Digital Skills Dorong Mahasiswa Belajar Lebih Cerdas, Produktif, dan Kritis di Era AI

IKIP Widya Darma Surabaya kembali mengajak mahasiswa meningkatkan digital skills melalui webinar tentang AI dan pemanfaatan teknologi secara bijak.

IKIP Widya Darma Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan perkembangan zaman melalui penguatan literasi digital. Di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Drs. Nur Sukri, M.Si., kampus ini terus mendorong berbagai program akademik yang relevan dengan kebutuhan era digital, khususnya dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan webinar bertajuk “Digital Skill” yang digagas oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Webinar tersebut dilaksanakan pada Minggu, 10 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap pentingnya digital skills.

Dalam kegiatan ini, dua narasumber dihadirkan untuk memberikan perspektif akademik dan praktis mengenai digital skills, yaitu Siti Ramlah, S.S., M.Hum. dari IKIP Widya Darma Surabaya dan Rina Rachmawati, S.Pd., M.Pd. dari Politeknik Negeri Malang. Keduanya menekankan bahwa teknologi bukan pengganti kemampuan berpikir, melainkan alat bantu untuk belajar lebih efektif, produktif, dan bertanggung jawab.

Webinar Digital Skill

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang sebelumnya banyak berlangsung secara tatap muka kini semakin terhubung dengan ruang digital. Mahasiswa tidak lagi hanya belajar dari buku dan penjelasan dosen di kelas, tetapi juga dari video pembelajaran, aplikasi digital, platform diskusi, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Fenomena tersebut menjadi dasar pentingnya penguasaan digital skills bagi mahasiswa. Digital skills tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan gawai atau aplikasi, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi secara efektif untuk mencari informasi, mengevaluasi sumber, berkomunikasi, membuat konten, menjaga keamanan digital, serta mendukung produktivitas belajar. Dalam konteks pembelajaran, digital skills dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa, mendorong kemandirian belajar, dan membantu proses belajar menjadi lebih aktif serta bermakna .

Webinar bertema Digital Skills menegaskan bahwa mahasiswa saat ini hidup di era digital yang ditandai oleh akses informasi tanpa batas, teknologi yang semakin canggih, dan perkembangan AI yang sangat cepat. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membuat proses belajar menjadi lebih baik. Banyak mahasiswa masih menghadapi tantangan seperti sulit fokus, mudah terdistraksi oleh media sosial, belajar dalam waktu lama tetapi kurang efektif, serta mengalami kelebihan informasi atau information overload.

Karena itu, mahasiswa membutuhkan strategi belajar yang tepat. Pembelajaran di era digital tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya sumber informasi, tetapi memerlukan kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakan informasi sesuai kebutuhan. Di sinilah konsep smart learning menjadi penting. Smart learning merupakan cara belajar yang berfokus pada pemahaman, bukan sekadar hafalan. Belajar cerdas juga berarti belajar secara efektif, terarah, sesuai kebutuhan, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.

Smart Learning

Dalam materi webinar dijelaskan bahwa digital skills dalam pembelajaran mencakup kemampuan mencari informasi dengan tepat, mengelola tugas dan waktu, memahami materi lebih cepat, serta menghasilkan karya akademik. Mahasiswa perlu beralih dari pola belajar tradisional menuju pola belajar yang lebih strategis. Jika sebelumnya belajar sering dilakukan dengan membaca semua materi dari awal tanpa target yang jelas, maka dalam smart learning mahasiswa diarahkan untuk mencari inti materi, memahami poin penting, menetapkan tujuan belajar, dan memanfaatkan tools yang sesuai.

Salah satu aspek penting dalam digital skills adalah literasi informasi. Mahasiswa perlu memahami perbedaan antara mencari informasi melalui mesin pencari dan memberikan instruksi kepada AI. Melalui mesin pencari seperti Google, pengguna biasanya menemukan berbagai sumber, seperti artikel, jurnal, definisi, dan hasil penelitian. Sementara itu, melalui AI seperti ChatGPT atau Gemini, pengguna dapat memperoleh penjelasan langsung, rangkuman, contoh, dan ide awal berdasarkan instruksi yang diberikan.

Informatioin Literacy

Meski demikian, kemudahan memperoleh informasi harus disertai sikap kritis. Mahasiswa tidak boleh langsung mempercayai informasi pertama yang ditemukan. Informasi perlu diperiksa dengan melihat kredibilitas sumber, penulis, tanggal publikasi, bukti yang digunakan, serta membandingkannya dengan beberapa sumber lain. Langkah ini penting agar mahasiswa terhindar dari informasi yang keliru, tidak mutakhir, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Webinar juga menyoroti penggunaan AI sebagai asisten belajar. AI dapat membantu mahasiswa memahami materi, memperoleh penjelasan tambahan, membuat rangkuman, memperbaiki tulisan, mencari ide, hingga menyusun bahan presentasi. Beberapa tools yang diperkenalkan dalam materi antara lain ChatGPT, Google Gemini, Claude AI, Elicit, Consensus, Connected Papers, QuillBot, Scholarcy, Explainpaper, Grammarly, Wordtune, Canva, Gamma App, dan Tome.

AI sebagai Asisten Belajar

Namun, penggunaan AI harus dilakukan secara bijak. AI bukan pengganti berpikir, melainkan alat bantu berpikir. Mahasiswa tetap harus membaca, memahami, memeriksa, dan mengembangkan kembali hasil yang diberikan oleh AI. Materi webinar menekankan bahwa pengguna tidak boleh langsung percaya pada jawaban AI, melakukan copy-paste tanpa memahami, bergantung sepenuhnya, atau berhenti berpikir kritis. Sebaliknya, AI sebaiknya digunakan untuk membantu memahami materi, memperjelas konsep, mempercepat proses belajar, dan mendukung produktivitas akademik secara etis.

Kemampuan membuat instruksi atau prompt juga menjadi bagian penting dari digital skills. Hasil yang diberikan AI sangat bergantung pada kejelasan perintah yang diberikan pengguna. Perintah yang terlalu umum, seperti “Jelaskan materi ini”, dapat dibuat lebih baik menjadi “Jelaskan konsep ini dengan bahasa sederhana dan contoh sehari-hari”. Demikian pula perintah “Buatkan rangkuman” dapat diperjelas menjadi “Rangkum dalam lima poin utama disertai contoh”. Dengan prompt yang lebih spesifik, hasil yang diperoleh akan lebih sesuai dengan kebutuhan belajar.

Selain literasi informasi dan penggunaan AI, digital skills juga mencakup komunikasi digital. Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan berinteraksi, berbagi ide, dan berkolaborasi menggunakan teknologi. Dalam pembelajaran, mahasiswa dapat berdiskusi melalui platform digital, menyusun tugas bersama melalui dokumen daring, atau menyampaikan gagasan melalui media presentasi. Komunikasi digital yang baik membantu mahasiswa menyampaikan pemikiran secara jelas, sopan, dan efektif.

Keterampilan lain yang tidak kalah penting adalah content creation atau kreasi konten. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga perlu mampu menghasilkan karya digital yang bermakna. Karya tersebut dapat berupa tulisan akademik, presentasi, video singkat, podcast, poster, blog, atau media pembelajaran. Melalui kreasi konten, mahasiswa belajar mengolah informasi, menyusun gagasan, dan menyampaikan pesan secara kreatif.

Content Creation

Di sisi lain, penggunaan teknologi juga harus diimbangi dengan digital safety atau keamanan digital. Mahasiswa perlu memahami cara melindungi informasi pribadi, membuat kata sandi yang kuat, mengenali penipuan digital, menghindari tautan berbahaya, dan berhati-hati dalam membagikan data di ruang digital. Kesadaran ini penting agar mahasiswa dapat menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Webinar ini juga menegaskan bahwa teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia dalam pembelajaran. Teknologi harus digunakan untuk mendukung tujuan belajar, bukan sekadar mengikuti tren atau hiburan. Dalam konteks pendidikan, guru dan dosen tetap memiliki peran penting dalam membimbing, merancang aktivitas pembelajaran, memilih tools yang sesuai, serta memastikan teknologi digunakan secara efektif.

Sebagai langkah nyata, mahasiswa dapat mulai memperkuat digital skills dengan memilih tools yang sesuai kebutuhan, menggunakan AI untuk memahami materi, membuat catatan atau rangkuman digital, mengelola tugas dengan aplikasi produktivitas, serta menerapkannya dalam kegiatan akademik. Prinsip utama yang perlu dipegang adalah bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Yang tetap harus berpikir kritis, berkarya, dan bertanggung jawab adalah manusia itu sendiri.

Dengan demikian, webinar Digital Skills memberikan pesan penting bahwa keterampilan digital merupakan bekal utama bagi mahasiswa di era modern. Digital skills membantu mahasiswa belajar lebih cerdas, bekerja lebih produktif, menggunakan informasi secara kritis, serta memanfaatkan AI secara etis. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, mahasiswa perlu menjadi pengguna digital yang aktif, bijak, kreatif, dan bertanggung jawab.

Penulis:

  1. Nawang Wulan S.Pd.,M.Pd
  2. Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si.,M.Si
  3. Dr. Edy Suseno, S.Pd.,M.Pd

Para penulis merupakan dosen tetap di IKIP Widya Darma Surabaya di Prodi Pendidikan: Matematika dan Bahasa Inggris.

© Sepenuhnya. All rights reserved.