Puisi: Lagu Bulan (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Lagu Bulan” karya Abdul Hadi WM menunjukkan bahwa manusia sering merasa asing, kesepian, dan kehilangan arah meskipun telah mengenal ilmu, ...
Lagu Bulan

Sajak-sajak Li Po, buku-buku Nietzsche
Bakal jadi apa
Dalam kamar yang kukutuk sebagai dia

Bowo mengajakku pergi lagi
Pergi lagi
Dengan rambut kusut
Angin berkabut
Keriuhan kota yang undur
Dalam mata hati kami yang tak pernah mau tidur:

    Tuhan, kami adalah piatu
    Bulan yang dingin
    Menghampar bayangan rumah
    Yang ditinggalkan
    Di tengah malam buta

Lewat jembatan
Gang-gang yang melelahkan pikiran
Lagu “Don’t believe….”. Dan
Bunyi langkah kaki kami
Menindas malam yang celaka

Bowo bicara keras dan ketawa
Meneguk bier-nya lagi
Mentertawakan udara yang hampa:

    Tidakkah Tuhan juga bersedih
    Mencarikan nabi buat kita?

Sajak-sajak Li Po, buku-buku Nietzsche
Bakal jadi apa
Dalam kamar yang kukutuk sebagai dia

Kami yang tersaruk pergi lagi
Dan rumah kami di awan.

1971

Sumber: Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)

Analisis Puisi:

Puisi “Lagu Bulan” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi yang menggambarkan kegelisahan batin, keterasingan, dan pencarian makna hidup di tengah kehidupan kota yang penuh kehampaan. Penyair memadukan unsur sastra, filsafat, perjalanan malam, dan dialog spiritual dalam suasana yang melankolis dan reflektif.

Puisi ini menghadirkan perjalanan fisik sekaligus perjalanan batin manusia yang merasa kehilangan rumah, arah, dan pegangan hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan eksistensial dan pencarian makna hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesepian, keterasingan, spiritualitas, dan kehidupan manusia modern yang penuh kehampaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kegelisahan manusia modern yang kehilangan arah hidup dan merasa terasing dari dunia maupun dirinya sendiri.

Bulan yang dingin melambangkan kesepian dan kehampaan batin. Perjalanan malam menjadi simbol pencarian makna hidup yang tidak pernah selesai. Sementara itu, referensi terhadap Li Po dan Friedrich Nietzsche menunjukkan pencarian intelektual dan filosofis yang tetap belum mampu menghapus kegelisahan manusia.

Puisi ini juga menyiratkan kerinduan manusia terhadap kehangatan spiritual dan makna hidup yang lebih dalam.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Muram dan melankolis.
  • Gelisah serta penuh perenungan.
  • Sunyi dan hampa.
  • Kontemplatif serta filosofis.
  • Sedikit liar dan bebas dalam suasana perjalanan malam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini yaitu:
  • Manusia perlu mencari makna hidup secara lebih mendalam, bukan hanya melalui kesenangan sesaat.
  • Kehidupan modern dapat membuat manusia merasa asing dan kesepian.
  • Pengetahuan dan filsafat penting, tetapi tidak selalu mampu menjawab seluruh kegelisahan batin.
  • Manusia membutuhkan pegangan spiritual agar tidak kehilangan arah hidup.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat dan hidup.
Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan suasana kota malam, rambut kusut, gang-gang sempit, dan bulan dingin. Contoh: “Bulan yang dingin / Menghampar bayangan rumah”.
Imaji Auditori: Terlihat dari bunyi langkah kaki, percakapan, dan lagu yang terdengar di malam hari. Contoh: “Dan bunyi langkah kaki kami”.
Imaji Gerak: Puisi ini dipenuhi gambaran perjalanan dan perpindahan. Contoh: “Lewat jembatan/ Gang-gang yang melelahkan pikiran”.
Imaji Perasaan: Puisi menghadirkan rasa sepi, kehilangan, dan kehampaan batin. Contoh: “Tuhan, kami adalah piatu”.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “Rumah kami di awan” merupakan metafora bagi kehidupan yang tidak memiliki kepastian atau tempat pulang secara batin.
  • Personifikasi “Malam yang celaka” memberi sifat manusia pada malam. Contoh: “Menindas malam yang celaka”.
  • Simbolisme: Bulan menjadi simbol kesepian dan keterasingan. Perjalanan malam melambangkan pencarian makna hidup.
Puisi “Lagu Bulan” karya Abdul Hadi WM menggambarkan perjalanan batin manusia modern yang penuh kegelisahan dan pencarian makna hidup. Dengan suasana malam yang muram dan simbol-simbol filosofis, penyair menunjukkan bahwa manusia sering merasa asing, kesepian, dan kehilangan arah meskipun telah mengenal ilmu, sastra, dan pemikiran besar dunia.

Puisi: Lagu Bulan
Puisi: Lagu Bulan
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.