Pertobatan Ekologis: Menghapus Dosa Manusia terhadap Alam

Bisakah kita mengaku mengasihi Sang Pencipta sambil membiarkan alam rusak? Mari pahami pentingnya pertobatan ekologis dalam kehidupan beriman.

Oleh Yohanes Don Bosko Sawi

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pemandangan tanah retak dan debu beterbangan saat musim kemarau sudah menjadi kawan sehari-hari. Air bersih sering kali jadi barang mewah yang harus diperjuangkan, dan lahan gersang seolah menjadi latar belakang tak terelakkan dalam hidup kita. Namun, sering kali ada pemandangan kontras yang luput dari perhatian: di dalam rumah ibadah, doa-doa kita melambung tinggi memohon kelimpahan, sementara di luar pintu, bumi yang kita pijak justru sedang menjerit karena dahaga. Ada sekat tebal yang memisahkan antara kesalehan ritual kita dengan keacuhan terhadap realitas lingkungan yang semakin kering kerontang.

Ekologis

Di sinilah teologi kontekstual harus berani membongkar sekat tersebut. Sudah saatnya kita merombak cara pandang iman yang terlalu fokus pada urusan akhirat dan mulai belajar membumi. Kita perlu menyadari secara jujur bahwa krisis lingkungan hari ini, mulai dari pemanasan global hingga kekeringan panjang yang kerap melanda wilayah kita, bukan sekadar fenomena alam atau urusan sains belaka. Secara teologis, ini adalah buah dari dosa struktural manusia terhadap ciptaan Tuhan.

Selama berabad-abad, peradaban kita terjebak dalam paradigma antroposentrisme yang akut. Manusia menempatkan dirinya sebagai pusat semesta. Celakanya, teks-teks suci tentang mandat untuk menguasai dan menaklukkan bumi sering kali dipelintir menjadi surat izin sah untuk mengeksploitasi alam demi keserakahan ekonomi. Alam hanya dipandang sebagai objek atau komoditas siap pakai, bukan sebagai sesama ciptaan yang memiliki hak untuk hidup. Ketika hutan-hutan adat digunduli dan mata air perlahan mati, kita tidak hanya sedang merusak ekosistem, tetapi sedang melakukan pelanggaran iman yang serius.

Oleh karena itu, pendekatan teknokratis seperti regulasi politik atau kampanye lingkungan yang bersifat seremonial tidak akan pernah cukup. Akar masalahnya ada pada spiritualitas kita. Yang kita butuhkan hari ini adalah sebuah pertobatan ekologis (ecological conversion).

Dalam ranah teologis, pertobatan ekologis menuntut perubahan arah hidup secara radikal (metanoia). Jika pertobatan konvensional umumnya hanya mengatur relasi vertikal (manusia dengan Tuhan) dan horisontal (manusia dengan sesama manusia), maka pertobatan ekologis memperluas cakupan itu secara kosmis: pemulihan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Manusia harus turun dari takhta egoisnya sebagai penguasa mutlak dan kembali pada mandat aslinya sebagai penjaga dan perawat kehidupan.

Menghapus dosa terhadap alam harus dimulai dari hal-hal yang paling kontekstual dan dekat dengan keseharian komunitas iman. Institusi agama dan rumah ibadah harus menjadi episentrum gerakan ini. Mimbar-mimbar teologi perlu lebih sering menyuarakan "khotbah hijau" yang menghubungkan teks iman dengan realitas krisis lokal, seperti ancaman kekeringan atau degradasi lahan. Pertobatan ini harus mewujud dalam tindakan konkret: membangun teologi lokal yang menghargai kearifan masyarakat adat dalam menjaga hutan dan sumber air, mereduksi penggunaan plastik, serta mengelola ruang hidup secara berkelanjutan.

Iman yang sejati tidak akan pernah membiarkan buminya merintih kesakitan. Melalui pertobatan ekologis, kita diingatkan bahwa merawat bumi bukan sekadar pilihan aktivisme atau hobi sampingan, melainkan bagian integral dari ibadah kita kepada Sang Pencipta. Menjaga kelestarian alam adalah sebuah panggilan iman yang mutlak sebab mengasihi Pencipta berarti juga harus mengasihi dan menjaga ciptaan-Nya.

Yohanes Don Bosko Sawi

Penulis:

Yohanes Don Bosko Sawi | Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.