Puisi: Permintaan Anak (Karya Umbu Landu Paranggi)

Puisi “Permintaan Anak” karya Umbu Landu Paranggi menyampaikan pesan bahwa komunikasi dalam keluarga harus dilandasi kasih sayang dan pengertian.
Permintaan Anak

papa, buatkan anak ayunan
di bawah pohon di tengah pekarangan

papa, anak sudah jemu dengan boneka di toko tionghoa
sudah anak ajak bicara mendengar saja bisanya

papa, seperti selalu papa katakan
– jangan suka bermain di luar halaman di tengah jalan
– jangan suka memanjat pohon bergantung di dahan kayu
kesana-kemari harus seijin ibumu

ai papa, sudah anak lewat pagar halaman melalaikan pesan
– sudah anak lihat orang ketabrak mobil di tengah jalan
– sudah anak hitung rumah-rumah dari pucuk pohon
anak dolan kesana-kemari tanpa pamit pada ibu

papa, buatkan anak ayunan di bawah pohon di tengah pekarangan
– kasihan betapa ibu kupermalukan
– ibu tiada bisa memanjat pohon
– ibu tiada bisa melompat serokan
papa, sayang ibu sayang anak buatkan aku ayunan

Sumber: Majalah Mimbar Indonesia (1 Mei 1960)

Analisis Puisi:

Puisi “Permintaan Anak” karya Umbu Landu Paranggi menghadirkan suara polos seorang anak yang berbicara langsung kepada ayahnya. Dalam bentuk dialog sederhana, puisi ini menyimpan lapisan makna tentang kasih sayang keluarga, batasan, pelanggaran, dan kebutuhan akan ruang aman bagi tumbuh kembang anak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kasih sayang dalam keluarga dan kebutuhan anak akan perhatian serta ruang bermain yang aman. Puisi ini juga mengangkat tema kepatuhan dan penyesalan atas pelanggaran nasihat orang tua.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang meminta ayahnya membuatkan ayunan di bawah pohon di tengah pekarangan. Permintaan itu muncul karena ia merasa jemu dengan boneka yang hanya bisa “mendengar saja,” tanpa mampu menjadi teman bermain yang hidup.

Anak tersebut mengingat nasihat ayahnya agar tidak bermain di luar halaman, tidak memanjat pohon, dan selalu meminta izin pada ibu. Namun ia mengakui telah melanggar pesan itu: keluar pagar, melihat kecelakaan di jalan, memanjat pohon, dan bermain tanpa pamit.

Permintaan ayunan kemudian menjadi simbol keinginan untuk tetap bermain, tetapi dalam ruang yang aman dan tidak lagi mempermalukan ibu. Di akhir puisi, anak menegaskan cinta kepada ibu dan ayah, sekaligus memohon agar ayah memenuhi permintaannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah pentingnya menyediakan ruang aman bagi anak untuk bertumbuh. Larangan tanpa solusi dapat mendorong anak untuk melanggar karena dorongan rasa ingin tahu yang alami.

Ayunan di pekarangan melambangkan kompromi antara kebebasan dan perlindungan. Anak tetap dapat bermain dan bereksplorasi, tetapi dalam pengawasan dan batas yang wajar.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kesadaran moral anak. Ia memahami bahwa tindakannya telah mempermalukan ibu, sehingga permintaan ayunan menjadi bentuk tanggung jawab dan penyesalan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini lembut, polos, dan sedikit haru. Kepolosan anak terasa dalam pengakuan jujur atas pelanggaran. Ada nuansa kasih sayang yang hangat, terutama pada bagian akhir ketika anak menegaskan rasa sayangnya kepada ibu dan ayah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah pentingnya keseimbangan antara larangan dan pemenuhan kebutuhan anak. Orang tua tidak hanya perlu melarang, tetapi juga menyediakan alternatif yang aman. Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa komunikasi dalam keluarga harus dilandasi kasih sayang dan pengertian. Anak yang didengar dan difasilitasi akan lebih mudah memahami batasan.

Puisi “Permintaan Anak” adalah puisi yang sederhana namun sarat makna. Umbu Landu Paranggi menghadirkan suara anak sebagai pusat refleksi tentang kasih sayang, batasan, dan tanggung jawab dalam keluarga. Melalui simbol ayunan, puisi ini menegaskan bahwa kebebasan anak perlu diarahkan, bukan ditekan. Pada akhirnya, cinta dalam keluarga menjadi fondasi yang memungkinkan anak tumbuh dengan aman dan bahagia.

Umbu Landu Paranggi dan Emha Ainun Nadjib
Puisi: Permintaan Anak
Karya: Umbu Landu Paranggi

Biodata Umbu Landu Paranggi:
  • Umbu Landu Paranggi lahir pada tanggal 10 Agustus 1943 di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur.
  • Umbu Landu Paranggi meninggal dunia pada tanggal 6 April 2021, pukul 03.55 WITA, di RS Bali Mandara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.