Di tengah derasnya arus komunikasi digital, IKIP Widya Darma Surabaya terus mengambil peran dalam membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak, santun, dan bertanggung jawab saat menggunakan media digital. Di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Drs. Nur Sukri, M.Si., kampus ini tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga aktif menghadirkan kegiatan edukatif yang relevan dengan persoalan masyarakat masa kini, khususnya terkait etika dalam bermedia sosial dan berkomunikasi di ruang digital.
Upaya tersebut tampak melalui penyelenggaraan webinar bertema “Etika Digital” yang digagas oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Ketua PMB Tahun Akademik 2026–2027, yaitu Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si.. Webinar yang dilaksanakan pada Minggu, 17 Mei 2026 ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memahami bahwa dunia digital bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi juga ruang sosial yang membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kehati-hatian dalam setiap tindakan.
Dalam kegiatan tersebut, dua narasumber dihadirkan untuk memberikan pandangan yang saling melengkapi. Narasumber 1 yaitu Dr. Putri Retnosari, S.S., M.Phil. dari Universitas Negeri Surabaya mengulas etika linguistik dengan menekankan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi, mempengaruhi tindakan, bahkan menimbulkan dampak sosial di ruang digital. Sementara itu, narasumber 2 yaitu Meriana Candra Kurniasari, S.Pd., M.Pd. dari IKIP Widya Darma Surabaya membahas pentingnya etika digital dalam membangun karakter positif di era media sosial, mulai dari sikap bijak sebelum memposting, menjaga jejak digital, menghindari hoaks, menghormati privasi, hingga menjadi warga digital yang cerdas dan bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, dan membangun relasi sosial. Media sosial, aplikasi percakapan, serta berbagai platform digital kini menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, membagikan informasi, dan mengekspresikan diri. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan serius, mulai dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, pelanggaran privasi, hingga penggunaan bahasa yang tidak bertanggung jawab.
Kesadaran inilah yang menjadi titik penting dalam pembahasan webinar bertema Etika Digital, yang menekankan perlunya membangun karakter positif di era media sosial. Melalui dua materi yang saling melengkapi, peserta diajak memahami bahwa etika digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi secara aman, tetapi juga menyangkut cara manusia berpikir, berbicara, dan bertindak di ruang digital.
Materi pertama menyoroti pentingnya etika linguistik dalam komunikasi digital. Dr. Putri Retnosari, S.S., M.Phil. menjelaskan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi, mempengaruhi tindakan, bahkan menimbulkan dampak sosial tertentu. Dalam konteks digital, satu kalimat yang ditulis di media sosial dapat menjadi alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga dapat berubah menjadi bentuk provokasi, hasutan, atau ujaran kebencian apabila digunakan tanpa tanggung jawab.
Etika linguistik menjadi penting karena komunikasi tidak hanya berhenti pada apa yang dikatakan. Dalam kajian tindak tutur, terdapat tiga lapisan penting, yaitu lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Lokusi berkaitan dengan isi ujaran atau apa yang secara langsung dikatakan. Ilokusi berkaitan dengan maksud di balik ujaran tersebut, misalnya mengajak, memengaruhi, atau menghasut. Sementara itu, perlokusi berkaitan dengan dampak yang muncul setelah ujaran diterima oleh orang lain.
Contohnya, kalimat seperti “Kelompok itu malas dan tidak pantas dipercaya” bukan sekadar rangkaian kata. Secara lokusi, kalimat tersebut merupakan pernyataan. Namun, secara ilokusi, kalimat itu dapat bermakna mempengaruhi orang lain agar memandang negatif kelompok tertentu. Secara perlokusi, ujaran tersebut dapat menimbulkan kemarahan, kebencian, ketakutan, atau bahkan diskriminasi. Dengan demikian, bahasa di ruang digital harus digunakan secara sadar karena setiap kata dapat membawa dampak sosial.
Pembahasan tersebut semakin relevan ketika dikaitkan dengan fenomena media sosial saat ini. Kebebasan berpendapat memang menjadi bagian penting dari kehidupan demokratis. Namun, kebebasan tersebut tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab etis. Di ruang digital, pendapat yang disampaikan tanpa kehati-hatian dapat berubah menjadi ujaran kebencian, fitnah, atau informasi menyesatkan. Karena itu, kecerdasan linguistik dan etika komunikasi menjadi bekal penting bagi setiap pengguna media digital.
Materi kedua memperluas pembahasan dengan menekankan pentingnya etika digital sebagai norma, aturan, dan tata perilaku dalam menggunakan teknologi serta media digital. Etika digital mencakup cara berbicara di media sosial, cara menghargai privasi orang lain, cara menyebarkan informasi, serta cara menghormati sesama pengguna internet.
Dalam materi tersebut ditegaskan bahwa dunia digital bukanlah ruang yang terpisah dari dunia nyata. Setiap unggahan, komentar, pesan, dan konten yang dibagikan dapat membawa konsekuensi nyata bagi reputasi pribadi, hubungan sosial, pendidikan, karier, bahkan masa depan seseorang. Jejak digital yang ditinggalkan hari ini dapat muncul kembali di kemudian hari dan menjadi cerminan karakter seseorang di mata publik.
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah perlunya berpikir sebelum memposting sesuatu. Banyak persoalan digital bermula dari tindakan sederhana yang dilakukan tanpa pertimbangan, seperti mengirim pesan saat emosi, membagikan berita tanpa membaca isi secara utuh, menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi, atau menulis komentar spontan tanpa memikirkan dampaknya. Padahal, kata-kata digital dapat menyebar cepat dan meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Etika digital juga menekankan lima prinsip dasar yang perlu dimiliki setiap pengguna media digital, yaitu respect, responsibility, integrity, empathy, dan self-control. Respect berarti menghargai pendapat, perasaan, dan privasi orang lain. Responsibility berarti bertanggung jawab atas setiap unggahan dan komentar. Integrity berarti jujur serta tidak menyebarkan informasi palsu. Empathy berarti mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum menulis atau membagikan sesuatu. Sementara self-control berarti mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing dalam percakapan digital.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi pondasi penting untuk menghadapi berbagai tantangan digital saat ini. Hoaks dan disinformasi, misalnya, masih menjadi persoalan yang sering terjadi di masyarakat. Satu informasi yang salah dapat menyebar ke banyak orang dalam waktu singkat, terutama jika dibagikan tanpa verifikasi. Karena itu, pengguna media digital perlu membiasakan diri untuk memeriksa sumber informasi, membandingkan dengan sumber lain, serta tidak mudah percaya pada judul yang provokatif.
Selain hoaks, cyberbullying juga menjadi tantangan serius. Perundungan di ruang digital dapat terjadi melalui hinaan, ancaman, penyebaran rumor palsu, body shaming, atau tindakan mempermalukan seseorang secara daring. Dampaknya tidak ringan, karena dapat mempengaruhi kesehatan mental, menurunkan rasa percaya diri, dan menimbulkan trauma sosial jangka panjang.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah privasi digital. Tidak semua hal harus dibagikan di internet. Data pribadi seperti nomor telepon, kode OTP, alamat rumah, lokasi terkini, kata sandi, dan informasi rekening harus dijaga dengan baik. Kesadaran menjaga privasi bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menghormati hak orang lain di ruang digital.
Bagi kreator konten, etika digital juga menjadi pedoman dalam berkarya. Konten yang viral belum tentu bernilai. Oleh karena itu, pembuat konten perlu memastikan bahwa karya yang dipublikasikan tidak menjiplak, tidak menyesatkan, tidak menggunakan clickbait berlebihan, tidak menyebarkan kebencian, serta tetap memberi manfaat bagi audiens. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi tempat untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi secara positif.
Kedua materi dalam webinar ini saling melengkapi. Etika linguistik mengingatkan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk sikap dan tindakan sosial. Sementara etika digital memberikan panduan praktis agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Jika keduanya dipadukan, maka pengguna media digital tidak hanya mampu menghindari perilaku negatif, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan positif di ruang maya.
Pada akhirnya, etika digital bukan sekadar aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di internet. Etika digital adalah cerminan karakter. Cara seseorang menulis komentar, membagikan informasi, menjaga privasi, merespons perbedaan pendapat, dan menggunakan bahasa menunjukkan kualitas dirinya sebagai warga digital.
Melalui pemahaman etika digital dan etika linguistik, generasi muda diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, santun, kritis, dan bertanggung jawab. Ruang digital seharusnya tidak menjadi tempat untuk saling menjatuhkan, menyebarkan kebencian, atau memperkeruh keadaan. Sebaliknya, ruang digital perlu dibangun sebagai ruang komunikasi yang sehat, edukatif, produktif, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Dengan demikian, pesan utama dari webinar ini jelas: bijaklah berpikir, bijaklah berbicara, dan bijaklah bertindak di dunia digital. Sebab, satu klik dapat membawa manfaat besar, tetapi juga dapat menimbulkan dampak besar apabila dilakukan tanpa etika.
Penulis:
- Nawang Wulan S.Pd., M.Pd
- Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd
- Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, S.Si., M.Si
Para Penulis merupakan dosen tetap IKIP Widya Darma pada program studi pendidikan: Matematika dan Bahasa Inggris.