Puisi: Senja di Kaliurang (Karya Weni Suryandari)

Puisi "Senja di Kaliurang" menciptakan suasana romantis yang penuh keindahan alam, memadukan elemen senja, kebun mawar, dan kenangan.
Senja di Kaliurang

Sepulang dari kebun mawar suatu senja
kusaksikan engkau  membawa jantungku
dari perjalanan menyusuri relung kesunyian,
sementara seluruh panah kusimpan di langit
            ; bersama kenangan membatu

kau ulurkan sayap putih, hendak membawaku
melintasi  bulan merah jambu. Mencari cahaya
yang dulu berpendaran di udara, terangi rumput
basah dan kilap oleh gerimis.
            : dapatkah kau temukan embun di mataku?

kunikmati kabut tipis dari Merapi, lapis demi lapis
Kita menahan peluk dan dingin, juga sepasang bibir
 yang gelisah, sebab Kaliurang bukan penjaga hasrat
yang bisa patah sekali tebas.  
            : dapatkah kau kembalikan jantungku?

Seribu purnama tak akan menjadikan hati
kita hangus abu, sebab mataku kerap terjaga
sepanjang zaman untuk seluruhmu.

Oktober, 2014

Sumber: Sisa Cium di Alun-Alun (2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Senja di Kaliurang" menciptakan suasana romantis yang penuh keindahan alam, memadukan elemen senja, kebun mawar, dan kenangan. Dalam puisi ini, penyair menggambarkan perasaan cinta yang mendalam dan keinginan untuk bersama di tengah-tengah keindahan alam Kaliurang.

Imaji Kebun Mawar dan Relung Kesunyian: Pembukaan puisi dengan gambaran "kebun mawar" dan "relung kesunyian" memberikan latar belakang untuk suasana puisi. Kebun mawar bisa menjadi metafora untuk keindahan dan keharuman cinta, sedangkan relung kesunyian menciptakan citra keintiman dan kedamaian.

Panah di Langit dan Kenangan Membatu: Metafora "seluruh panah kusimpan di langit" merujuk pada kenangan-kenangan yang tersimpan di langit-langit pikiran. Kenangan tersebut tampaknya memiliki dampak yang mendalam, terlihat dari kata "membatu," yang mungkin mencerminkan keabadian dan kekuatan kenangan.

Sayap Putih dan Bulan Merah Jambu: Gambarkan sayap putih yang membawa ke perjalanan melintasi bulan merah jambu menciptakan citra keindahan dan kelembutan. Bulan merah jambu dapat diartikan sebagai simbol romantis dan kehangatan perasaan.

Kabut Tipis dari Merapi dan Peluk Dingin: Penggambaran kabut tipis dari Merapi membawa elemen realitas dan keberanian. Peluk dingin dan bibir gelisah menciptakan perasaan kehangatan dan keintiman, bahkan di tengah cuaca yang mungkin dingin dan berkabut.

Kaliurang Bukan Penjaga Hasrat: Penyair menyatakan bahwa Kaliurang bukanlah penjaga hasrat yang bisa patah sekali tebas. Ini mungkin mengisyaratkan bahwa keindahan alam dan kenangan tidak selalu dapat menjaga atau melindungi perasaan cinta dari tantangan atau patah hati.

Purnama dan Mata yang Terjaga: Pernyataan tentang seribu purnama tidak menjadikan hati kita hangus abu, melainkan mata yang terjaga sepanjang zaman. Ini menciptakan kesan ketidakabadian perasaan cinta, serta kekuatan pandangan dan pengamatan yang tetap terjaga seiring waktu.

Puisi "Senja di Kaliurang" adalah sebuah karya yang merayakan keindahan alam dan cinta. Melalui imaji-imaji yang penuh warna, penyair berhasil menciptakan suasana romantis yang diwarnai oleh kenangan dan keinginan untuk bersama. Puisi ini tidak hanya menggambarkan perasaan cinta, tetapi juga menghadirkan kekuatan alam dan keabadian kenangan.

Weni Suryandari
Puisi: Senja di Kaliurang
Karya: Weni Suryandari

Biodata Weni Suryandari:
  • Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.