Puisi: Lagu Hujan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Lagu Hujan” karya Gunoto Saparie mengajarkan bahwa alam sering menjadi cermin bagi keadaan hati manusia. Dalam kesunyian, seseorang dapat ...
Lagu Hujan (1)

suara siapakah mendesah dalam hujan?
menderas di halaman dan atap rumah
menciptakan komposisi lagu rawan
di antara gigil dedaunan yang basah

benar, malam ternyata telah larut
gelisah reranting dipermainkan angin
tembang siapakah sayup dan hanyut?
puisimukah mengalun bagai desir rerumputan?

angin pun risau mendesau dalam hujan
makin mengekalkan kesunyian hatiku
makin pula membersihkan cuaca berdebu
Engkaukah membaca ayat-ayat tertahan?

2020

Lagu Hujan (2)

suara hujan mendesah di dedaunan
basah berlinangan pepohonan 
di manakah kicau burung-burung tadi?
adakah menyuruk ke kelam malam sepi?

dan bulan pun sekarang padam 
teriak serak kelelawar menghilang
ketika angin mendesau panjang
seakan melagukan luka rindu dendam

suara hujan risau dan gelisah senantiasa
ada musafir bergegas menembus rinai
ada pengelana datang dan pergi 
makin basah pipi karena derai air mata

2022

Analisis Puisi:

Puisi “Lagu Hujan” karya Gunoto Saparie menghadirkan suasana hujan yang penuh kesunyian, kegelisahan, dan kerinduan. Melalui bunyi hujan, desir angin, serta malam yang larut, penyair menciptakan nuansa puitis yang sarat perasaan batin. Puisi ini tidak hanya menggambarkan alam, tetapi juga menjadi cerminan hati manusia yang diliputi rindu dan kesepian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesunyian, kerinduan, dan kegelisahan batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat hubungan manusia dengan alam sebagai media untuk mengungkapkan perasaan terdalam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hujan menjadi simbol perasaan manusia, terutama kesedihan, rindu, dan kesepian. Hujan tidak hanya hadir sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai suara hati yang tertahan.

Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa manusia sering mengalami perjalanan emosional yang sunyi. Kenangan, kehilangan, dan kerinduan dapat muncul dalam momen-momen hening, seperti ketika malam hujan turun.

Bagian “Engkaukah membaca ayat-ayat tertahan?” juga dapat dimaknai sebagai kerinduan spiritual atau keinginan untuk menyampaikan perasaan yang selama ini dipendam.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa syahdu, sunyi, muram, dan melankolis. Bunyi hujan, desir angin, dan malam yang gelap menciptakan nuansa reflektif yang mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu memahami dan menerima perasaan yang ada dalam dirinya, termasuk kesedihan dan kerinduan.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa alam sering menjadi cermin bagi keadaan hati manusia. Dalam kesunyian, seseorang dapat lebih mengenali perasaan dan makna kehidupan.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:
  • Imaji pendengaran, terlihat pada ungkapan “suara hujan mendesah”, “angin mendesau”, dan “teriak serak kelelawar”.
  • Imaji visual, tampak pada gambaran “dedaunan basah”, “bulan padam”, dan “pepohonan berlinangan”.
  • Imaji gerak, terlihat dalam “musafir bergegas menembus rinai” dan angin yang mendesau panjang.
  • Imaji perasaan, menghadirkan rasa sepi, rindu, gelisah, dan kesedihan mendalam.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, misalnya pada “suara hujan mendesah”, “angin risau”, dan “pepohonan berlinangan”.
  • Metafora, hujan digunakan sebagai lambang kesedihan dan kerinduan.
  • Hiperbola, terlihat pada ungkapan yang memperbesar suasana luka dan rindu.
  • Simbolisme, hujan, malam, dan angin menjadi simbol kegelisahan batin manusia.
  • Repetisi, penggunaan kata “suara hujan” dan “angin” berulang untuk memperkuat suasana puisi.
Puisi “Lagu Hujan” karya Gunoto Saparie adalah puisi yang menghadirkan keindahan suasana hujan sekaligus kedalaman emosi manusia. Dengan bahasa yang lembut dan penuh musikalitas, penyair menggambarkan kesunyian, rindu, dan kegelisahan yang hadir dalam perjalanan hidup. Hujan dalam puisi ini menjadi simbol perasaan manusia yang tidak selalu dapat diungkapkan secara langsung.

Foto Gunoto Saparie Februari 2020
Puisi: Lagu Hujan
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.