Puisi: Pura Luhur Uluwatu (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Pura Luhur Uluwatu” karya Wayan Jengki Sunarta menyampaikan pesan bahwa kesunyian adalah jalan untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi.
Pura Luhur Uluwatu

beratus ratus tahun
ketika sunyi kali pertama
tersentuh tangan sang kawi
suara tekukur di bukit kekeran
masih saja karib dengan tangga
tangga batu berlumut
dengan kera kera penjaga
kawasan dewataku

sayup sayup laut melantunkan
mantram gayatri
bunga bunga kamboja suci
aroma lumut tangga batu
dan debur ombak
mengantar kembara doaku
hingga ke tebing karang
hingga ke kerang semadi

lewat sudah ratusan tahun
bunga bunga pudak masih saja
wangi dalam kakawin sang kawi
Nirartha semadi dalam kerang mutiara
dari pantai ke pantai menetaskan sunyi
di pesanggrahan dewata
tempat kesuir angin menemu ibu

1997

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Pura Luhur Uluwatu” karya Wayan Jengki Sunarta merupakan sajak yang sarat nuansa spiritual dan kultural. Dengan latar Pura Luhur Uluwatu—salah satu pura penting di Bali—penyair menghadirkan suasana sakral yang berpadu dengan keindahan alam. Puisi ini memadukan sejarah, mitologi, dan pengalaman religius dalam bingkai kontemplatif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan kesinambungan tradisi. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesucian alam sebagai ruang pertemuan manusia dengan Yang Ilahi.

Puisi ini bercerita tentang Pura Luhur Uluwatu yang telah berdiri “beratus ratus tahun”. Sunyi yang mula-mula disentuh oleh “tangan sang kawi” menandakan kehadiran penyair atau resi yang memberi makna pada tempat itu.

Tangga batu berlumut, suara tekukur, kera-kera penjaga, dan debur ombak membentuk lanskap sakral. Laut melantunkan “mantram gayatri”, bunga kamboja dan pudak tetap harum dalam lintasan waktu. Penyair juga menyebut “Nirartha”, tokoh spiritual penting dalam sejarah Bali, yang “semadi dalam kerang mutiara”.

Semua elemen itu menghadirkan kesinambungan antara masa lalu dan masa kini, antara manusia, alam, dan dewata.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesucian tidak lekang oleh waktu. Pura bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang spiritual yang menyimpan jejak doa, semadi, dan tradisi turun-temurun.

Tangga batu berlumut melambangkan perjalanan panjang sejarah. Laut yang melantunkan mantra menyiratkan bahwa alam pun menjadi bagian dari ibadah. “Kerang semadi” dan “kerang mutiara” menjadi simbol kedalaman batin—kesunyian yang melahirkan kebijaksanaan.

Puisi ini juga menyiratkan hubungan harmonis antara manusia dan alam dalam kosmologi Bali, di mana alam bukan objek, melainkan bagian dari sakralitas hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini hening, sakral, dan meditatif. Ada ketenangan yang dalam, seolah pembaca diajak menaiki tangga batu menuju ruang doa di tepi tebing karang, dengan laut sebagai pengiring mantra.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya menjaga tradisi dan kesucian ruang spiritual. Puisi ini mengingatkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar sejarah, melainkan sumber makna yang terus hidup. Selain itu, puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kesunyian adalah jalan untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi.

Puisi “Pura Luhur Uluwatu” karya Wayan Jengki Sunarta adalah meditasi puitik tentang kesucian, tradisi, dan harmoni alam-spiritual. Dengan menghadirkan lanskap pura, laut, bunga, dan tokoh spiritual, penyair menegaskan bahwa ruang sakral adalah tempat sunyi yang terus hidup dalam sejarah dan doa. Puisi ini menjadi penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus ajakan untuk menjaga kedalaman batin dalam kehidupan modern.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Pura Luhur Uluwatu
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.