Meninggalkan Bising Kota Sejenak: Menemukan Sunyi di Balik Kabut Dieng

Ingin sejenak kabur dari rutinitas yang melelahkan? Yuk menepi sejenak ke Dieng dan rasakan sendiri kehangatan yang tersembunyi di balik kabutnya.

Oleh Zulfaa Nuraini

Sebagai anak kota yang kesehariannya selalu dikepung suara bising kendaraan, tumpukan tugas yang nggak ada habisnya, dan drama rutinitas yang bikin gerah, kata healing sering kali cuma jadi wacana di grup WhatsApp. Di tengah sibuknya hari-hari, rasanya waktu berjalan cepat banget tapi sekaligus melelahkan. Sampai akhirnya, di satu titik isi kepala rasanya udah penuh dan jenuh banget sama pemandangan gedung-gedung beton, aku memutuskan buat benar-benar pergi. Tanpa persiapan yang ribet, pilihanku jatuh pada Dieng, sebuah dataran tinggi di Jawa Tengah yang sering dijuluki sebagai negeri di atas awan. Niatku bener-bener simpel, aku cuma pengen melarikan diri sejenak dari kebisingan kota dan mencari ketenangan yang rasanya makin mahal harganya.

Dieng

Perjalanan menuju ke sana sebenarnya sudah jadi terapi tersendiri buat aku pribadi. Begitu kendaraan mulai menanjak membelah jalanan berkelok menuju Wonosobo, perlahan-lahan hawa panas kota yang membakar kulit digantikan oleh hembusan angin pegunungan yang sejuk. Begitu mendekati gerbang Dieng, AC kendaraan sengaja dimatikan, diganti dengan jendela yang dibuka lebar-lebar. Menghirup udara sedingin itu rasanya magi beda banget; kayak paru-paruku langsung dibersihkan dari sisa-sisa polusi kota yang menyesakkan. Udara segar yang masuk ke dada seolah-olah ngasih tahu kalau petualanganku mencari kesunyian dimulai dari detik ini. Pemandangan di kanan kiri jalan juga mulai berubah, didominasi oleh tebing hijau dan hamparan perkebunan kentang milik warga lokal yang berundak-undak rapi mengikuti lekuk bukit.

Begitu benar-benar menginjakkan kaki di Dieng, hal pertama yang menyambutku adalah kabut tebal yang turun perlahan. Kabut di sini bukan cuma sekadar pemandangan alam biasa, tapi kayak selimut hidup yang bergerak mistis, menelan pelan-pelan jajaran pohon pinus, warung-warung kecil di pinggir jalan, sampai bangunan kuno yang berdiri kokoh di kejauhan. Di saat itulah, keajaiban Dieng mulai bekerja menenangkan jiwaku. Suasana di sekitar mendadak jadi sunyi banget. Nggak ada lagi suara klakson yang bikin emosi, nggak ada bisingnya knalpot, dan nggak ada deru mesin yang biasa kudengar tiap hari. Yang tersisa cuma suara angin yang bergesek halus dengan dedaunan, obrolan santai warga lokal, dan suara langkah kakiku sendiri.

Tujuan pertamaku hari itu adalah Kompleks Candi Arjuna. Berjalan di antara rerumputan hijau yang masih basah oleh embun pagi, bangunan-bangunan batu kuno peninggalan abad kedelapan itu terlihat sangat anggun di balik samaran kabut tipis. Suasana di sekitar candi bener-bener tenang, menciptakan atmosfer sakral yang membuatku terdiam lama. Duduk di salah satu sudut area kompleks sambil memandangi guratan arsitektur sejarahnya, aku merasa ditarik kembali ke masa lalu. Di tempat ini, dinginnya udara Dieng yang mencapai kisaran 10 derajat berpadu sempurna dengan keheningan alam, membuat pikiran yang tadinya semrawut pelan-pelan jadi rileks.

Puas menikmati ketenangan sejarah, aku melanjutkan langkah menuju Kawah Sikidang. Kontras dengan atmosfer di Candi Arjuna, Kawah Sikidang menyuguhkan petualangan sensorik yang benar-benar berbeda. Begitu mendekat, aroma belerang yang pekat langsung tercium di udara, berpadu dengan kepulan asap putih tebal yang membumbung tinggi dari perut bumi. Serunya, sekarang kita bisa menikmati pemandangan kawah utama dari atas jembatan kayu yang panjang dan tertata rapi. Berjalan di atas jembatan ini sambil dikepung asap putih tebal memberikan sensasi seperti sedang melangkah membelah awan. Suara letupan lumpur panas yang bergejolak di dasar kawah seolah menjadi musik pengiring yang menegaskan betapa aktif dan hidupnya alam dataran tinggi ini.

Sore harinya, setelah lelah berkeliling, aku memilih buat menepi di sebuah warung kecil di dekat pemukiman warga. Sambil menggenggam segelas teh hangat yang asapnya mengepul dan menikmati sepiring kentang goreng khas Dieng yang teksturnya lembut dan disajikan masih panas, aku duduk termenung memandangi jalanan yang mulai tertutup kabut malam. Penjual warung, seorang ibu paruh baya dengan kain jarik dan jaket tebal, sesekali melempar senyum ramah yang tulus. Keramahan bersahaja seperti inilah yang membuat atmosfer dingin di tempat ini terasa sangat akrab dan membumi.

Di momen santai itulah aku tersadar akan satu hal penting. Kadang-kadang, kita nggak perlu perjalanan yang serba mewah, mahal, atau pergi jauh banget cuma untuk menyembuhkan rasa lelah dan stres. Kita sebenarnya cuma butuh satu tempat yang bener-bener sunyi untuk bisa berhenti sejenak, menghela napas dalam-dalam, dan mendengarkan isi kepala serta hati kita sendiri tanpa perlu diganggu oleh bisingnya dunia luar. Dieng, dengan segala kabut tebalnya, hawa dingin yang ekstrim, dan kesunyiannya yang menenangkan, telah memberikan ruang pelarian itu dengan sangat sempurna buat aku.

Ketika malam semakin larut dan suhu semakin menurun hingga menusuk tulang, aku tahu kalau petualangan singkat ini akan segera berakhir. Tapi aku nggak merasa sedih sama sekali. Aku pulang ke kota bukan cuma membawa galeri foto yang estetik atau memori tentang tempat-tempat indah yang aku kunjungi. Lebih dari itu, aku membawa pulang sepotong ketenangan batin dan semangat baru yang siap buat menghadapi rutinitas kuliah dan bisingnya kota lagi. Dieng berhasil membuktikan, kalau di balik kabutnya yang dingin, selalu ada kehangatan tersembunyi yang bikin siapapun selalu pengen kembali lagi.

Penulis:

Zulfaa Nuraini lahir pada tanggal 10 Juni 2007 di  Karanganyar. Ia merupakan mahasiswi Teknik Sipil di Universitas Sebelas Maret yang memiliki minat pada manajemen keuangan, koordinasi acara, literasi, dan musik. Berpengalaman mengelola keuangan sebagai bendahara dana kelas serta menjadi koordinator divisi logistik dan konsumsi pada berbagai kepanitiaan berskala besar. Dikenal sebagai pribadi yang teliti, terorganisir, dan mampu bekerja sama dalam tim, ia aktif berkontribusi dalam kegiatan akademik maupun sosial dengan mengedepankan kemampuan administrasi dan komunikasi yang baik.

© Sepenuhnya. All rights reserved.