Perbandingan Stilistika dalam Dongeng Anjing Pembayar Hutang dan Cerpen Dua Teman

Yuk simak bagaimana dongeng Anjing Pembayar Hutang dan cerpen Dua Teman menyampaikan nilai moral melalui diksi, majas, dan citraan yang berbeda anak.

Oleh Wulan Darma Putri

Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana penerapan nilai moral dan sosial kepada pembacanya. Dalam majalah Bobo bahasa yang digunakan cenderung sederhana dan mudah dipahami, tetapi mengandung nilai estetik. Dongeng Anjing Pembayar Hutang mengisahkan kesetiaan seekor anjing yang tanpa disadari membantu tuannya melunasi hutang dengan cara yang tidak disangka. Cerpen Dua Teman mengisahkan tentang persahabatan antara Wiwin dan Hira yang selalu bermain kereta api dan kepedulian terhadap kondisi teman yang sedang sakit.

Dua Teman

Pilihan kata dalam dongeng Anjing Pembayar Hutang didominasi oleh diksi yang bersifat naratif. Kata-kata, seperti “hutang”, “jaminan”, “pemilik”, “mengembalikan” menjadi kata-kata yang sering muncul. Diksi tersebut mendukung tema utama cerita yang berhubungan dengan tanggung jawab, kejujuran, dan balas budi yang membuat pembaca anak dapat memahami alur cerita tanpa kesulitan. Di balik itu, cerpen Dua Teman menggunakan diksi yang lebih sederhana di kehidupan sehari-hari anak-anak. Kata-kata seperti “bermain”, “kereta api”, “teman”, “ibu”, “dokter”, dan “sakit” mendominasi isi cerita. Pilihan kata tersebut menciptakan suasana yang akrab karena berkaitan dengan pengalaman yang mungkin pernah dialami oleh pembaca. Dialog dalam cerita ini lebih banyak dibandingkan pada Anjing Pembayar Hutang, kehadiran dalam dialog membuat cerita terasa hidup dan memberikan kesan realistis terhadap hubungan antar tokoh.

Dalam dongeng Anjing Pembayar Hutang, kata-kata yang digunakan lebih menekankan tindakan dan penyelesaian masalah dan lebih berorientasi pada sebuah peristiwa. Sebaliknya, cerpen Dua Teman lebih banyak menggunakan kata yang menggambarkan perasaan, seperti khawatir, senang, dan sedih, serta cerita ini menonjolkan hubungan emosional antar tokoh.

Majas yang paling menonjol dalam dongeng Anjing Pembayar Hutang adalah majas personifikasi. Anjing digambarkan memiliki perilaku yang menyerupai manusia, seperti memahami situasi, mengingat tempat penyimpanan barang, dan membantu menyelesaikan masalah pemiliknya. Jika dipikirkan dengan lebih logis, hewan tidak dapat melakukan tindakan tingkat kesadaran seperti manusia. Tetapi melalui majas personifikasi tokoh Anjing menjadi lebih menarik dan mampu menyampaikan pesan tentang kesetiaan. 

Majas yang ada dalam cerpen Dua Teman ialah majas bersifat ekspresif melalui dialog. Penggunaan kalimat langsung membuat pembaca seolah-olah ikut mendengarkan percakapan antar tokoh. Selain itu, terdapat pula unsur repetisi dalam dialog yang berfungsi untuk menegaskan rasa penasaran, kekhawatiran, dan kepedulian Wiwin terhadap Hira.

Jika dibandingkan, majas dalam dongeng Anjing Pembayar Hutang berfungsi untuk membangun keajaiban cerita dan memperkuat nilai moral. Kemudian majas dalam cerpen Dua Teman digunakan untuk memperkuat hubungan sosial antar tokoh serta menampilkan emosi secara lebih nyata. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penggunaan majas selalu berkaitan dengan tujuan cerita yang ingin dicapai oleh pengarang.

Setelah membandingkan diksi serta majas, aspek citraan menjadi salah satu unsur yang cukup menonjol dalam kedua karya. Dongeng Anjing Pembayar Hutang memiliki citraan visual yang mendominasi keseluruhan cerita. Pembaca dapat membayangkan sosok Bansi, pemilik anjing, lingkungan tempat tinggal mereka, serta gerak-gerik anjing yang mengikuti jejak pencuri. Penggambaran tentang barang-barang yang ditemukan juga memperkuat citraan penglihatan. Terdapat citraan gerak ketika anjing berlari, mengikuti jejak, dan mengantar pemiliknya menuju lokasi tertentu, citraan tersebut membuat alur cerita terasa tidak membosankan.

Citraan visual juga muncul dalam cerpen Dua Teman, terutama melalui penggambaran permainan kereta api, kondisi kamar Hira, dan ketika Wiwin mengunjungi rumah temannya. Pembaca dapat membayangkan rel kereta mainan yang tersusun di lantai serta suasana rumah yang tenang karena penghuninya sedang sakit. Namun, berbeda dengan dongeng pertama, citraan dalam cerpen Dua Teman lebih banyak digunakan untuk mendukung suasana emosional. Gambaran wajah yang pucat, kondisi tubuh yang lemah, dan ekspresi para tokoh membantu pembaca merasakan empati terhadap Hiru.

Cerpen Dua Teman juga menampilkan citraan perasaan yang lebih kuat. Pembaca dapat merasakan rasa khawatir yang dialami Wiwin ketika tidak melihat Hira bermain seperti biasanya. Perasaan lega dan bahagia juga muncul ketika akhirnya diketahui bahwa Hira sedang sakit dan persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik. Citraan emosional seperti ini tidak terlalu dominan dalam dongeng Anjing Pembayar Hutang karena fokus cerita lebih tertuju pada tindakan tokoh.

Dongeng Anjing Pembayar Hutang dan cerpen Dua Teman menunjukkan karakteristik bahasa yang berbeda meskipun sama-sama ditujukan untuk anak-anak. Diksi dongeng Anjing Pembayar Hutang lebih banyak menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan tanggung jawab, kesetiaan, dan penyelesaian masalah, sedangkan cerpen Dua Teman menggunakan diksi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dan hubungan pertemanan. Dari segi majas, dongeng Anjing Pembayar Hutang menonjolkan majas personifikasi dan hiperbola untuk menghidupkan tokoh hewan, sementara cerpen Dua Teman lebih mengandalkan ekspresi dialog untuk memperkuat emosi tokoh. Adapun dari segi citraan dalam dongeng Anjing Pembayar Hutang yang didominasi citraan visual dan gerak, serta citraan pada cerpen Dua Teman yang lebih menonjolkan citraan visual.

Wulan Darma Putri

Penulis:

Wulan Darma Putri, perempuan kelahiran Padang, 14 Februari 2006. Penulis merupakan seorang mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Kini penulis bergiat aktif dalam UKM Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas. Dapat disapa lebih lanjut di akun Instagram @wulandarmaaa_

© Sepenuhnya. All rights reserved.