Puisi: Jejak Angin pada Pasir (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Jejak Angin pada Pasir” karya Wayan Jengki Sunarta menggambarkan pencarian batin seseorang yang dipenuhi kegelisahan hingga akhirnya sampai ...
Jejak Angin pada Pasir

telah kuakarkan gelisah
pada nadi laut
hingga menghunjam kalbu bumi
dan aku menari nari memacu ombak
menjaring mentari yang terlelap
di pembaringan gulita

jukungku berlayar tanpa gairah
menyusuri jejak angin dan pasir
yang terlena di tengah percakapan purba
dan sayap sayap kabut
menyesatkan mataku yang papa
hingga aku terdampar di pesisir-Mu

1993

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Jejak Angin pada Pasir” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan nuansa kontemplatif yang kuat melalui simbol laut, angin, pasir, dan perjalanan perahu. Puisi ini menggambarkan pencarian batin seseorang yang dipenuhi kegelisahan hingga akhirnya sampai pada suatu titik penyerahan diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan pergulatan batin manusia dalam menemukan arah hidup serta kedekatan dengan Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menanamkan kegelisahannya ke “nadi laut” hingga ke “kalbu bumi”. Penyair kemudian melakukan perjalanan dengan jukung atau perahu kecil yang berlayar tanpa gairah. Dalam perjalanan itu, ia mengikuti jejak angin dan pasir yang penuh misteri, melewati kabut yang menyesatkan pandangan, hingga akhirnya terdampar di “pesisir-Mu”.

Kata “Mu” pada akhir puisi memberi kesan bahwa perjalanan tersebut bermuara kepada Tuhan atau suatu kekuatan spiritual yang lebih tinggi.

Makna Tersirat

Puisi ini menggambarkan perjalanan manusia yang dipenuhi kegelisahan, kebingungan, dan pencarian makna hidup. Laut dan ombak menjadi simbol luasnya kehidupan, sedangkan kabut melambangkan ketidakjelasan arah dan persoalan hidup yang membuat manusia tersesat.

Akhir puisi menunjukkan bahwa setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, manusia akhirnya kembali kepada Tuhan sebagai tempat terakhir untuk bersandar dan menemukan ketenangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa sendu, hening, dan reflektif. Ada nuansa kegelisahan sekaligus kepasrahan yang perlahan muncul hingga akhir puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kehidupan manusia adalah perjalanan panjang yang penuh pencarian. Dalam perjalanan itu, manusia bisa mengalami kebingungan dan kehilangan arah. Namun pada akhirnya, manusia akan mencari tempat kembali yang memberi ketenangan batin, yaitu Tuhan atau nilai spiritual yang diyakini.

Puisi ini juga mengajarkan pentingnya memahami diri sendiri di tengah gelombang kehidupan yang tidak menentu.

Imaji

Beberapa imaji yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Imaji visual: “menjaring mentari yang terlelap”, “sayap sayap kabut”, “terdampar di pesisir-Mu”. Pembaca dapat membayangkan suasana laut, kabut, dan perjalanan perahu secara jelas.
  • Imaji gerak: “aku menari nari memacu ombak”, “jukungku berlayar tanpa gairah”. Larik ini memberikan kesan pergerakan yang dinamis namun juga melelahkan.
  • Imaji perasaan: “telah kuakarkan gelisah” menggambarkan perasaan resah yang mendalam.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “mentari yang terlelap”, “sayap sayap kabut menyesatkan mataku”. Mentari dan kabut diberi sifat seperti makhluk hidup.
  • Metafora: “nadi laut”, “kalbu bumi”. Laut dan bumi digambarkan memiliki bagian tubuh manusia untuk memperkuat makna emosional.
  • Simbolisme: Laut, angin, pasir, dan jukung menjadi simbol perjalanan hidup manusia.
  • Hiperbola: “menghunjam kalbu bumi” menggambarkan kegelisahan yang sangat dalam dan besar.
Puisi “Jejak Angin pada Pasir” karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perjalanan batin manusia. Dengan simbol-simbol alam yang kuat, penyair menunjukkan bagaimana manusia berhadapan dengan kegelisahan, kehilangan arah, dan pencarian spiritual hingga akhirnya menemukan tempat kembali yang memberi kedamaian.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Jejak Angin pada Pasir
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.