Nyanyian Tengkorak
Seribu pinggan, senyum dan sangsiku
membuatku tak kenal kubu
hanya dalam liang suara berdesakan
diselingi jerit panjang.
Sekian hari dan tahun
cabang dahan dan sekian ranting
digantung doa kering
di atas laut beracun.
Kembalilah o, darah dagingku!
Sayapmu berderai
merangkum peninggalanku
tahulah! Dari mana getarmu bersumbu
berapa harga senyum
dan apa makna cium?
O, langit!
O, bumi!
Apakah yang kini harus kubasuh?
1979
Sumber: Ketika Hitam Dikatakan Putih dan Sajak Tetap Bersuara (2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Nyanyian Tengkorak” menampilkan kekuatan diksi yang padat, simbolik, dan emosional. Sebagaimana karya-karya D. Zawawi Imron lainnya, puisi ini menggabungkan unsur religiusitas, refleksi eksistensial, dan kritik sosial dalam bahasa yang metaforis. Judulnya sendiri sudah mengisyaratkan ironi: “nyanyian” identik dengan kehidupan dan suara, sedangkan “tengkorak” merepresentasikan kematian atau sisa tubuh tanpa ruh.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan tentang kematian, kehancuran moral, dan pertanggungjawaban manusia atas kehidupan yang dijalaninya. Tengkorak dapat dimaknai sebagai simbol kefanaan, sedangkan “nyanyian” adalah suara batin yang masih tersisa setelah tubuh hancur.
Puisi ini bercerita tentang kegelisahan seseorang yang mempertanyakan nilai hidup, harga senyum, makna kasih sayang, serta dosa-dosa yang mungkin telah mengotori dirinya dan lingkungannya. Ada nuansa penyesalan sekaligus seruan spiritual yang kuat.
Makna Tersirat
Secara literal, puisi ini menghadirkan gambaran tentang suara dari kehancuran. Namun, Makna Tersirat yang dapat ditafsirkan meliputi:
- Kritik terhadap konflik dan perpecahan. Larik “membuatku tak kenal kubu” mengisyaratkan situasi sosial yang terbelah—entah karena ideologi, politik, atau kepentingan—hingga identitas menjadi kabur.
- Kehampaan spiritual. Ungkapan “digantung doa kering / di atas laut beracun” menunjukkan doa yang kehilangan makna, ritual tanpa ketulusan, atau iman yang terkontaminasi.
- Pertanyaan eksistensial tentang nilai kehidupan. “berapa harga senyum / dan apa makna cium?” menjadi refleksi tentang makna kasih, kejujuran, dan relasi manusia.
Puisi ini tidak memberi jawaban eksplisit, tetapi mengajak pembaca merenungkan kembali nilai-nilai dasar kemanusiaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung muram, penuh kegelisahan, dan reflektif. Terdapat tekanan emosional yang kuat, terutama pada bagian seruan:
“O, langit!O, bumi!Apakah yang kini harus kubasuh?”
Seruan tersebut menciptakan atmosfer pengakuan, penyesalan, dan pencarian penebusan. Nada puisinya seperti ratapan sekaligus doa.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk:
- Mengintrospeksi diri sebelum terlambat.
- Menyadari bahwa kehidupan bukan sekadar rutinitas, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual.
- Menjaga kemurnian doa, cinta, dan hubungan antarmanusia agar tidak menjadi “kering” dan kehilangan makna.
Puisi ini mengingatkan bahwa pada akhirnya, manusia akan berhadapan dengan nurani dan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidupnya.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji simbolik, antara lain:
- Imaji visual: “seribu pinggan”, “liang suara”, “cabang dahan”, “laut beracun”, “sayapmu berderai”.
- Imaji auditif: “jerit panjang” dan “nyanyian” menghadirkan kesan bunyi yang menyayat.
- Imaji gerak: “sayapmu berderai”, “merangkum peninggalanku” menampilkan dinamika kehancuran dan pelukan masa lalu.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan dunia yang retak, penuh luka, namun masih menyimpan gema suara hati.
Majas
Beberapa Majas yang dominan dalam puisi ini meliputi:
- Metafora: “Nyanyian tengkorak” sendiri merupakan metafora tentang suara dari kematian atau kesadaran setelah kehancuran.
- Personifikasi: “doa kering” dan “laut beracun” memberi sifat konkret pada konsep abstrak.
- Hiperbola: “Seribu pinggan” menegaskan kelimpahan atau keramaian secara berlebihan untuk memperkuat efek emosional.
- Retorika: Pertanyaan seperti “berapa harga senyum” dan “apa makna cium?” tidak menuntut jawaban, melainkan mengajak refleksi mendalam.
Puisi “Nyanyian Tengkorak” karya D. Zawawi Imron merupakan karya reflektif yang menyoroti kefanaan, kehampaan spiritual, dan kegelisahan manusia modern. Puisi ini bukan sekadar ratapan, melainkan panggilan untuk kembali pada kesadaran diri dan kemurnian nurani sebelum semuanya benar-benar menjadi “tengkorak” tanpa suara.

Puisi: Nyanyian Tengkorak
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.