Oleh Maria Afrila Cahaya
Menurut saya, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan tidak hanya berfungsi untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pendidikan, seseorang dapat mengembangkan potensi dirinya, berpikir kritis, serta mampu menghadapi berbagai tantangan di era modern. Pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga pada pembentukan moral, etika, dan tanggung jawab sosial agar menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak baik.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, moral, dan kemampuan sosial peserta didik. Pendapat ini juga sejalan dengan pemikiran Paulo Freire yang menekankan bahwa pendidikan harus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat. Dengan pendidikan yang berkualitas, diharapkan lahir generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
Pendidikan menjadi tempat paling ampuh dalam membina karakter anak, karena melalui pendidikan seseorang tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang nilai-nilai moral, kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, dan rasa hormat terhadap orang lain. Lingkungan pendidikan yang baik mampu membentuk kebiasaan positif yang akan menjadi bekal bagi anak dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Saya sering merasa sistem pendidikan kita masih terjebak di angka. Sejak SD sampai kuliah, yang diukur cuma seberapa bagus kita menghafal dan menjawab soal. Padahal di dunia nyata, orang yang sukses jarang yang menang karena nilai ujian. Mereka menang karena bisa komunikasi, adaptasi, dan nggak gampang menyerah saat gagal. Kalau pendidikan cuma melatih otak untuk jadi mesin jawaban, kita menghasilkan lulusan yang pintar ujian tapi bingung saat dihadapkan masalah hidup.
Masalahnya, pola ini bikin siswa takut salah. Kelas jadi tempat untuk diam dan mencatat, bukan bertanya dan debat. Padahal rasa ingin tahu dan keberanian salah itu modal paling penting untuk belajar. Guru yang bagus bukan yang nilai semua jawaban benar, tapi yang bikin murid berani bilang “aku nggak ngerti, jelasin lagi.” Sayangnya, sistem kejar target kurikulum sering bikin guru nggak punya waktu untuk itu.
Pendidikan seharusnya bikin manusia jadi lebih manusia. Bukan cuma pintar hitung dan baca, tapi juga peka, punya empati, dan tahu cara hidup bareng orang lain. Kalau tujuannya cuma lulus dan kerja, kita kehilangan makna kenapa sekolah itu ada. Mungkin sudah waktunya kita tanya ulang: kita mendidik anak untuk jadi apa? Jawabannya harus lebih dari sekadar “jadi pegawai dengan IPK tinggi.”
Biodata Penulis:
Maria Afrila Cahaya | Salah satu mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng.