Puisi: Atas Kabut (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Atas Kabut” karya Abdul Hadi WM menghadirkan suasana batin yang penuh misteri serta pencarian makna kehidupan dan keberadaan manusia.
Atas Kabut

Atas kabut: ambang angan kita dan desir
Desir angin, desir daun, desir racun dan turun
bayang-bayangmu — Mengapa detik itu gemuruh
seakan jatuh ombak demi ombak dari dinding
Di rongga-rongga yang mengendap ini dan risik dan gelap
Dan seseorang yang berbisik pelahan-lahan
membisikkan laut, malam dan mimpi kita yang tak ada
Membisikkan kemarau dan hujan
Antara lampu-lampu berpercikan awan pun rintik
Antara nama-nama yang berjatuhan cinta pun bisik
Menghablur yang tak jadi luruh
Dan antara sauh dan sumbu-sumbu lampu jatuh
Kudengar suaramu berangkat, Tuhan
dan kata-kata tak kuucapkan

Tapi siapa antara daun berisik
antara hujan ricik
antara kabut gemersik

Atas kabut: ambang angan kita dan desir
Desir angin, desir daun, desir racun dan tak tersisihkan
Belantara yang memberangkatkan rembang itu
lalu ruang yang memutih seperti sedia kala
Kita tak tahu di mana ....

1971

Sumber: Meditasi (2000)

Analisis Puisi:

Puisi “Atas Kabut” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi yang sarat nuansa spiritual, filosofis, dan simbolik. Dengan menggunakan gambaran kabut, desir angin, hujan, laut, dan bisikan, penyair menghadirkan suasana batin yang penuh misteri serta pencarian makna kehidupan dan keberadaan manusia.

Puisi ini tidak bercerita secara langsung, melainkan mengalir melalui simbol-simbol yang mengajak pembaca masuk ke dalam ruang perenungan tentang kehidupan, Tuhan, dan ketidakpastian eksistensi manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup dan pengalaman spiritual manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang ketidakpastian, misteri kehidupan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada dalam suasana berkabut, baik secara nyata maupun simbolis. Kabut menjadi ruang antara kenyataan dan angan-angan, tempat manusia mendengar desir angin, suara hujan, dan bisikan-bisikan kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia penuh misteri dan ketidakpastian. Kabut menjadi simbol ketidakjelasan hidup, batas antara kenyataan dan angan, serta keterbatasan manusia dalam memahami nasib dan keberadaan dirinya.

Bisikan tentang laut, malam, hujan, dan mimpi menunjukkan suara batin atau pengalaman spiritual manusia yang sulit diterjemahkan dengan bahasa biasa. Sementara frasa “Kudengar suaramu berangkat, Tuhan” menyiratkan hubungan manusia dengan Yang Ilahi yang terasa dekat tetapi juga samar.

Puisi ini juga menunjukkan bahwa manusia sering hidup dalam pencarian makna tanpa pernah benar-benar menemukan jawaban yang pasti.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Hening.
  • Mistis.
  • Reflektif.
  • Melankolis.
  • Penuh misteri.
Pilihan kata seperti “kabut”, “gelap”, “bisik”, dan “ruang yang memutih” memperkuat nuansa spiritual dan kontemplatif.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari keterbatasannya dalam memahami kehidupan. Ketidakpastian dan misteri merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus diterima dengan kesadaran dan perenungan.

Puisi ini juga mengajak manusia untuk lebih peka terhadap suara batin, alam, dan hubungan spiritual dengan Tuhan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji visual: Tampak pada gambaran kabut, ombak, lampu-lampu, awan, hujan, dan ruang memutih.
  • Imaji pendengaran: Sangat kuat melalui kata “desir”, “bisik”, “gemuruh”, dan “ricik”.
  • Imaji perasaan: Puisi menghadirkan rasa bingung, hening, dan pencarian spiritual.
  • Imaji gerak: Tampak pada ombak yang jatuh, bayang-bayang yang turun, dan suara yang berangkat.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas repetisi: Pengulangan kata “desir” dan frasa “Atas kabut” memperkuat suasana puitis dan ritmis.
  • Majas personifikasi: Bayang-bayang digambarkan dapat turun dan suara Tuhan terasa “berangkat”.
  • Majas metafora: Kabut menjadi metafora ketidakjelasan hidup dan pencarian makna.
  • Majas simbolik: Laut, hujan, malam, dan kabut menjadi simbol pengalaman batin dan spiritual manusia.
  • Majas hiperbola: “Gemuruh seakan jatuh ombak demi ombak dari dinding” memperkuat kesan emosional dan dramatis.
Puisi “Atas Kabut” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi filosofis yang menghadirkan renungan tentang kehidupan, ketidakpastian, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan simbol kabut, desir angin, dan bisikan alam, penyair menciptakan suasana hening dan penuh misteri. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa hidup adalah perjalanan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti, tetapi tetap harus dijalani dengan kesadaran dan perenungan batin.

Puisi: Atas Kabut
Puisi: Atas Kabut
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.