Ratu Selatan
Sendiri menunggu kegelapan pantai selatan
perempuan laut, lelah batinmu bersampan
lupa tubuhmu tatahan kulit wayang
berbekal sesaji melonjak bintang-bintang
maka jadilah kau Bintang. Maharani perlambang
kerdip sunyi kunang-kunang di batu karang
Meniti liat ligatnya lidah lelaki
kau Pesona. Tembang sejati, smaradahana
timangan jiwa Sang Dyah Pitaloka
yang haus seloka serta lilit kata pujangga
yang menembus pusar lelaki
dan bersemayam di jantungnya
dan yang pupus porak-poranda
di tangan ksatria Mada
Berderap di atas kereta kuda
dikawal tetabuhan tak kasat mata
menjaga bukit lembah tanah Jawa
engkaulah Sang Ratu. Mawar dupa menyambutmu
di setiap pintu. Namun puteri
jangan takuti anak-anak kami
sepulang mengaji mulut mereka sangatlah wangi
di lidahnya masih bergayut tuah shalawat Nabi
1979
Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)
Analisis Puisi:
Puisi “Ratu Selatan” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi yang kental dengan nuansa mitologis dan kultural Jawa. Melalui simbol “Ratu Selatan”, penyair tidak hanya menghadirkan sosok mistis, tetapi juga menyampaikan refleksi tentang kekuasaan, pesona, dan hubungan manusia dengan tradisi serta spiritualitas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kekuatan dan pesona perempuan dalam balutan mitologi dan budaya. Selain itu, terdapat tema tentang kekuasaan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan dunia gaib.
Puisi ini bercerita tentang sosok perempuan yang diidentifikasi sebagai Ratu Selatan, figur mitologis yang memiliki kekuatan, pesona, dan kekuasaan di wilayah laut selatan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Ratu Selatan sebagai simbol kekuatan feminin yang besar dan misterius.
- Pesona dan kekuasaan dapat memikat sekaligus menghancurkan.
- Budaya dan mitologi memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat.
- Ada batas antara dunia manusia dan dunia gaib, yang perlu dijaga dengan bijak.
- Nilai spiritual (seperti doa dan shalawat) menjadi pelindung dari kekuatan yang tidak kasat mata.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini berlapis, yaitu:
- Misterius dan magis pada bagian awal.
- Megah dan sakral pada bagian tengah.
- Lembut dan penuh harap pada bagian akhir.
Perubahan suasana ini memperkaya makna puisi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
- Manusia perlu menghormati tradisi dan kepercayaan, tanpa kehilangan kesadaran rasional.
- Kekuatan besar harus diimbangi dengan kebijaksanaan.
- Penting untuk menjaga kesucian dan nilai spiritual, terutama dalam kehidupan sehari-hari.
- Ada ajakan untuk tidak takut, tetapi tetap waspada terhadap hal-hal yang tidak terlihat.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji yang kuat dan khas budaya, seperti:
- Imaji visual: “pantai selatan”, “bintang-bintang”, “kunang-kunang di batu karang”, “kereta kuda”.
- Imaji suasana: malam yang sunyi dan magis.
- Imaji simbolik: sesaji, dupa, dan shalawat.
Imaji tersebut membangun atmosfer mistis yang kental.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “perempuan laut”, “bintang” sebagai simbol transformasi.
- Personifikasi: elemen alam yang seolah hidup dan berinteraksi.
- Simbolisme: Ratu Selatan sebagai lambang kekuasaan dan misteri.
- Alusi: penyebutan tokoh seperti Dyah Pitaloka dan Gajah Mada sebagai rujukan sejarah-budaya.
- Kontras: antara kekuatan gaib dan kesucian anak-anak.
Puisi “Ratu Selatan” merupakan perpaduan antara mitologi, budaya, dan refleksi spiritual. Iman Budhi Santosa menghadirkan sosok yang tidak hanya indah dan kuat, tetapi juga kompleks—mewakili daya tarik sekaligus ancaman. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa dalam kehidupan, ada kekuatan-kekuatan besar yang perlu dihormati, namun juga harus dihadapi dengan kebijaksanaan dan nilai spiritual yang kuat.
