Puisi: Sketsa Rindu (Karya Ahmad Yani AZ)

Puisi “Sketsa Rindu” karya Ahmad Yani AZ menyampaikan bahwa keluhan dan sumpah serapah tidak cukup; perlu ada perubahan sistemik agar masyarakat ...
Sketsa Rindu
(Gelap dan Kering)

Aku seperti terkurung waktu
Seraya mencari negeri antah berantah
Kampungku tak lagi sekedar persoalan bencana atau corona
Tapi masih ada yang menjadi pekerjaan rumah
Sebuah ruang telah tertusuk ilalang
Dan aku tak jadi mandi
Karena air sungai tercemar sampah
Dan masih menunggu yang katanya ada air bersih dor to dor
Masih merindukan yang belum stabil
Aku meraba dalam gelap
Karena hanya ada lilin dan teplok di depan mata
AAAAAAkhh persoalan itu itu saja ............... listrik dan air..??
Tapi tagihan meledak
Mencekik kantong
Sumpah serapah tak ada arti
Hanya bisa diam, pasrah
Ruang rindu entah dimana
Dan kini semua serba payah
Jangankan baju, untuk beras pun bingung

Kuala Tungkal, Jambi
21 April 2021/02.00 WIB dini hari

Analisis Puisi:

Puisi “Sketsa Rindu” karya Ahmad Yani AZ merupakan sajak yang menghadirkan potret sosial secara lugas dan realistis. Melalui bahasa yang sederhana dan langsung, penyair menggambarkan situasi kehidupan masyarakat kecil yang terhimpit persoalan ekonomi dan infrastruktur dasar.

Puisi ini tidak menghadirkan rindu dalam arti romantik, melainkan rindu akan kehidupan yang layak, stabil, dan manusiawi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesulitan hidup dan krisis sosial-ekonomi di tengah keterbatasan fasilitas dasar. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi persoalan yang berulang—listrik, air bersih, dan kebutuhan pokok.

Rindu dalam puisi ini bukan sekadar perasaan personal, melainkan kerinduan kolektif terhadap kesejahteraan.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik sosial terhadap ketimpangan pembangunan dan lemahnya pengelolaan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika air bersih dan listrik masih menjadi persoalan, ada ironi dalam klaim kemajuan.

“Ruang rindu entah dimana” dapat dimaknai sebagai hilangnya harapan atau impian sederhana untuk hidup layak. Rindu bukan hanya pada seseorang, tetapi pada keadaan yang lebih baik.

Puisi ini juga menyiratkan rasa keterasingan dan kebingungan dalam menghadapi realitas yang stagnan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung muram, frustratif, dan getir. Nada emosional terasa dalam ungkapan keluhan dan pasrah:

“Sumpah serapah tak ada arti
Hanya bisa diam, pasrah”

Namun, di balik kepasrahan itu tersimpan kegelisahan dan kritik yang tajam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kebutuhan dasar seperti air, listrik, dan pangan merupakan hak mendasar yang seharusnya terpenuhi. Puisi ini mengingatkan pentingnya perhatian serius terhadap persoalan sosial yang sering dianggap sepele, padahal berdampak langsung pada kehidupan rakyat. Selain itu, puisi ini menyampaikan bahwa keluhan dan sumpah serapah tidak cukup; perlu ada perubahan sistemik agar masyarakat tidak terus-menerus berada dalam siklus kesulitan.

Puisi “Sketsa Rindu” adalah puisi realis yang merekam kesulitan hidup masyarakat dalam menghadapi persoalan dasar yang tak kunjung usai. Ahmad Yani AZ menghadirkan rindu sebagai simbol harapan akan kehidupan yang lebih stabil dan layak.

Puisi ini tidak hanya menjadi curahan hati, tetapi juga kritik sosial yang lugas. Melalui bahasa sederhana dan langsung, penyair menegaskan bahwa di tengah modernitas, masih ada ruang-ruang gelap yang menanti cahaya perubahan.

Puisi Ahmad Yani AZ
Puisi: Sketsa Rindu
Karya: Ahmad Yani AZ

Biodata Ahmad Yani AZ:

Ahmad Yani AZ lahir di Kuala Tungkal (Bungsu dari 9 bersaudara, 11 Februari 1969. Sejak kelas 4 SD sudah mulai mencoba untuk terjun ke dunia kepenulisan dan sampai SLTA maupun saat melanjutkan studi pada Akademi Komunikasi Jurnalistik Yogyakarta sampai sekarang ini. Yang pada waktu itu mengikuti test pada Universitas Jambi, IKIP Karang Malang dan Institut Seni Indonesia Jurusan Tari, justru lulus pada Akademi Komunikasi Jurnalistik Yogyakarta (tahun 1993).

Di samping menekuni dunia kepenulisan, juga sambil aktif mengisi waktu masuk di sanggar Natya Lakshita Yogyakarta pimpinan Didik Nini Thowok (3 bulan) dan LPK. Kepenyiaran Radio & TV (Jurusan Kepenulisan Naskah 1994).

Selesai di Akademi Komunikasi Yogyakarta dan kembali ke kampung halaman, kemudian menjadi Freelance Journalist (dan magang) di Harian Independent (yang sekarang Jambi Independent) kemudian aktif menulis di rubrik opini dan budaya di Pos Metro, Jambi Ekspres dan sempat menjadi Kabiro/Reporter Mingguan Jambi Post (1998-2000), Pimred Bulletin Poltik KIN RADIO (2004), kemudian diminta menjadi staf redaksi Mingguan Media Pos Medan (lebih kurang 1,5 tahun: 2002), Wakil Sekretaris Pincab. Pemuda Panca Marga (2001–2014), Bagian Seni Budaya/Pariwisata Pemuda Panca Marga Tanjab Barat 2014-2018 dan 2009-2012 Freelance Journalist: Harian Radar Tanjab, Pos Metro, Jambi Eks, Jambi Independent, Infojambi, Tipikor Meda, Harian Jambi, Tribun, Staf Disporabudpar Tanjab Barat (November 2014 sampai sekarang Wartawan/Pengasuh Rubrik Seni dan Sastra Harian Tungkal Post). Putra bungsu H. Ahmad Zaini (Tokoh Pejuang/Anggota Veteran, Anggota Laskar Hisbullah, Barisan Selempang Merah & Saksi/Pelaku Sejarah).
© Sepenuhnya. All rights reserved.