Surabaya — Sebagai perguruan tinggi yang responsif terhadap tantangan era digital, IKIP Widya Darma Surabaya kembali menghadirkan kegiatan edukatif yang relevan bagi masyarakat. Di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Drs. Nur Sukri, M.Si., kampus ini terus mendorong penguatan literasi, karakter, dan kesadaran kritis dalam menghadapi dinamika ruang digital.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui webinar bertema “Perisai Digital: Seni Melawan Cyber-Bullying dengan Logika & Bahasa”. Kegiatan ini digagas oleh BEM IKIP Widya Darma Surabaya dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu Assoc. Prof. Dr. Edy Suseno, M.Pd., Dosen IKIP Widya Darma, dan Dr. Bagus Waluyo, Dosen Universitas NU Blitar. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pentingnya logika, bahasa santun, literasi digital, dan etika komunikasi sebagai bekal dalam melawan cyber-bullying serta membangun ruang digital yang aman, inklusif, dan bermartabat.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara peserta didik belajar, berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut, ruang digital juga menghadirkan tantangan serius, salah satunya cyber-bullying atau perundungan daring. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga erat dengan cara seseorang menggunakan bahasa, menyusun argumen, merespons komentar, serta menjaga martabat diri dan orang lain di dunia maya.
Isu tersebut menjadi perhatian utama dalam webinar bertema “Perisai Digital: Seni Melawan Cyber-Bullying dengan Logika & Bahasa”. Kegiatan ini menegaskan bahwa perlindungan remaja di ruang digital tidak cukup hanya dilakukan melalui larangan atau pengawasan, tetapi juga melalui penguatan kemampuan berpikir kritis, kecakapan berbahasa, literasi digital, serta kesadaran etis dalam berkomunikasi.
Materi webinar menempatkan cyber-bullying sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja melalui media elektronik untuk menyakiti orang lain. Dalam konteks pendidikan, perundungan daring dapat muncul melalui komentar negatif, ujaran kebencian, penghinaan berbasis identitas, stereotip budaya, hingga serangan terhadap cara seseorang berbicara atau menggunakan bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa cyber-bullying bukan semata-mata persoalan perilaku, melainkan juga persoalan komunikasi dan penggunaan bahasa di ruang digital.
Dampak cyber-bullying terhadap peserta didik tidak dapat dianggap ringan. Materi webinar menjelaskan bahwa perundungan daring dapat menimbulkan kecemasan, frustrasi, hilangnya motivasi diri, depresi, serta rendahnya rasa percaya diri. Pada saat yang sama, korban sering kali mengalami hambatan dalam merespons serangan karena terjebak dalam emosi, rasa takut, atau ketidakmampuan menyusun jawaban yang tepat. Kondisi inilah yang menuntut adanya pendekatan pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian, ketenangan, dan kewibawaan siswa dalam menghadapi tekanan digital.
Salah satu gagasan penting yang diangkat adalah bahasa sebagai perisai digital. Bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat menyampaikan pesan, tetapi juga sebagai instrumen untuk melindungi martabat, membangun hubungan sosial yang sehat, dan meredam konflik. Dalam ruang digital, pilihan kata dapat menjadi jembatan yang menyatukan, tetapi juga dapat berubah menjadi senjata yang melukai. Karena itu, peserta didik perlu dibiasakan menggunakan bahasa yang sopan, inklusif, menghargai perbedaan, serta mampu menunjukkan sikap tegas tanpa menyerang balik.
Pendekatan multikultural dalam pengajaran Bahasa Inggris menjadi salah satu strategi yang relevan untuk membangun ketahanan digital peserta didik. Melalui pendekatan ini, siswa diajak memahami bahwa perbedaan budaya, bahasa lokal, identitas sosial, dan perspektif global merupakan bagian dari realitas masyarakat modern. Pendidikan bahasa tidak hanya diarahkan agar siswa mampu menyusun kalimat yang benar, tetapi juga agar mereka mampu berkomunikasi secara etis, menghormati keberagaman, dan tidak mudah merendahkan pihak lain karena perbedaan latar belakang.
Dalam materi tersebut, guru Bahasa Inggris diposisikan sebagai fasilitator komunikasi yang inklusif. Guru tidak hanya mengajarkan tata bahasa, kosakata, dan keterampilan berbicara, tetapi juga membimbing siswa memahami makna pesan digital, mengevaluasi informasi daring, membangun jejak digital positif, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis ketika berhadapan dengan konten negatif. Dengan demikian, pembelajaran bahasa dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai toleransi, empati, dan tanggung jawab digital.
Webinar ini juga menyoroti pentingnya logika dan tata bahasa dalam membangun respons yang lebih berwibawa. Melalui pembelajaran grammar, khususnya pola kalimat nominal dan verbal dalam Simple Present Tense, siswa dilatih menyusun pernyataan yang jelas, terstruktur, dan bermakna. Kemampuan menyusun kalimat bukan hanya keterampilan akademik, melainkan juga bagian dari kemampuan mengelola emosi dan merespons situasi secara rasional. Ketika siswa mampu menyatakan keadaan diri, menyampaikan sikap, dan menjelaskan tindakan secara tepat, mereka memiliki bekal untuk tidak mudah terseret dalam konflik digital.
Materi “Membangun Perisai Digital Remaja” juga menekankan adanya pergeseran peran siswa. Siswa tidak lagi dipandang sebagai objek yang tersakiti, tetapi sebagai subjek yang berwibawa. Artinya, siswa perlu dibimbing agar mampu berdiri dengan tenang, memahami persoalan, memilih kata yang tepat, dan merespons tekanan digital dengan cara yang bermartabat. Dalam konteks ini, penguasaan bahasa menjadi bagian dari strategi perlindungan diri.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan, aplikasi text to speech, voice-noting, shadowing, serta kamus digital dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Media tersebut digunakan untuk membantu siswa menulis narasi, melatih pelafalan, mengenali kosakata baru, serta mengelompokkan kata kerja, kata sifat, kata benda, dan kata keterangan. Dengan cara ini, teknologi tidak hanya menjadi ruang yang berisiko, tetapi juga dapat diubah menjadi sarana edukatif untuk membangun kemampuan berpikir, berbahasa, dan bertindak secara positif.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Guru diharapkan dapat menjadi teladan dalam penggunaan teknologi dan bahasa yang etis, membangun motivasi di tengah proses belajar, serta memberi dorongan agar siswa mampu belajar secara mandiri. Prinsip Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani menjadi landasan penting dalam menciptakan pembelajaran yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa yang tangguh di era digital.
Lebih jauh, webinar ini menegaskan bahwa ketahanan digital tidak dapat dibangun secara instan. Ketahanan tersebut harus ditumbuhkan melalui pembiasaan berpikir kritis, komunikasi empatik, kompetensi antarbudaya, dan kewargaan digital. Pembelajaran berbasis diskusi isu sosial, analisis komentar media sosial, berita online, dan percakapan virtual dapat menjadi sarana untuk melatih siswa membaca situasi, memahami konteks, serta membedakan antara kritik, candaan, ujaran kebencian, dan perundungan.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang aman dan multikultural. Guru perlu menjadi model komunikasi digital yang beretika, mendesain pembelajaran yang sensitif terhadap budaya, serta membangun kesadaran siswa mengenai dampak penggunaan bahasa di dunia maya. Bahasa Inggris, dalam konteks ini, tidak hanya hadir sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai sarana membangun toleransi, keamanan digital, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, webinar “Perisai Digital: Seni Melawan Cyber-Bullying dengan Logika & Bahasa” memberikan pesan kuat bahwa melawan cyber-bullying tidak selalu dilakukan dengan membalas serangan. Perlawanan yang lebih bermakna justru hadir melalui kemampuan berpikir jernih, memilih bahasa yang santun, menjaga emosi, menghormati perbedaan, dan membangun komunikasi yang positif.
Di tengah derasnya arus interaksi digital, remaja membutuhkan perisai yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga intelektual dan moral. Logika membantu mereka berpikir tenang, bahasa membantu mereka merespons dengan tepat, dan etika menjaga agar komunikasi tetap manusiawi. Dengan perpaduan ketiganya, ruang digital dapat menjadi tempat belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan, bukan ruang yang melukai dan merendahkan martabat sesama.
Penulis:
- Nawang Wulan, S.Pd., M.Pd.
- Assoc. Prof. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd.
- M. Riadhos Solichin, S.E., S.Pd., M.Pd.
Para penulis merupakan dosen tetap IKIP Widya Darma pada program studi pendidikan: Matematika dan Bahasa Inggris.