Puisi: Tak Ada Ancaman (Karya Yuswadi Saliya)

Puisi “Tak Ada Ancaman” karya Yuswadi Saliya mengingatkan bahwa ketenangan bukan semata-mata berasal dari tempat, melainkan dari cara manusia ...
Tak Ada Ancaman

saya sedang mencari rumah saat ini,
apa usulmu, hai daun pintu?
saya lupa bahwa daun pintu itu baton daripada rumah;
bagaimanapun
saya sedang mencari rumah sekarang.

rumah itu daerah bagi keajaiban-keajaiban sejarah,
bagi keluarga dan piring-piring dan tumpukan koran,
begitu pada hemat saya;
piring pecah, karena itu, sama dengan kematian seseorang,
keduanya sama membutuhkan hati dan perhatian.
saya akan terus mencari rumah,
ini sulit, tentu saja: ancaman terhadap ketentraman,
sebab setiap orang pun membutuhkan rumah
tempat orang menunda kekalahan terhadap rasa gelisah.

saya melihat sebatang pohon
dengan daun-daunnya yang lebat;
seekor ayam yang mengais bulu-bulunya,
seekor kucing melenggang di dekatnya:
tak ada yang merasa terancam.
saya melihat ayam yang naik bertelur
mengikuti petunjuk jagonya,
tak ada ancaman.
seekor kadal menyelinap di sela benteng-benteng batu,
sangat lancar, sisiknya bersinar memancar-mancar,
kegiatannya luar biasa, tapi tak ada ancaman.

Barangkali sayalah yang mengancam
diri saya sendiri. Mungkin,
mungkin juga.

Sumber: Horison (Februari, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi “Tak Ada Ancaman” karya Yuswadi Saliya menghadirkan refleksi eksistensial tentang pencarian “rumah” sebagai simbol ketenangan batin. Melalui sudut pandang orang pertama, puisi ini tidak sekadar membicarakan tempat tinggal secara fisik, tetapi juga ruang psikologis yang mampu meredakan kegelisahan manusia.

Tema

Pencarian ketenangan hidup dan kesadaran diri dalam menghadapi kegelisahan eksistensial.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang mencari “rumah” sebagai tempat ketenteraman. Dalam perjalanannya, ia merenungkan makna rumah sebagai ruang kehidupan, keluarga, dan kenangan sehari-hari. Ia juga membandingkan dunia manusia yang penuh kecemasan dengan alam yang tampak hidup tanpa rasa terancam.

Makna Tersirat

Rumah dalam puisi ini bukan hanya bangunan, melainkan simbol psikologis dari rasa aman, stabilitas, dan makna hidup. Pencarian rumah menunjukkan kegelisahan manusia modern yang sulit menemukan ketenangan dalam dirinya sendiri.

Kontras antara manusia yang gelisah dan alam yang “tenang tanpa ancaman” menyiratkan bahwa sumber kegelisahan sering kali bukan dunia luar, tetapi pikiran manusia itu sendiri.

Imaji

  • Imaji visual: piring, koran, rumah, pohon, ayam, kucing, kadal.
  • Imaji gerak: ayam mengais, kucing melenggang, kadal menyelinap.
  • Imaji suasana: ketenangan alam yang kontras dengan kegelisahan batin manusia.

Majas

  • Personifikasi: “daun pintu itu bagian daripada rumah” memberi sifat seolah pintu memiliki kesadaran atau peran aktif.
  • Simbolisme: “rumah” melambangkan ketenangan batin dan rasa aman.
  • Perbandingan/analogi: “piring pecah sama dengan kematian seseorang” menunjukkan kesetaraan makna antara benda dan kehidupan emosional manusia.
  • Ironi: alam tampak damai tanpa ancaman, sementara manusia justru merasa terancam oleh pikirannya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini mengingatkan bahwa ketenangan bukan semata-mata berasal dari tempat, melainkan dari cara manusia memaknai hidup dan mengelola pikirannya. Kegelisahan sering kali diciptakan oleh diri sendiri, sehingga manusia perlu berdamai dengan dirinya untuk menemukan “rumah” yang sesungguhnya.

Puisi “Tak Ada Ancaman” pada akhirnya adalah refleksi tentang rumah sebagai ruang batin—tempat manusia berhenti melawan dirinya sendiri dan mulai memahami bahwa ancaman terbesar sering kali berasal dari dalam diri.

Yuswadi Saliya
Puisi: Tak Ada Ancaman
Karya: Yuswadi Saliya

Biodata Yuswadi Saliya:
Juswadi Saliya lahir pada tanggal 15 Juni 1938 di Bandung. Sejak SMA ia sudah mulai menulis, mula-mula pada lembaran-lembaran remaja lalu pada majalah-majalah kebudayaan seperti Basis.

Ia tamat sebagai sarjana arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1966 dan direkrut sebagai staff di ITB pada saat itu. Kemudian mengajar Sejarah Arsitektur dan Ilmu-Ilmu Sosial. Ia mendapat gelar master dari University of Hawaii pada tahun 1975.
© Sepenuhnya. All rights reserved.