Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi (1)
Kutegur namamu suatu saat
Malam awal sesaji. Kelam merapat
Sunyi beringas membanting pintu
Sambil kau samadi. Agak ragu
serta gemetar mulutku — yakin!
tiada kata-kata
Hanya nostalgia
—
Nostalgia?
—
Ya, barangkali. Karena nista dan ujub
yang tetap milik kita. Bukankah
Karena malu dan haru. Di tingkap senyuman menakup
Habis dalam samar: juga pelangi yang gairah
Sering hadir di beranda rumah
Seketika kau tak betah
Ingin melayang-layang
Tapi tak macam bidari
yang tahu-tahu sudah mulai bosan
Bagi kita yang selalu tak mengerti
Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi (2)
Sekali waktu kutemu kembali
dirimu. Masih berkelopot lumpur
Habis hujan, cahaya meringkas kembali pokok-pokok turi
Hadir dalam ceruk. Segalanya .....
pintu-pintu sendiri
Saat itu kudorong pintu
menyembunyikan tokek. Tapi aku tak lagi geli
Bayang-bayang jadi coklat — cemas lagi kutaruh, Kau bisa!
Sunyi berdering-dering — di sini
Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi (3)
a/
Senja serta kostum jingga
Harum mawar — kuncup putiknya
Angin menambak dengan derapnya
yang bermusuhan
Menunggu purnama yang berlugut
Menunggu Sawitri
atau gelak dewi
b/
Senja dalam pantun
Susut usai setelah gamelan ngungun
menghadirkan pelog-pelog pendek
menghadirkan mantera.
Hampir letih, di bilik gedek
Kau berkemas sebelom kering peluh
yang kucoba hirup bagi rabuku
Mesra dan angkuh
Bisik taubat; inilah khianat
Ah! jangankan menyesal
jangankan mursal
Dan inilah cinta, nafsu dan durjana!
Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi (4)
Oh,
(sambil telunjukmu menuding nyiur
di suatu malam — Tak ada tembangan)
Dingin kau sematkan bersama sepi yang 'nyasar
Kau sematkan juga sekuntum bunga
Model cinta lama. Atau pedesaan
Gelap pun menerima kita — berdua-dua
Guru kita adalah dongeng-dongeng
Orang-orang terdahulu, tapi bukan komik
atau ejaan-ejaan filsafat orang-orang pikir
"yang hanya merasa suci dalam diri melulu
yang mereka sendiri tahu petanya"
Biarlah mencaci kita
Kita hanya mistik
mengulang Adam
Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi (8)
kujumpa potretmu, di gardu sawah
ah, bukan lulung langit; kuntul yang menjatuhkan
sayapnya yang dhahir kecut gemanya
setelah melintasi cempaka
Sementara itu tawa pun getir
Riwayat mulai bergegas: badai hilir
Garang menerkam kita, sumsum kita
Tulang belulang kita — rambut kita. Mulai ubanan
Sementara tak ada anak kita sempat lahir
Benarkah aku kan mati seperti batang kara
Seperti dirimu yang mendahului
Terjangkit cacar, seminggu memuncak panas
Ketika aku tengah berhajat menulis puisi
Untuk dirimu
Sawitri....
Sumber: Horison (Maret, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi” karya Yunus Mukri Adi merupakan rangkaian fragmen liris yang membangun narasi batin tentang cinta, kehilangan, spiritualitas, dan kenangan. Disusun dalam beberapa bagian, puisi ini memperlihatkan perjalanan emosional seseorang terhadap sosok “gadis sunyi” yang hadir sebagai figur cinta sekaligus simbol refleksi diri.
Struktur berlapis dan citraan yang padat menjadikan puisi ini sebagai teks kontemplatif yang memadukan unsur mistik, budaya, dan tragedi personal.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta yang bersifat spiritual sekaligus tragis. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesunyian, kehilangan, dan perenungan eksistensial melalui ingatan terhadap sosok perempuan yang telah tiada.
Puisi ini bercerita tentang perjumpaan dan kenangan seseorang terhadap seorang gadis sunyi dalam “rumah puisi.” Pada bagian awal, suasana malam yang kelam dan nostalgia membingkai relasi yang sarat rasa malu, haru, dan nista.
Bagian-bagian berikutnya menghadirkan suasana pascahujan, senja, gamelan, mantra, hingga dialog batin tentang cinta, nafsu, dan khianat. Sosok perempuan itu tampil dalam citra sakral sekaligus manusiawi—ia bukan bidari, melainkan figur yang rapuh dan nyata.
Pada bagian akhir, tragedi terungkap: gadis itu (disebut Sawitri) telah meninggal karena cacar. Penyair merenungkan kemungkinan mati dalam kesendirian, tanpa anak yang sempat lahir. Kenangan berubah menjadi elegi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta tidak sekadar relasi fisik, melainkan pengalaman batin yang sarat dimensi spiritual dan mistik. “Rumah puisi” dapat dimaknai sebagai ruang batin tempat kenangan dan rasa disimpan.
Sosok Sawitri bukan hanya perempuan konkret, tetapi juga simbol idealitas cinta yang tak pernah sepenuhnya tergapai. Kehadirannya yang singkat dan kematiannya yang dini mempertegas kefanaan hidup.
Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap rasionalitas kosong—terlihat pada sindiran terhadap “ejaan-ejaan filsafat orang-orang pikir.” Penyair menegaskan bahwa pengalaman cinta dan kehilangan lebih dalam daripada sekadar wacana intelektual.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini kompleks: muram, mistis, romantik, dan elegiak. Pada awalnya terasa sunyi dan nostalgik, lalu bergerak ke arah gairah dan konflik batin, hingga akhirnya menjadi duka dan getir. Pergeseran suasana ini mengikuti perjalanan relasi dan takdir yang tragis.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah kesadaran akan kefanaan hidup dan pentingnya menghargai cinta selagi masih ada. Puisi ini juga menyampaikan bahwa kesunyian dan kehilangan merupakan bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia. Selain itu, ada pesan untuk tidak terjebak dalam kesombongan intelektual, karena hakikat hidup lebih sering ditemukan dalam pengalaman batin yang sederhana namun mendalam.
Puisi “Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi” adalah puisi elegi yang merajut cinta, spiritualitas, dan kehilangan dalam bahasa simbolik yang kaya. Yunus Mukri Adi membangun lanskap batin yang kompleks, di mana sosok gadis sunyi menjadi pusat refleksi tentang hidup dan mati. Pada akhirnya, puisi ini menegaskan bahwa cinta dan puisi adalah ruang yang menyimpan jejak kenangan—bahkan ketika raga telah tiada.
Puisi: Wajah Gadis Sunyi dalam Rumah Puisi
Karya: Yunus Mukri Adi
Biodata Yunus Mukri Adi:
- Yunus Mukri Adi lahir pada tanggal 26 Januari 1941.