Dua Puluhan yang Goyah: Ketika Harapan Orang Lain Lebih Besar dari Suara Diri Sendiri

Bingung menentukan arah hidup di usia muda? Yuk simak mengapa anak pertama lebih rentan mengalami quarter life crisis dan cara menghadapinya.

“Quarter life crisis bukan sekadar tren anak muda yang cengeng. Ini adalah krisis identitas nyata yang tumbuh subur di bawah tekanan ekspektasi, khususnya bagi mereka yang lahir sebagai anak pertama.”

Pernahkah kamu tiba-tiba terbangun di tengah malam, bertanya-tanya apakah hidup yang sedang kamu jalani ini benar-benar hidupmu atau bahkan hanya sekadar versi yang diterima oleh orang-orang di sekitarmu?

Quarter Life Crisis

Ada sebuah fase hidup yang tidak diajarkan di bangku sekolah, tidak tertulis dalam buku panduan orang tua, dan bahkan tidak pernah dibicarakan secara terbuka di ruang keluarga: quarter life crisis. Ia datang diam-diam, biasanya di usia dua puluhan, ketika seseorang seharusnya "sudah tahu mau ke mana." Namun kenyataannya malah banyak dari kita justru berdiri di persimpangan yang buram, tidak tahu arah, dan merasa bersalah karena tidak tahu arah itu.

Saya adalah anak pertama. Dan seperti banyak anak pertama lainnya, saya tumbuh di bawah beban yang tidak terlihat namun terasa setiap hari yaitu, beban menjadi contoh, beban menjadi harapan, dan beban menjadi bukti bahwa orang tua berhasil mendidik. Sejak kecil, saya sering memikirkan kalimat-kalimat yang terasa seperti kompas sekaligus rantai "aku adalah kakak, dan aku harus bisa," atau sekadar tatapan kosong yang berbicara lebih keras dari kata-kata.

Permasalahan sekarang bukanlah pada niat. Bahkan orang tua, keluarga besar, lingkungan sekitar mereka tidak melakukan hal yang jahat. Tekanan itu lahir dari rasa sayang yang dikemas dalam bahasa ekspektasi. Namun ketika ekspektasi datang bertubi-tubi dan lebih keras dari bisikan hati sendiri, perlahan-lahan seseorang kehilangan kemampuan untuk mengenali suaranya sendiri. “Apa yang saya inginkan? Apa yang benar-benar membuat saya hidup, bukan sekadar bertahan?”

Quarter life crisis, dalam pembahasan ini, bukan soal drama atau lemahnya mental generasi muda. Ini adalah respon dari jiwa yang merasa lelah berlari di jalur yang bukan jalur seharusnya. 

Penelitian Luluk Masluchah, Wardatul Mufidah, dan Uti Lestari menunjukkan bahwa fase ini nyata dan terukur, mahasiswa yang memiliki konsep diri rendah terbukti lebih rentan mengalami krisis di seperempat kehidupannya. Mereka cenderung mudah goyah ketika dihadapkan pada pilihan besar, kehilangan arah saat ekspektasi eksternal tidak selaras dengan keinginan internal, dan mengalami krisis identitas yang berlangsung lebih lama. Artinya, semakin lemah seseorang mengenal dirinya sendiri, semakin dalam lubang kebingungan yang ia masuki.

Beban ini terasa dua kali lipat lebih berat bagi mereka yang lahir sebagai anak pertama, karena mereka tidak hanya menanggung krisis dirinya sendiri, tetapi juga harapan seluruh keluarga. Yang membuat quarter life crisis terasa lebih berat adalah kekurangan ruang untuk sekedar tidak tahu. Di saat adik-adik mungkin masih merasa bingung, justru anak pertama dituntut sudah punya jawaban. Tidak ada ruang untuk mengatakan, "Aku belum tahu mau jadi apa." Karena jika diucapkan, itu akan terasa seperti mengecewakan banyak orang sekaligus, termasuk orang tua, keluarga, bahkan adik-adik yang mungkin memandang kita sebagai teladan.

Namun sekarang izinkan saya mengatakan: tidak mengetahui tujuan hidup di usia dua puluhan bukan aib. Itu adalah titik awal dari pencarian yang sesungguhnya. Viktor Frankl, psikiater sekaligus penyintas Holocaust, menulis dalam bukunya Man's Search for Meaning bahwa manusia bukan menemukan makna hidup. Namun, manusia menciptakannya melalui pengalaman, pilihan, dan penderitaan yang dihadapi dengan sadar.

Apa yang kita butuhkan sekarang adalah mengubah cara pandang kita tentang fase ini. Jangan hanya bertanya terkait “kapan lulus?” atau "akan kerja di mana?" bahkan pertanyaan yang sering keluar untuk anak seusia ini adalah “kapan nikah?”, itu adalah pertanyaan yang sangat membuat beberapa orang merasa terbebani. 

Cobalah untuk belajar bertanya, "apakah kamu sedang baik-baik saja?" dan cobalah untuk menunggu jawabannya. Seseorang justru akan lebih cepat berkembang dan menemukan jati diri atau jalan hidupnya jika dia berada di lingkungan yang mendukungnya untuk berproses dari nol, bukan lingkungan yang menuntutnya untuk langsung kelihatan pintar atau sempurna.

Bagi sesama anak pertama yang saat ini sedang membaca tulisan ini sambil merasa sendirian dalam kebingungannya, kamu tidak sendirian. Tekanan yang kamu rasakan itu nyata. Kelelahan itu benar adanya. Dan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui malammu bukan tanda bahwa kamu gagal, melainkan tanda bahwa kamu sedang tumbuh.

Quarter life crisis bukan akhir dari cerita. Ini adalah part yang berat, namun bukan yang terakhir. Dan justru di part inilah, untuk pertama kalinya, banyak dari kita mulai menulis hidup dengan tangan sendiri. Bukan karena tuntutan siapa pun. Tapi karena akhirnya, kita memilih untuk mendengarkan diri sendiri.

Biodata Penulis:

Rifa Rahmy | Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

© Sepenuhnya. All rights reserved.