Ketika Dipisahkan
Ketika kulit terpisah dari daging-daging apakah masih bisa dikenali kelaminmu
Yang tumbuh di kota-kota di dalam baju dan celana yang koyak, yang lupa
Akan kemana engkau berpijak membagi jejak kepada angin yang terus mendesir
Ketika akal dipisahkan dari segumpal otak masih adakah kesadaran yang
Bersemayam di dalam tubuh, di aliran darah, urat-urat saraf sebuah kesunyian
Mungkin kau tak mengenali lagi, karena senja telah sembunyi di balik malam
Ketika lidah terpisah dari kata-kata yang sakral masih adakah kalimat yang
mempunyai makna bagi kita, seorang manusia yang fana, buta dan tak berdaya
tak ada lagi, tak ada dari kita yang bisa mengingat dan mengucap sebuah musim
yang panjang, yang daun-daunnya jatuh berserakan di dalam masa silam.
2017
Sumber: Air Mata Topeng (2017)
Analisis Puisi:
Puisi "Ketika Dipisahkan" karya Irawan Sandhya Wiraatmaja menggambarkan pemisahan yang melibatkan bagian-bagian tubuh dan aspek-aspek kehidupan, serta pertanyaan-pertanyaan tentang identitas, kesadaran, dan makna dalam konteks pemisahan tersebut.
Metafora Pemisahan Tubuh: Penyair menggunakan metafora pemisahan fisik seperti kulit dari daging, akal dari otak, dan lidah dari kata-kata untuk menyampaikan pesan tentang pemisahan yang menyakitkan dan mengganggu dalam kehidupan manusia. Hal ini menggambarkan perasaan kehilangan identitas dan kebingungan yang muncul ketika bagian-bagian penting dari diri kita dipisahkan.
Pertanyaan Eksistensial: Puisi ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang kesadaran, identitas, dan makna. Misalnya, apakah kesadaran masih ada ketika akal terpisah dari otak? Apakah makna masih ada ketika lidah terpisah dari kata-kata? Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah pembaca untuk merenungkan esensi dari eksistensi manusia dan hubungan antara bagian-bagian tubuh dengan kesadaran dan identitas.
Kesunyian dan Kehilangan: Penyair mengekspresikan kesunyian dan kehilangan yang terasa begitu dalam saat pemisahan terjadi. Metafora senja yang tenggelam di balik malam menciptakan gambaran tentang kegelapan dan kehilangan yang mendalam ketika sesuatu yang berharga hilang atau terpisah dari kita.
Keterbatasan Manusia: Puisi ini juga menggambarkan keterbatasan manusia dalam menghadapi pemisahan dan kehilangan. Manusia dianggap sebagai makhluk yang fana, buta, dan tak berdaya dalam menghadapi kompleksitas dan kebingungan hidup.
Simbolisme Masa Silam: Penutup puisi yang mengacu pada musim yang panjang dan daun-daun yang jatuh berserakan di masa silam memberikan gambaran tentang kerentanan manusia terhadap waktu dan kenangan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun masa lalu bisa diingat, namun pemisahan dapat mengaburkan dan bahkan menghapus kenangan tersebut.
Puisi "Ketika Dipisahkan" karya Irawan Sandhya Wiraatmaja adalah sebuah refleksi mendalam tentang pemisahan, kehilangan, dan eksistensialisme manusia. Dengan penggunaan metafora yang kuat dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menantang, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan esensi dari identitas, kesadaran, dan makna dalam konteks pemisahan dan kehilangan.
Karya: Irawan Sandhya Wiraatmaja
Biodata Irawan Sandhya Wiraatmaja:
- Irawan Sandhya Wiraatmaja adalah nama pena dari Dr. Mustari Irawan, M.P.A.
- Mustari Irawan lahir pada tanggal 21 Juni 1959 di Jakarta.
