Selalu Terulang
Ketika lisan sudah tersampaikan
Setiap kata dan kalimat terlontarkan
Hanya acuh tak acuh didapatkan
Hati teriris yang bisa dipendamkan
Dan debat kusir jadi tak menentu
Hal ringan jadi sulit menentu
Putar melilit tak menentu
Putusan akhir tak jelas menentu
Karena kekurangan yang dimiliki
Yang tak bisa ditolak dan dihindari
Anugerah dari Yang Maha Kuasa
Restu dari Maha Pencipta
Namun masih ada kebaikan di hati ini
Tertuang dalam memori
Terkirim via jalur magnetik
Jadi solusi terbaik di antara terbaik
Menjadikan hal sulit jadi plong
Terlihat ruwet mumet jadi plong
Karena ada hati yang selalu terjaga
Ketulusan dan kejujuran hati yang selalu terjaga
Johar Grande-Kota Bogor, Minggu, 16 Juni 2024, 07:21 WIB
Analisis Puisi:
Puisi “Selalu Terulang” karya Riyanto merupakan puisi reflektif yang menggambarkan konflik komunikasi dan dinamika hubungan antarmanusia. Dengan diksi yang lugas dan repetitif, penyair menekankan perasaan terluka, kebuntuan dalam perdebatan, hingga akhirnya menemukan jalan keluar melalui ketulusan hati.
Puisi ini menampilkan proses emosional dari ketegangan menuju kelegaan.
Tema
Tema puisi ini adalah konflik komunikasi yang berulang serta upaya menemukan solusi melalui ketulusan dan kejujuran.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah menyampaikan isi hati dan pikirannya, tetapi tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Situasi tersebut memicu perdebatan yang berlarut-larut dan tidak menemukan titik temu. Namun, pada akhirnya, solusi muncul melalui kesadaran akan kekurangan diri dan kekuatan hati yang tulus.
Tema pengendalian emosi dan pencarian solusi menjadi inti dari keseluruhan puisi.
Makna Tersirat
Secara tekstual, puisi ini menggambarkan perdebatan dan sikap acuh tak acuh. Namun, makna yang dapat dipahami adalah bahwa konflik sering kali bukan hanya soal perbedaan pendapat, melainkan juga soal ego dan ketidakmampuan memahami kekurangan diri.
- “Debat kusir” menyiratkan perdebatan yang tidak produktif.
- “Putar melilit tak menentu” melambangkan persoalan yang semakin rumit karena tidak diselesaikan dengan bijak.
- “Jalur magnetik” dapat dimaknai sebagai koneksi batin atau komunikasi yang tidak kasatmata, seperti doa atau energi positif.
Puisi ini menyiratkan bahwa solusi sejati bukan terletak pada menang atau kalah dalam debat, tetapi pada kejernihan hati.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi bergerak dari tegang dan emosional menuju lega dan optimistis. Pada bagian awal, pembaca merasakan luka dan kebuntuan. Namun, bagian akhir menghadirkan suasana “plong”, yang menandakan pelepasan beban.
Perubahan suasana ini memperlihatkan proses penyembuhan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang disampaikan puisi ini adalah pentingnya menjaga ketulusan dan kejujuran hati dalam menghadapi konflik. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan; yang lebih penting adalah menemukan solusi terbaik. Puisi ini juga mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan sebagai anugerah dari Tuhan, sehingga sikap rendah hati menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan.
Puisi “Selalu Terulang” karya Riyanto menghadirkan refleksi tentang konflik komunikasi yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Puisi ini menegaskan bahwa kejernihan hati dan kejujuran adalah kunci untuk mengubah keruwetan menjadi kelegaan.
Karya: Riyanto
Biodata Riyanto:
- Riyanto lahir pada tanggal 19 September 1977 di Jakarta.