Puisi: Gaung di Badan (Karya Esha Tegar Putra)

Puisi “Gaung di Badan” karya Esha Tegar Putra menyiratkan bahwa manusia tidak dapat lepas dari suara batinnya sendiri. Suara itulah yang membentuk ...
Gaung di Badan

sekiranya suara itu tak menggaung dalam badanku
suara yang himbau-menghimbau, menjagakan tidur
bahkan membuat geletar di lamunanku – geletar emak
yang menyauk gelegak air nasi, tersebab tangisku
lengking di kering air dadanya – takkan jadi ini puisi

bukankah aku tualang di tajam lidah hikayat berpisau
mematah risau yang memucuk tumbuh cerita baru?
kuraut batang bermiang, rindu berkasih. juga tubuh
berminyak air ini kugulai sebagai hidangan, peneman
para tuan dan nona di lepau, sambil bergelak-tawa
aku tak bersilat lidah di nasibku yang tidak
cuma merindu, tentang kampung, lalu lalang
orang orang bingung di jejalanan, koridor dan
ruang kelas. di mana percakapan mengenai waktu
selalu digenangi kopi dan keripik ubi

sekiranya suara tak menggaung dalam badanku
puisi tak akan mau berkekasih.

Kandangpadati, 2007

Sumber: Pinangan Orang Ladang (Frame Publishing, 2009)

Analisis Puisi:

Puisi “Gaung di Badan” karya Esha Tegar Putra merupakan puisi yang menggambarkan hubungan antara pengalaman hidup, kenangan, dan lahirnya puisi. Penyair menghadirkan suara-suara batin yang terus bergema dalam dirinya, mulai dari ingatan tentang ibu, kampung halaman, hingga kehidupan sehari-hari. Semua pengalaman itu kemudian menjadi sumber terciptanya puisi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah proses lahirnya puisi dari pengalaman hidup dan ingatan batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kerinduan terhadap kampung halaman, keluarga, dan identitas diri.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa bahwa puisi lahir karena adanya “suara” yang terus menggaung dalam dirinya. Suara tersebut berasal dari pengalaman masa kecil, kenangan terhadap emak, kehidupan kampung, hingga percakapan sehari-hari di lingkungan sosial.

Penyair menggambarkan dirinya sebagai “tualang”, pengembara yang hidup di tengah cerita, kerinduan, dan kenyataan hidup. Pengalaman itu kemudian diolah menjadi puisi. Tanpa suara-suara batin tersebut, puisi tidak akan tercipta atau “mau berkekasih”.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa karya sastra lahir dari pengalaman emosional dan pergulatan hidup manusia. Puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan gema dari kenangan, penderitaan, kerinduan, dan pengalaman sosial yang tersimpan dalam diri seseorang.

Kenangan tentang emak yang “kering air dadanya” dapat dimaknai sebagai simbol perjuangan dan kasih sayang seorang ibu. Sementara gambaran tentang kampung, lepau, kopi, dan keripik ubi menunjukkan kedekatan penyair dengan akar budaya dan kehidupan sederhana.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia tidak dapat lepas dari suara batinnya sendiri. Suara itulah yang membentuk identitas dan kreativitas seseorang.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa reflektif, akrab, dan sedikit melankolis. Ada nuansa kerinduan terhadap masa lalu dan kampung halaman, tetapi juga terasa hangat melalui gambaran kehidupan sehari-hari seperti percakapan di lepau sambil menikmati kopi dan keripik ubi.

Di beberapa bagian, suasana menjadi lebih emosional ketika penyair menyinggung tangisan masa kecil dan perjuangan emak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang ingin disampaikan penyair adalah bahwa pengalaman hidup, kenangan, dan suara hati merupakan sumber penting dalam berkarya dan memahami diri sendiri. Puisi lahir dari kejujuran batin dan kedekatan manusia dengan pengalaman hidupnya.

Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk tidak melupakan akar kehidupan, keluarga, dan kampung halaman, karena semua itu membentuk identitas seseorang.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:

Imaji pendengaran, misalnya:

“suara yang himbau-menghimbau”
“tangisku lengking”

Pembaca seolah mendengar suara-suara tersebut.

Imaji visual, misalnya:

“emak yang menyauk gelegak air nasi”
“percakapan mengenai waktu selalu digenangi kopi dan keripik ubi”

Gambaran ini membuat suasana terasa nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Imaji gerak, misalnya:

“kuraut batang bermiang”
“orang orang bingung di jejalanan”

Larik-larik ini menghadirkan kesan dinamis.

Imaji perasa, misalnya:

“rindu berkasih”

Menunjukkan emosi kerinduan yang mendalam.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:

Personifikasi, misalnya:

“puisi tak akan mau berkekasih”

Puisi digambarkan seperti manusia yang bisa menjalin hubungan cinta.

Metafora, misalnya:

“suara itu tak menggaung dalam badanku”

Suara di sini melambangkan kenangan dan pergolakan batin.

Hiperbola, misalnya:

“mematah risau yang memucuk tumbuh cerita baru”

Digunakan untuk menegaskan kuatnya pergulatan batin penyair.

Puisi “Gaung di Badan” karya Esha Tegar Putra memperlihatkan bahwa puisi lahir dari gema pengalaman hidup yang tersimpan dalam diri manusia. Dengan bahasa yang kaya simbol dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, penyair berhasil menghadirkan kerinduan, kenangan, dan pergulatan batin secara mendalam. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa karya sastra sejatinya tumbuh dari suara hati dan pengalaman manusia itu sendiri.

Esha Tegar Putra
Puisi: Gaung di Badan
Karya: Esha Tegar Putra

Biodata Esha Tegar Putra:
  • Esha Tegar Putra lahir pada tanggal 29 April 1985 di Saniang Baka, Kabupaten Solok, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.