Puisi: Ada Celaka di Atas Sana (Karya Mansur Samin)

Puisi “Ada Celaka di Atas Sana” karya Mansur Samin mengangkat kisah mitologis yang hidup dalam kepercayaan masyarakat, khususnya terkait fenomena ...
Ada Celaka di Atas Sana

Jika gelap membuta langit
pribumi teriak sejadinya
mencari lesung, memukul kaling:
Ada celaka di atas sana!

Maka sebuah kisah
yang tetap terpelihara:
Ketika sendiri Siratubulan
dipinang oleh Sihitammalam
karena paras jelek selalu
cinta ditolak hati menjauh

Mendengar cinta telah ditampik
tersenyum riang Simatahari
lalu bertolak memula langkah
membawa jampi dan doa-doa
kerena rayu yang memabukkan
jatuh terpikat Siratubulan

Tinggal terasing Sihitammalam
ditolak cinta buruk bagian
dari pedih merungrung hati
ingin membunuh Simatahari

Digoda dendam diamuk duka
sibuk mencari kemana sembunyi
di taman yang penuh bunga-bunga
dua teruna asik bercinta
tentang kasih yang diuji
tentang rizki hidup sejoli

Dari ujung awan bergumpal kelabu
melayang gaib Sihitammalam mencekau:
daripada hidup malu di dunia
kubunuh kelian berdua!!

Menjerit Siratubulan
ingat diri jadi rebutan
sambil bersangsai dan meratap
merangkul dua teruna
apakah ahirnya
jika bersibunuhan cuma karena cinta?

Dibimbang kasih dan maut menanti
menjawab Simatahari:
apa salahnya bagi dunia
dua kasih hidup bersama
dua jiwa dipadu cinta?

Oleh dendam kesumat
menghardik Sihitammalam:
sebuah janji harus diikat
selama aku masih ada di dunia
jangan di depanku kelian bercinta!

Jika kelian asik bercinta
apa jadinya jiwaku sengsara
hidup dalam kecewa
gelaplah hati
gelaplah seluruh bumi
tak ada siang
menyinar alam

Janjipun diikat
buat selamanya
jangan ada celaka di atas sana
agar dunia sejahtera
agar pengisinya bahagia

Begitu masih tersebar
kepercayaan pribumi Makassar
dari kisah cinta
tiga teruna
yang menjadikan gelap di dunia
yang menjadikan gerhana.

Sumber: Horison (Januari, 1969)

Analisis Puisi:

Puisi “Ada Celaka di Atas Sana” mengangkat kisah mitologis yang hidup dalam kepercayaan masyarakat, khususnya terkait fenomena alam seperti gerhana. Melalui narasi simbolik, penyair menggabungkan unsur legenda, konflik emosional, dan pesan moral yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah konflik cinta yang berujung pada dendam dan konsekuensi kosmis, serta penjelasan mitologis terhadap fenomena alam (gerhana).

Puisi ini bercerita tentang kisah cinta segitiga antara Siratubulan, Simatahari, dan Sihitammalam. Awalnya, Siratubulan menolak cinta Sihitammalam karena penampilannya. Penolakan ini membuat Sihitammalam tersakiti dan diliputi dendam. Di sisi lain, Simatahari berhasil memikat hati Siratubulan hingga keduanya menjalin hubungan.

Merasa tersisih dan terluka, Sihitammalam berusaha membalas dendam dengan mengancam dan bahkan ingin membunuh pasangan tersebut. Konflik ini kemudian menghasilkan kesepakatan: hubungan mereka tidak boleh dipertontonkan di hadapannya.

Dari kisah inilah muncul kepercayaan bahwa pertemuan atau “tabrakan” antara matahari dan bulan (yang memicu gerhana) adalah akibat konflik tersebut.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • Siratubulan, Simatahari, dan Sihitammalam merupakan personifikasi benda langit (bulan, matahari, dan kegelapan).
  • Dendam Sihitammalam melambangkan emosi negatif yang dapat merusak keseimbangan.
  • Gerhana menjadi simbol gangguan atau konflik yang terjadi akibat ketidakharmonisan.
  • Janji yang diikat mencerminkan upaya menjaga keseimbangan dunia.
Puisi ini menyiratkan bahwa ketidakseimbangan emosi manusia (seperti cinta dan dendam) dapat membawa dampak besar, bahkan secara simbolik terhadap alam semesta.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini beragam, antara lain:
  • Dramatis dan tegang saat konflik memuncak.
  • Sendu dan penuh luka pada bagian penolakan cinta.
  • Mistis dan sakral karena berkaitan dengan kepercayaan tradisional.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Dendam dan rasa sakit hati dapat membawa kehancuran.
  • Cinta yang tidak terbalas harus disikapi dengan bijak.
  • Keharmonisan sangat penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
  • Legenda dan kepercayaan tradisional mengandung nilai moral yang dalam.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat dan simbolik:
  • Imaji visual: langit gelap, awan kelabu, matahari, bulan.
  • Imaji suasana: ketegangan, ancaman, kesedihan.
  • Imaji mitologis: tokoh-tokoh langit yang bertindak seperti manusia.
  • Imaji dramatis: adegan ancaman dan ratapan.
Imaji-imaji ini memperkuat nuansa legenda dan memperjelas konflik yang terjadi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: matahari, bulan, dan malam bertindak seperti manusia.
  • Metafora: gerhana sebagai akibat konflik cinta.
  • Simbolisme: tokoh-tokoh sebagai representasi benda langit.
  • Hiperbola: ancaman yang berdampak pada seluruh dunia.
Puisi “Ada Celaka di Atas Sana” karya Mansur Samin merupakan karya yang memadukan legenda dan nilai moral. Melalui kisah cinta segitiga yang tragis, puisi ini tidak hanya menjelaskan fenomena alam secara simbolik, tetapi juga mengajarkan pentingnya mengendalikan emosi dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan.

Mansur Samin - Horison
Puisi: Ada Celaka di Atas Sana
Karya: Mansur Samin

  • Mansur Samin mempunyai nama lengkap Haji Mansur Samin Siregar;
  • Mansur Samin lahir di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara pada tanggal 29 April 1930;
  • Mansur Samin meninggal dunia di Jakarta, 31 Mei 2003;
  • Mansur Samin adalah anak keenam dari dua belas bersaudara dari pasangan Haji Muhammad Samin Siregar dan Hajjah Nurhayati Nasution;
  • Mansur Samin adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.