di akhir puisi mengisyaratkan ketidaksuburan relasi tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini muram, reflektif, dan penuh kegelisahan. Ada rasa kehilangan, keterasingan, dan kekecewaan yang mengalir di setiap larik.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menjaga jati diri dalam relasi cinta. Puisi ini seolah mengingatkan bahwa cinta tidak seharusnya menghapus identitas, keyakinan, dan akar budaya seseorang. Selain itu, puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa hubungan yang dibangun tanpa fondasi nilai yang kuat akan mudah rapuh.

Puisi “Memintal Awan” karya Oka Rusmini merupakan refleksi puitik tentang cinta yang asing dan konflik identitas yang menyertainya. Melalui metafora sayap, dewa, dan awan, penyair menggambarkan relasi yang rapuh dan tidak berakar. Puisi ini menegaskan bahwa cinta sejati seharusnya tidak menghapus jati diri, melainkan menumbuhkan dan menguatkannya.

Oka Rusmini
Puisi: Memintal Awan
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.