Bimbel SD dalam Wajah Pendidikan Indonesia

Benarkah bimbel SD membantu anak berkembang? Mari telaah bagaimana tuntutan akademik, keluarga, dan masyarakat membentuk masa kecil mereka.

Oleh Raphaella Her Sahasika

“Mbak, istirahat 6 menit, ya,” ucap Reno, seorang anak berusia delapan tahun yang mengikuti kelas bimbingan belajar di dekat rumahnya. Sebagai kakak tentor, aku tersenyum dalam bimbang. Haruskah aku mengizinkan Reno dan teman-teman sekelasnya untuk bermain sebentar di luar kelas, atau sebaiknya aku larang mereka untuk bermain karena ini adalah jadwal les mereka? Hal ini menjadi sebuah dilema yang menjadi makanan sehari-hariku. Aku hadir di kelas itu untuk membimbing proses belajar mereka. Waktu yang disisihkan untuk mengajar pun dihargai dengan lembaran rupiah yang berasal dari kerja keras orang tua mereka. Selama satu setengah jam kami menjalankan dinamika belajar-mengajar, mematuhi jadwal kelas yang sudah terbentuk setiap dua kali seminggu, dan mengejar materi yang terbalut dalam kurikulum di sekolah. Berbagai persoalan ini menjadi gemuruh tersendiri di dalam batinku tatkala memikirkan kata-kata yang harus kulontarkan untuk menjawab permintaan serupa dari anak-anak Bimbel. Namun, seketika redalah gemuruh batinku saat mendengar tawa, melihat senyuman ceria, dan merasakan derap kaki yang berlarian kesana kemari setelah aku mengizinkan mereka bermain.

SD

Selain bergelut dalam secuil perjalanan pendidikan anak-anak, aku juga sedang menempuh studi dalam bidang antropologi. Dari perspektif antropologi, pendidikan tidak hanya diartikan sebagai proses mentransfer ilmu. Pendidikan dimaknai sebagai praktik sosial yang dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti budaya, nilai, dan tuntutan masyarakat. Bercermin dari kenyataan bahwa anak-anak SD sering kali meminta istirahat di tengah waktu belajar saat Bimbel, menunjukkan suatu cuplikan permasalahan terkait dengan budaya pendidikan di Indonesia. Ada apa dengan budaya pendidikan kita sehingga fenomena Bimbel SD kian marak? Memang pada mulanya Bimbel adalah bentuk pendidikan nonformal yang menyediakan akses pendidikan di luar sekolah formal dan bermaksud mendampingi peserta didik dalam menghadapi evaluasi tahap akhir pada setiap jenjang sekolah. Bimbel, yang umumnya diminati oleh peserta didik kelas 3 SMA, telah bermetamorfosis menjadi berbagai macam layanan pendidikan, seperti Bimbel CPNS dan aplikasi Bimbel Online. Hal tersebut memperlihatkan kemampuan Bimbel dalam merespons kebutuhan masyarakat, tak terkecuali dengan Bimbel SD. Artinya, kehadiran Bimbel SD bukan suatu yang kebetulan, tetapi menandakan permasalahan dalam pendidikan SD.

Meminjam kacamata Kneller, pendidikan ditinjau melalui dua arti. Dalam arti luas, pendidikan meliputi setiap proses yang berperan membentuk pikiran, karakter, atau kapasitas fisik seseorang. Sementara dalam arti sempit, pendidikan adalah penanaman pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada masing-masing generasi dengan menggunakan pranata-pranata, seperti sekolah-sekolah formal. Berefleksi dari definisi ini, pendidikan berhubungan dengan cara suatu masyarakat untuk bertahan dan berkembang lewat pengalaman sehari-hari, yang sering kali disebut pendidikan tradisional. Di Indonesia, pendidikan telah menjadi tanggung jawab negara sehingga ia dijadikan alat untuk menyesuaikan kebutuhan negara pula. Ketika negara sedang berfokus pada penguatan industri sebagai landasan pencapaian kesejahteraan rakyat, maka pendidikan pun diorientasikan pada arah yang selaras. Sebagaimana diungkapkan oleh Freire, bahwa pendidikan tidak pernah netral dan berhubungan dengan siapa yang “berkuasa” di negara tersebut.

Pendidikan di Indonesia telah bergeser dari pendidikan tradisional menjadi pendidikan non tradisional. Pendidikan non tradisional, menurut Laksono, membawa beberapa implikasi, diantaranya adalah sistem pendidikan tradisional mulai ditinggalkan, muncul pola hidup baru, terciptanya standar kemampuan baru, dan pada akhirnya menjauhkan komunitas dan masyarakat dari kemampuan untuk menjawab permasalahannya sendiri. Lahirnya “logika baru” di balik pendidikan ini membuat pendidikan tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari tetapi berasosiasi dengan hal-hal global, dan berkaitan dengan sekolah saja. Pendidikan di Indonesia yang merespons kebutuhan industri memberikan dampak yang kompleks. Sekolah diarahkan untuk menyiapkan lulusan siap kerja di sektor industri, yang terlihat dari budaya pendidikan dengan sistem skoring. Pendidikan kemudian lebih condong pada kompetisi dan produktivitas daripada pengembangan kesadaran kritis serta kemanusiaan. Realita tersebut menimbulkan refleksi kritis tentang apakah tujuan belajar semata-mata untuk bekerja di sektor industri sehingga pendidikan menjauh dari tujuan hakikinya, yakni membentuk manusia yang merdeka. Seperti dikatakan Paulo Freire, pendidik dari Brazil, pendidikan seharusnya menjadi sarana pembebasan yang mampu memanusiakan manusia dan menumbuhkan kesadaran kritis terhadap realitas sosial.

Kehadiran Bimbel SD memperlihatkan bahwa orientasi pendidikan yang berfokus ke sektor industri telah diinternalisasi oleh masyarakat. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai ruang tumbuh kembangnya anak. Pendidikan telah memprioritaskan pada target, nilai, dan standar tertentu. Sementara itu, aspek lain seperti kreativitas, kecerdasan emosional, dan potensi diri anak yang unik cenderung ditempatkan sebagai hal yang kurang penting. Narasi pendidikan tersebut memengaruhi cara masyarakat memandang anak-anak. Anak-anak diposisikan sebagai individu yang harus terus meningkatkan performa, mencapai target tertentu, dan mampu memenuhi standar kompetensi yang tinggi. Bisa diasumsikan bahwa Bimbel SD lahir untuk memenuhi ekspektasi masyarakat, terutama terkait dengan pasar kerja dan industri. Bimbel SD dipandang sebagai solusi kekhawatiran orang tua mengenai prestasi akademik, serta menjadi bukti cerminan budaya pendidikan kompetitif.

Ketika Bimbel SD dianggap sebagai solusi untuk menjawab persoalan, kehadirannya juga menimbulkan persoalan yang lain juga. Persoalan ini dapat dilihat melalui empat sudut pandang, yakni lingkup sekolah, keluarga, anak, dan masyarakat. Di lingkup sekolah, terdapat sebuah tanda tanya tentang sejauh mana peran sekolah mampu memenuhi kebutuhan belajar anak. Tampaknya, sekolah tidak cukup kapabel untuk membuat anak memahami materi pembelajaran sehingga Bimbel hadir mengisi kekosongan ruang yang ada. Ditambah lagi, sekolah juga memiliki budaya kompetisi yang tinggi. Terdapat narasi bahwa apabila anak itu memiliki prestasi yang bagus di sekolah, ia juga akan berhasil dalam kehidupannya setelah sekolah. Narasi yang tertanam ini otomatis membentuk budaya persaingan dalam ruang kelas, yang turut mendukung keberadaan Bimbel SD sebagai kebutuhan pendidikan.

Di lingkup keluarga, motivasi atau alasan orang tua mendaftarkan anaknya ke Bimbel SD berhubungan dengan status ekonomi serta pola pikir keluarga tentang pendidikan. Dari status ekonomi, keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas cenderung mempunyai tuntutan kerja yang tinggi. Mereka tidak mempunyai cukup waktu mendampingi proses belajar anak, dan Bimbel diposisikan sebagai alternatif pendampingan belajar. Adapun keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah cenderung menganggap pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Mereka menaruh harapan apabila anaknya “pintar”, lantas bisa mendapatkan pekerjaan yang pasti dengan gaji tinggi, maka keluarga akan terangkat dari kemiskinan atau meningkat taraf kehidupannya. Di sini, Bimbel diposisikan sebagai penunjang ekonomi. Namun demikian, ada kalanya orang tua mengikutkan anaknya ke Bimbel dengan alasan selain pendidikan itu sendiri. Keputusan orang tua juga dapat berkaitan dengan pencarian pengakuan sosial, di mana orang tua menganggap prestasi anak sebagai kebanggaan dan simbol keberhasilan dalam mendidik anak.

Melalui sudut pandang anak, persoalan bisa diuraikan dari tingkat kesediaan anak dalam mengikuti Bimbel. Apakah anak-anak benar-benar mengikuti Bimbel karena terdapat motivasi belajar, paksaan dari orang tua, atau tekanan dari lingkungan sosial dalam pertemanannya? Selain itu, kehadiran Bimbel dalam keseharian anak-anak menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana mereka menjalani masa kanak-kanak di tengah jadwal yang semakin padat. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, atau mengeksplorasi lingkungan perlahan tergantikan dengan aktivitas akademik yang terstruktur. Apabila aktivitas akademik merupakan fokus utama dalam kehidupan, bagaimana anak memaknai dirinya sendiri? Hal ini penting untuk dilihat lebih jauh mengingat anak-anak merupakan pengguna dari Bimbel dan menjadi pusat perhatian dalam melihat dinamika pendidikan. Jika kehidupan anak dipenuhi oleh perihal sekolah, bimbingan belajar, dan berbagai target akademik, di manakah letak agensi mereka? Kapan mereka memiliki kesempatan untuk membuat keputusan sendiri, mengeksplorasi minat, mengembangkan potensi, dan menikmati masa kanak-kanak?

Terakhir, persoalan dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat. Maraknya Bimbel SD memunculkan pertanyaan tentang bagaimana anak dipersepsikan oleh masyarakat. Apakah anak dipandang sebagai investasi masa depan? Apa jadinya jika anak disuguhi materi pembelajaran secara intens tanpa memiliki ruang dan waktu untuk menumbuhkan motivasi belajar secara alami? Permasalahan tersebut tentu berhubungan dengan orientasi pendidikan yang berfokus pada sektor industri. Budaya pendidikan tersebut menjadi penyebab prestasi akademik dikaitkan dengan ukuran keberhasilan anak. Selain itu, terdapat permasalahan lain yang lebih urgent. Dengan terpakainya rentang waktu untuk menjalani jadwal sekolah dan Bimbel, nilai-nilai apa yang sedang diwariskan kepada anak-anak? Apa saja hal-hal yang ditanamkan dalam pemikiran anak-anak ketika mereka dituntut untuk selalu mengejar kehidupan akademik? Secara tidak sadar, anak-anak terlatih untuk mengejar kehidupan akademik demi meraih keberhasilan, terbiasa hidup dalam persaingan, dan terabaikan dari pendidikan karakter yang tumbuh melalui keluarga dan komunitas.

Fenomena Bimbel SD merupakan secuil kenyataan yang memperlihatkan wajah pendidikan di Indonesia dan bagaimana masyarakat mencoba bertahan dalam sistem yang terus berubah. Keberadaan Bimbel SD merupakan dinamika yang sekaligus menyisakan perenungan panjang tentang kebebasan anak-anak untuk menjadi diri mereka sendiri, kemampuan belajar membuat keputusan tentang pilihan dan tujuan hidup, serta kesadaran untuk menyelesaikan secara mandiri permasalahan diri dan lingkungan mereka. Kini, aku memahami bahwa permintaan seorang anak untuk beristirahat itu bukanlah hal yang sederhana. Permintaan yang terasa polos ternyata menyimpan realitas tentang hubungan banyak unsur dalam masyarakat, hubungan antara pendidikan dan sekolah, keluarga, masyarakat, serta anak itu sendiri. Permintaan itu merupakan representasi dari kerinduan anak dalam mengungkapkan kebutuhannya untuk menjadi dirinya sendiri.

Referensi:

  1. Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Continuum.
  2. Kneller, G. F. (1965). Educational anthropology: An introduction. Wiley.
  3. Laksono, P. M. (2016). Antropologi pendidikan: Aneh, biasanya tidak apa-apa. Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Raphaella Her Sahasika

Biodata Penulis:

Raphaella Her Sahasika, seorang mahasiswa Antropologi Budaya yang menaruh perhatian pada isu pendidikan dan studi anak. Pengalamannya sebagai tentor Bimbel SD membuatnya banyak mempertanyakan bagaimana masyarakat memaknai pendidikan, prestasi, dan masa kanak-kanak di Indonesia.

© Sepenuhnya. All rights reserved.