Oleh Nesa Aprilia
Rangkaian inovasi ilmiah dan teknologi, dari gemuruh revolusi industri hingga sampai pada era digital, telah mentransformasi peradaban dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Ilmu pengetahuan menjadi kunci dalam membangun kemajuan peradaban di berbagai aspek kehidupan. Di tengah kemajuan tersebut, derasnya arus globalisasi dan dominasi kapitalisme menyebabkan ilmu pengetahuan menuju kegelapan akibat krisis nilai spiritualitas dan moralitas. Misalnya, eksploitasi sumber daya alam yang menyebabkan penderitaan dan artificial intelligence yang mengancam moral. Sehingga, muncul kekhawatiran, apakah ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang ini benar-benar membangun peradaban yang beradab?
Islam, dengan semangat rahmatan lil ‘alamin, mengatur landasan perkembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan aspek spiritual dan moral agar memberi kebaikan bersama. Islam menawarkan epistemologi keilmuan yang mengharmonisasikan antara wahyu Ilahi dari Al-Qur’an dan Sunnah, rasionalitas akal, dan pengalaman manusia sebagai sumber perkembangan ilmu pengetahuan. Harmoni antara ketiganya menjadi ciri khas yang membedakan epistemologi Islam dari epistemologi keilmuan barat. Pandangan Barat cenderung hanya menekankan pada aspek rasionalisme dan empirisme.
Epistemologi keilmuan dalam islam yang pertama berakar pada bayani (tekstual). Konsep ini mengajarkan bahwa sumber ilmu pengetahuan yang utama dan fundamental terhimpun dalam Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam ini memuat wahyu Allah Swt. yang memberikan pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara mencari dan memahami ilmu pengetahuan. Selain Al-Qur’an, terdapat Sunnah Rasulullah saw., yaitu perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang berasal dari Nabi Muhammad saw.. Sunnah memberikan penjelasan, penguatan, dan bahkan rincian lebih lanjut terhadap ajaran yang terdapat dalam wahyu Al-Qur'an.
Dalam pendekatan bayani, analisis yang cermat terhadap naqli (tekstual) menjadi kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Para ulama dan ahli tafsir melakukan pengkajian yang ketat untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah, meliputi kaidah linguistik dan dimensi historis. Ilmu seperti fiqih, aqidah, akhlak dan tafsir dibangun atas dasar bayani. Namun, di sisi bayani yang menawarkan kepastian sumber pengetahuan dari Ilahi, umat manusia juga harus menyadari pentingnya sebuah kerasionalan akal dalam memahami kehidupan dan alam semesta.
Selanjutnya, epistemologi keilmuan dalam Islam juga bertumpu pada burhani (rasional). Pendekatan ini memanfaatkan aql (akal) yang merupakan anugerah Allah Swt. dan sebagai pembeda manusia dengan makhluk hidup lainnya, dalam proses perkembangan ilmu. Akal akan menggiring ilmu mengarah pada pembuktian yang rasional, empiris dan valid. Allah Swt. senantiasa mendorong manusia menggunakan akalnya untuk merenungkan ciptaan Allah Swt., memahami hukum-hukum alam, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebagaimana firmannya dalam QS. Al-Baqarah ayat 242 yang artinya, “Dan kami terangkan kepadamu ayat-ayat (hukum-hukum) kami agar kamu menggunakan akal (untuk berpikir)”.
Dalam tradisi keilmuan Islam, sejarah mencatat para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Rusdy, Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, dan banyak lainnya telah menunjukkan bagaimana harmoni antara wahyu dan akal dapat menghasilkan kemajuan ilmu pengetahuan yang signifikan. Mereka tidak hanya mendalami ilmu-ilmu agama, tetapi juga menggunakan pendekatan burhani untuk mendalami matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan ilmu umum lainnya. Mereka menunjukkan bahwa mempelajari alam semesta dan hukum-hukumnya melalui akal adalah bagian dari upaya untuk memahami kebesaran Allah Swt.
Tetapi, ada kalanya akal memiliki keterbatasan dalam memahami realitas, terutama pada hal yang bersifat metafisik karena tidak semua hal dapat dipahami dari uji secara sistematis. Dari sinilah epistemologi keilmuan dalam Islam secara tidak langsung memainkan pendekatan irfani. Irfani mengandalkan intuisi dan pengalaman spiritual (riyadoh dan tajribah) yang sering dikaitkan dengan karomah yang dialami oleh para waliyullah dan kedekatannya dengan Allah Swt. Meskipun demikian, irfani memiliki tingkat keyakinan yang paling tinggi, validasinya tetap harus diuji dengan bayani dan burhani.
Di era modern ini, seringkali muncul jurang dikotomi antara ilmu agama dan umum. Ketiga epistemologi keilmuan Islam ini saling berintegrasi untuk mencari kebenaran. Misalnya, dalam ilmu alam, burhani yang berfokus pada ilmu yang menuntut observasi dan eksperimen, namun kerangka bayani memberikan pedoman etika dan moral yang menjadi batasan serta kompas dalam pengembangannya. Sementara itu, irfani memunculkan pemahaman yang mendalam tentang hikmah ataupun historisitas. Sehingga, menghasilkan ilmu pengetahuan yang mampu menjawab tantangan zaman dan berkontribusi bagi peradaban yang beradab.
Epistemologi keilmuan dalam Islam melalui bayani, burhani dan irfani menjadi sebuah lentera yang menyelamatkan ilmu pengetahuan dari kegelapan krisis spiritualitas dan moralitas. Integrasi harmonis antara kecermatan teks, kekuatan akal, dan pendalaman intuisi memiliki urgensi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Memahami ketiganya bukan hanya menambah wawasan, tetapi mampu memberikan inspirasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan pada harmoni antara wahyu dan akal. Dengan demikian, ilmu pengetahuan akan tumbuh berorientasi pada kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Referensi:
- Hafiz, A., & Rijal, S. (2024). Metodologi Keilmuan Islam: Kajian Epistemologi Terhadap Sumber Pengetahuan. ISME: Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research, 2(1), 33-41.
- Hasyim, M. (2018). Epistemologi Islam (Bayani, Burhani, Irfani). Jurnal Al-Murabbi, 3(2), 217-228.
- Nasution, H. S. (2016). Epistemologi Question: Hubungan Antara Akal, Penginderaan, Intuisi dan Wahyu dalam Bangunan Keilmuan Islam. Almufida: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 1(1).
Biodata Penulis:
Nesa Aprilia saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Matematika, di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.