Guntur
geledeg ... geledeg ...
Kutunggu lama
belum jua jatuh
hanya guntur
menggentarkan udara
Maka mari putuskan saja
: 'kau kuhantam balak enam
dan kau mati tertelungkup!
6 Januari 1947
Sumber: Panca Raya (Juli, 1947)
Analisis Puisi:
Puisi “Guntur” karya P. Sengodjo merupakan puisi pendek yang sarat ketegangan dan emosi. Dengan pilihan kata yang singkat namun keras, penyair menghadirkan suasana ancaman, kemarahan, dan keputusan yang meledak seperti bunyi guntur itu sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemarahan, ancaman, dan keputusan tegas terhadap sesuatu yang menimbulkan ketegangan berkepanjangan. Selain itu, puisi ini juga dapat dimaknai sebagai tema keberanian mengambil tindakan setelah lama berada dalam situasi yang penuh tekanan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu sesuatu terjadi, diibaratkan seperti bunyi guntur yang menggelegar tetapi belum juga “jatuh”. Ketegangan itu akhirnya memunculkan keputusan keras untuk mengakhiri keadaan tersebut dengan tindakan brutal.
Bagian akhir puisi memperlihatkan ledakan emosi melalui ancaman langsung: “kau kuhantam balak enam dan kau mati tertelungkup!”. Kalimat ini menunjukkan puncak kemarahan dan keputusan tanpa kompromi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap ancaman atau ketakutan yang hanya menggema tanpa kepastian. Guntur yang hanya “menggentarkan udara” dapat dimaknai sebagai simbol ancaman kosong atau situasi yang menekan tetapi tidak kunjung selesai.
Puisi ini juga dapat ditafsirkan sebagai gambaran emosi manusia yang terus dipendam hingga akhirnya meledak menjadi tindakan agresif.
Selain itu, bunyi guntur bisa menjadi simbol konflik batin, ketegangan sosial, atau amarah terhadap keadaan tertentu.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa tegang, keras, dan penuh amarah. Bunyi “geledeg” sejak awal puisi langsung membangun nuansa mencekam dan mengintimidasi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa ketegangan yang dibiarkan terlalu lama dapat berubah menjadi ledakan emosi yang berbahaya. Puisi ini juga mengingatkan bahwa ancaman tanpa penyelesaian hanya akan memperbesar rasa gelisah dan kemarahan.
Imaji
Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Imaji pendengaran, tampak jelas pada bunyi “geledeg ... geledeg ...” yang menghadirkan suara guntur.
- Imaji gerak, terlihat pada gambaran menghantam dan tubuh yang “mati tertelungkup”.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa tegang, takut, dan marah.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
- Onomatope, pada kata “geledeg ... geledeg ...” yang menirukan suara guntur.
- Metafora, guntur dapat dimaknai sebagai simbol ancaman atau kemarahan.
- Personifikasi, pada ungkapan “guntur menggentarkan udara” yang memberi kesan aktif pada bunyi guntur.
Puisi “Guntur” karya P. Sengodjo adalah puisi singkat dengan kekuatan emosi yang besar. Melalui simbol guntur dan bahasa yang keras, penyair menggambarkan ketegangan yang akhirnya berubah menjadi ledakan kemarahan. Walaupun sederhana dalam bentuk, puisi ini memiliki daya ekspresi yang kuat dan meninggalkan kesan mencekam bagi pembaca.
Karya: P. Sengodjo
Biodata P. Sengodjo:
- P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
- Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
